BAB II
HAKIKAT PENDIDIKAN
Tujuan Khusus Pelajaran
Setelah
mempelajari Pokok Bahasan ini, mahasiswa diharapkan dapat
1. menjelaskan pengertian pendidikan dalam kaitan belajar
untuk menghadapi perubahan,
2. menjelaskan ilmu pendidikan sebagai cabang ilmu yang berdiri
sendiri,
3. menjelaskan hubungan pendidikan sebagai suatu tindakan
dan pendidikan sebagai suatu ilmu,
4. menjelaskan perbedaan pengertian konsep pendidikan dan
sekolah,
5. menjelaskan pengertian pendidikan sebagai suatu proses sepanjang hayat,
6. menjelaskan komponen-kompoen sistem pendidikan, dan
7. menjelaskan hubungan komponen-komponen dalam sistem
pendidikan.
HAKIKAT PENDIDIKAN
Pembahasan tentang hakikat pendidikan diartikan sebagai kupasan secara
konseptual terhadap kenyataan-kenyataan kehidupan manusia baik disadari maupun
tidak disadari manusia telah melaksanakan pendidikan mulai dari keberadaan
manusia pada zaman primitif sampai zaman
modern (masa kini), bahkan selama masih ada kehidupan manusia didunia
pendidikan akan tetap berlangsung. Kesadaran akan konsep tersebut diatas
menunjukkan bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan. Artinya sebagai
pertanda bahwa manusia sebagai makluk
budaya yang salah satu tugas kebudayaan itu tampak pada proses pendidikan
(Syaifullah,1981). Padangan tentang pendidikan sebagai gejala kebudayaan akan
meletakkkan dasar-dasar dalam pendidikan pada: Manusia sebagai makhluk budaya;
Perkembangan pendidikan sejajar dengan perkembangan kebudayaan; dan segala
aktifitas pendidikan tentu harus memiliki kesejajaran tujuan.
Peletakan dasar bahwa mansia sebagai
makhluk budaya merupakan suatu pengakuan hanya manusialah yang berhak disebut
sebagai makhluk berbudaya, karena hanya manusialah yang mampu menciptakan
nilai-nilai kebudayaan dan sekaligus membedakan antara manusia dengan makhkluk
lainnya di dunia ini. Pengakuan manusia sebagai makhluk budaya memiliki
kesamaan pandangan dengan pernyataan yang menyatakan manusia sebaai makhluk
yang dapat dididik (animal educable),
makhluk yang harus dididik (animal
educandum) dan makhluk yang aktif (animal
educandus).
Asas perkembangan pendidikan sejajar dengan perkembangan kebudayaan
menunjukkan bahwa pendidikan selalu dalam keadaan berubah sesuai perkembangan
kebudayaan. Pendidikan merupakan cerminan dari nilai-nilai kebudayaan yang
berlaku sekarang, atau pada saat terterntu. Suatu kenyataan bahwa konsep-konsep pendidikan dapat dipahami
dari aktifitas pendidikan atau institusi-institusi pendidikan. Kesejajaran
perkembangan pendidikan dan kebudayaan ini, mengharuskan adanya dua sifat yang
harus dimiliki pendidikan yaitu bersifat reflektif dan progresif.
Aktifitas pendidikan berlangsung baik secara formal
maupun informal. Baik pendidikan yang formal maupun informal memiliki kesamaan
tujuan yaitu sesuai dengan filsafat hidup dari masyarakat. Pengakuan akan
pendidikan sebagai gejala kebudayaan tidak membedakan adanya pendidikan formal,
informal dan formal, semuanya merupakan aktifitas pendidikan yang seharusnya
memiliki tujuan yang sama. Dari sisi lain dapat dinyatakan bahwa pendidikan
bukan hanya berlangsung di lingkungan sekolah saja, tetapi juga belangsung di
ru lingkungan keluarga dan masyarakat.
Mendasarkan pada uraian diatas maka pembahasan tentang
hakikat pendidikan merupakan tinjauan yang menyeluruh dari segi kehidupan
manusia yang menampakkan konsep-konsep pendidikan. Karena itu pembahasan
hakikat pendidikan meliputi pengertian-pengertian: pendidikan dan ilmu
pendidikan; pendidikan dan sekolah; dan pendidikan sebagai aktifitas sepanjang
hayat. Komponen-komponen pendidikan yang meliputi 1) Tujuan pendidikan, 2)
Peserta didik, 3) Pendidik, 4) Interaksi sfektif antara peserta didik dengan
pendidik, 5) Isi pendidikan, 6) Konteks yang mempengaruhi suasana pendidikan.
PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Pemahaman terhadap konsep pendidikan setidaknya
berorientasi pada dua aktifitas utama yaitu pendidikan sebagai tindakan manusia
sebagai usaha membimbing manusia yang lain (educational
practice), dengan pendidikan sebagai ilmu pendidikan (educational thought). Pendidikan sebagai suatu tindakan sudah
berlangsung lama sebelum orang berfikir tentang bagaimana mendidik. Bahkan
dapat dikatakan pendidikan dalam artian ini sudah ada sejak leberadaan manusia
di dunia ini, sedangkan pendidikan sebagai ilmu baru lahir kira-kira pada abad
19.
Dua pengertian tersebut oleh prof. Gununing dibedakan
dengan dua persitilahan, yaitu Paedagogie
untuk pendidikan dalam artian praktik dan Paedagogiek
untuk ilmu pendidikan atau yang berhubungan dengan teori pendidikan yang
mengutamakan perenungan atau pemikiran ilmiah (Siwarno 1982).
Dari kenyataan tersebut di atas E. H Wilds
menggambarkan :
Education is as old as life itself; … Education,
concious or unconcious, organizes or unorgasized, has always existed, playing
an in area singly role in the drama of human progress………………………………Education took
palse long before anyone thought abaout it; there writing about education long
before was problem of education.
Dalam
kenyataan manusia menunjukkan bahwa pendidikan dalam artian pembimbingan sudah
berlangsung sejak zaman primitif. Kegiatan pendidikan terjadi dalam hubungan
orang tua dengan anak. Orang tua mengajak anak laki-laki pergi kebudayaan
ladang, berburu agar anak memiliki ketrampilan
berladang dan berburu. Seorang ibu membimbing anak untuk bekerja di
lingkungan keluarga, agar anaknya memiliki kemampuan dalam mengurus kehidupan
rumah tangga. Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang lain yang merupakan
aktifitas pendidikan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Dari tinjauan
sejarah pendidikan kelahiran ilmu pendidikan diawali dengan lahirnya
tokoh-tokoh pemikir dalam bidang pendidikan. Pada abad 18 lahirlah tokoh-tokoh
seperti J. A Comeniu, John Locke, Jean Jaques Rousseau, Immanuelkant dan J. J
Pestalozzi. Sedangkan tokoh-tokoh pendidikan abad 19 hingga awal abad 20
diantaranya adalah Herbart, Frobel, Montessori, John Dewey dan
lain-lain.bermula dari pemikir-pemikir tersebut maka ilmu pendidikan terus
berkembang hingga saat ini.
Ilmu pendidikan
atau Paedagogiek adalah teori pendidikan perenungan tentang pendidikan dalam
arti yang luas. Ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
soal-soal yang timbul dalam praktik pendidikan (Brojonegoro, 1986). Ilmu
pendidikan telah berkembang dan memenuhi persyaratan sebagai ilmu pengetahuan
yang berdiri sendiri. Ilmu pengetahuan dapat berdiri sendiri apabila telah
memenuhi persyaratan yaitu 1) memiliki objek sendiri, 2) methode penyelidikan,
3) sistematika, dan 4) tijuan sendiri.
Objek
Ilmu Pendidikan
Ilmu
pendidikan memiliki objek yang menjadi lapangan penyelidikannya yang terdiri
dari objek forma dan objek materi. Objek
forma adalah lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu, sedangkan objek
materi adalah sudut tinjauan dari suatu ilmu. Objek materi dari ilmu pendidikan
adalah manusia,sedang objek formanya adalah kegiatan manusia membimbing
perkembangan manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Ilmu pendidikan
dimungkinkan memiliki objek materi yang sama dengan ilmu pengetahuan lainnya
namun berbeda dalam objek formanya. Dari objek forma inilah ditemukan
permasalahan pendidikan, yang menjadi bahasan suatu ilmu yang disebut ilmu
pendidikan.
Metode
Penelitian Ilmu Pendidikan
Ilmu
pendidikan sebagai ilmu pengetahuan memiliki metode penelitian yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode
tersebut mencakup metode untuk mengumpulkan data maupun metode untuk mengolah
data. Metode
pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi, tes, interview, angket dan
lain-lain. Metode untuk menganalisis data dapat menggunakan data analisis
statistik maupun non statistik. Metode berfikir yang digunakan menganalisis
dapat menggunakan metode induktif ataupun deduktif.
Sistematik
dalam ilmu pendidikan
Sistem
adalah susunan persoalan-persoalan yang teratur, sehingga merupakan suatu
kesatuan yang organis, sehingga antara satu dengan lainnya saling berhubungan
dan tidak dapat terpisahkan. Ilmu pendidikan memiliki persoalan-persoalan yang
terssusun secara sistematis sehingga
merupakan suatu kesatuan yang saling terkait. Terdapat berbagai variasi dalam
komponen sistem pendidikan, namun ada beberapa hal yang selalu ada dalam sistem
tersebut adalah (1) tujuan pendidikan, (2) pendidik, (3) peserta didik,
(4)interaksi pendidikan, dan(5) lingkungan pendidikan.
Tujuan
Ilmu Pendidikan
Dalam
pengembangan ilmu pendidikan memiliki dua tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk
pengembangan suatu ilmu, yang berorientasi pada kebenaran suatu ilmu itu
sendiri. Dengan cara ini akan menghasilkan ilmu teoritis murni yang tidak
menghiraukan kegunaannya dalam praktik. Di samping tujuan tersebut ilmu
pendidikan mengembangkan ilmu yang selanjutnya dapat digunakan dalam praktik
pendidikan sehari-hari. Hal yang demikian ini sering disebut dengan ilmu
bersifat praktis. Artinya teori yang ditemukan
harus berorientasi pada praktik, atau dapat dipraktikan.
PENDIDIKAN DAN SEKOLAH
Dua istilah yang sering dikaburkan,
kalau tidak dipertentangkan adalah pendidikan
dan sekolah (education Vs schooling). Pendidikan dan sekolah dua
konsep yang sulit untuk dipisahkan, karena pada umumnya manusia tidak memandang
perbedaan keduanya. Sebagian besar manusia memandang keduanya merupakan konsep
yang berkesinambungan.
Satu hal yang perlu dipahami bahwa sekolah merupakan bagian dari
pendidikan, yang memiliki peranan penting. Sekolah memiliki kedudukan penting
karena sekolah diperlukan untuk melanjutkan perkembangan suatu masyarakat;
sekolah merupakan sumber utama bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan,
ketrampilan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan masyarakat.
Pendidikan pada sisi lain merupakan suatu konsep yang luas. Sekolah
merupakan bagian dari pendidikan, disamping masih banyak lagi yang termasuk
dalam konsep pendidikan dan berlangsung tidak dalam bentuk pendidikan formal
dengan sistem kelas. Pendidikan dalam artian luasdpt terjadi dimana-mana. Hanya
saja kebiasaan masyarakat jika berbicara tentang pendidikan umumnya memasuki
sekolah. Hal itu pun tidak salah karena pengertian sempit dari pendidikan
adalah persekolahan
Bertolak dari uraian tersebut diatas penggunaan istilah sekolah mengarah
pada pendidikan formal yang berlangsung dalam sekolah. Sedangkan pendidikan
istilah yang digunakan untuk segala pengalaman belajar baik yang terjadi dalam
sekolah maupun diluar sekolah.
John A. Laska, mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut :
Education is one of the most important activities in
which human beings engange. It is by means of the educative process and its
role intransmitting the cultural heritage from one generation to the next that
human societies are able to meintain their existence. But education does more
than just help us to keep the kind of society we already have; it is also one
of the major ways in which people try to change or improve their societies…..
Berdasarkan definisi tersebut di atas, pengertian pendidikan memiliki ciri
sebagai berikut : 1) Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat, 2) Pendidikan
merupakan suatu aktifitas yang terbuka, dan 3) Pendidikan mencakup pengertia
pendidikan formal dan informal.
Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat.
Hanya dalam jangka waktu beberapa jam dari kelahiran,
seorang bayi mulai mengadakan eskplorasi terhadap lingkungannya. Seorang bayi
belajar bahwa menangis akan mendatangkan perhatian orang lain, yang merupakan
pemuasan kebutuhan mereka. Proses pendidikan berjalan sejajar dengan
pertumbuhan individu. Anak-anak belajra bagaimana memberikan respon terhadap
kasih sayang, bagaimana memegang suatu dengan tangan, bagaimana menggerakkan
benda atau orang. Semua aktifitas tersebut bukan hasil pengajaran tetapi mereka
pelajari dari lingkungannya. Dengan demikin tampak bahwa pendidikan akan
berlangsung terus sepanjang hidup manusia.
Pendidikan merupakan suatu aktifitas yang terbuka.
Proses pendidikan dapat terjadi pada berbagai bentuk dan
berbagai situasi dan dengan berbagai pembimbing pengalaman belajar. Pendidikan dapat
bertempat dirumah, dilingkungan tetangga, dijalan, di ladang dan dimana saja.
Pengalaman belajar dapat berasal dari orang tua, saudara, kakek nenek,
televisi, buku-buku, rekaman dan lain-lainnya. Hal itu semua menunjukkan bahwa
pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah saja tetapi dapat terjadi di mana
saja, kapan saja dan dengan siapa saja.
Pendidikan mencakup formal dan informal.
Pendidikan yang terjadi pada situasi
belajar yang berstruktur dikatakan pendidikan formal. Pada masyarakat yang sudah
maju pendidikan semacam ini berlangsung di sekolah dan kita sebut persekolahan.
Lembaga penyelenggara pendidikan mungkin pemerintahan atau lembaga
non-pemerintahan seperti lembaga keagamaan, lembaga sosial lain yang peduli
terhadap pelaksanaan pendidikan. Aktifitas dan kegiatan belajar ditata sercara
terstruktur untuk memenuhi kebutuhan tertentu, yang biasanya diformalkan dalam
bentuk kuikulum.
Sedangkan pendidikan informal
biasanya tidak terstruktur. Pendidikan ini dapat berlangsung pada berbagai
situasi, mungkin dalam keluarga, teman sebaya, pada perjalanan, lingkungan
bermain, tempat kerja dan kelompok-kelompok olah raga. Pendidikan informal yang
paling dominan terjadi pada media masa. Anak-anak dan remaja menghabiskan
sebagian besar waktunya untuk mengikuti program-program televisi pada setiap
minggu. Beberapa pendidik percaya bahwa pengalama yang diprolehnya memberikan
pengaruh yang besar pada pola pemeikrian, sosial dan perkembangan sikap.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan
formal yang bertempat pada suatu lembaga yang diberi nama lembaga sekolah.
Pendidikan formal atau sekolah diikuti setelah anak-anak dipersiapkan dalam
pendidikan keluarga, dan lembaga lain yang dibentuk oleh masyarakat untuk
persiapan tersebut. Beberapa ciri sekolah adalah 1) dibatasi oleh waktu , 2)
berorientasi pada kerja, dan 3) memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.
Sekolah dibatasi oleh waktu.
Siswa dibatasi oleh aturan usia
memasuki sekolah, untuk pendidikan dasar pada usia 6 sampai 12/13 tahun.
Pendidikan menengah setelah tamat pendidikan dasr. Perguruan tinggi ditempuh
setelah tamat pendidikan menengah, pendidikan tinggi. Masa belajapun dibatasi
untuk pendidikan dasar selama 9 tahun, pendidikan menengah 3 tahun. Perguruan
tinggi 4 sampai 7 tahun untuk strata satu, dan seterusnya.
Sekolah berorientasi pada kerja.
Fokus dari suatu kurikulum yang
dijabarkan pada pengalaman belajar, diarahkan pada pengetahuan spesifik dan
ketrampilan spesifik untuk memasuki dunia kerja. Beberapa kurikulum sangat
spesifik berorientasi pada satu jenis pekerjaan. Sekolah-sekolah kejuruan
sebgai contoh dari kurikulum yang spesifik. Pada sisi lain kurikulum
mempersiapkan siswa untuk kerja yang berorientasi pada kebutuhan masa depan.
Sekolah memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.
Mungkin karakteristik ini yang
membedakan antara sekolah denan pendidikan lainnya. Suatu kurikulum sekolah
telah didesain dengan tujuan yang spesifik dan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan tersebut direncakana dan ditata sehingga pengalaman belajar
dapat berlangsung dan bermakna. Hal ini tentunya berbeda dengan pendidikan yang
tidak direncanakan secara specifik dan pengalaman belajarpun akan terjadi
diluar perhitungan atau mungkin tidak bermakna.
PENDIDIKAN BERLANGSUNG SEPANJANG HIDUP (LIFE PROSES)
Konsep pendidikan yang dikemukakan
oleh Prof. De. M.J Langeveld, yang membatasi proses pendidikan dari mulai anak
mengerti dan mengakui akan kewibawaan sampai pada anak/manusia tunduk kepada
kewibawaannya sendiri, yaitu telah mencapai taraf kedewasaan tidak dapat sepenuhnya
diterima. Hal ini didasrkan pada konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas
pada pendidikan formal di sekolah, dan tidak pula dibatsi oleh waktu dan umur
anak. Konsekuensi pandangan pendidikan sebagai gejala kebudayaan membwa dampak
pada pengakuan bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hidup dan kehidupan
manusia.
Pandangan tersebut diatas sejajar
dengan gagasan dasar pendidikan yang
harus dikonsepsikan secara formal sebagai proses yang terus menerus dalam
kehidupan individu, mulai masa kanak-kanak sampai dewasa (Cropley, 1974). Hal
ini didukung oleh pendapat Stephens (1987) belajar dan mengajar adalah
peristiwa wajar yang terjadi pada makhluk manusia secara terus-menerus
berlangsung dengan cara yang spontan bahkan tanpa disadari melaukannya. Karena
itulah belajar harus didukung dan dibantu dari buaian sampai dewasa.
Kenyataan bahwa manusia berkembang
melalui proses pendidikan, melahirkan suatu pandangan bahwa pendidikan pada
dasarnya sebagai pelayanan untuk membantu pengembangan personel sepanjang
hidup. Hal ini didasari adanya perubahan sosial masyarakat yang diakibatkan
oleh kemajuan teknologi, perubahan pekerjaandan tuntutan kebutuhan orang
dewasa, kesemuanya semakin menuntut peranan pendidikan sepanjang hayat. Artinya
pendidikan yang berlangsung terus menerus, tidak hanya pada pendidikan formal
(sekolah) saja.
KOMPONEN-KOMPONEN PENDIDIKAN.
Setelah membahas konsiep-konsep
dasar pendidikan, timbullah pemikiran tentang hal-hal apakah yang terdapat
dalam proses pendidikan. Perhatian pada proses terjadinya pendidikan
mengarahkan pada pemikiran tentang komponen-komponen pendidikan. Komponen
merupakan bagian dari suatu sistem yang meiliki peran dalam keseluruhan
berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan
berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil
dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat diaktan
bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan
komponen-komponen tersebut.
Komponen-komponen yang memungkinkan
terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik minimal terdiri
dari 6 komponen, yaitu 1) tujuan pendidikan, 2) peserta didik, 3) isi
pendidikan, dan 6) konteks yang memepengaruhi suasana pendidikan. Berikut akan
diuraikan satu persatu komponen-komponen tersebut.
Tujuan Pendidikan.
Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar
tentu berarah pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia yang
bersifat dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan
pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normatif dan praktis.
Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah;
norma-norma dan atau ukuran tingkahlaku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan
oleh manusia. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau
pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku
perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh
lembaga pendidikan danpendidik dalam suatu masyarakat (Syaifulah, 1981).
Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai tingkah laku
perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan mutakhir pendidikan tergantung pada
nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai
tingkahlaku manusia akan menjiwai tingkahlaku pendidikan dan sekaligus akan
menentukan tujuan pendidikan manusia.
Langeveld mengemukakan jenis-jenis
tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak lengkap, tujuan
sementara, tuuan kebetulan dan tujuan perantara. Pembagian jenis-jenis tujuan
tersebut merupakan tinjauan dari luas dan sempit tujuan yang ingin dicapai.
Urutan hirarkhis tujuan pendidikan
dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar mulai dari 1) Cita-cita
nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945), 2) Tujuan Pembangunan Nasional
(dalam Sistem Pendidikan Nasional), 4) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat
pendidikan/sekolah), 5) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata
pelajran atau kuliah), dan 6) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua
yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. Denga demikian
tampak keterkaitan antara tujuan instruksional yang dicapai guru dalam
pembelajaran dikelas, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber
dari falsafah hidup yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
Peserta Didik
Perkembangan konsep pendidikan yang
tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada
pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri
dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan
termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada pemikiran tersebut di
atas maka pembahasan peserta didik seharusnya bermuara pada dua hal tersebut di
atas.
Persoalan yang berhubungan dengan
peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik dikemukakan oleh
Langeveld sebagai berikut :
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki
sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbdeda dengan sifat hakikat kedewasaan.
Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan
baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia
mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas,
sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan
mendidik.
Sehubungan dengan persoalan anak
didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang
harus dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup apakah
latar belakang budaya masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan
anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah
? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut
perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian
khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung
jawab pada anak dididk.
Pendidikan
Salah satu komponen penting dalam
pendidikan adalah pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep
pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan
sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah beberapa individu yang
tergolong pada pendidik. Guru sebgai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua
sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal
maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. Sehubungan dengan hal
tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai
gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidi adalah 1) orang dewasa, 2)
orang tua, 3) guru/pendidik, dan 4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin
keagamaan.
Orang Dewasa
Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum
kepribadian orang dewasa, sebagaimana dikemukakan oleh Syaifullah adalah
sebagai berikut : (1) manusia yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup yang
pasti dan tetap, (2) manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita
hidup tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik, (3) manusia yang cakap
mengambil keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang akan
dipertanggungjawabkan sendiri, (4) manusia yang telah cakap menjadi anggota
masyarakat secara konstruktif dan aktif
penuh inisiatif, (5) manusia yang telah mencapai umur kronologs paling rendah
18 th, (6) manusia berbudi luhur dan berbadan sehat, (7) manusia yang berani
dan cakap hidup berkeluarga, dan (8) manusia yang berkepribadian yang utuh dan
bulat.
Orang Tua
Kedudukan orang tua sebgai pendidik,
merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua
sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan
cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka.
Kedudukan orang tua sebagai pendidik sudah berlangsung lama, bahkan sebelum ada
orang yang memikirkan tentang pendidikan. Secara umum dapat dikatan bahwa semua
orang tua adalah pendidik, namun tidak
semua orang tua mampu melaksanakan pendidikan dengan baik. Sebagaimana telah
dikemukakan dalam bahasan di atas, bahwa kemampuan untuk menjadi orang tua sama
sekali tidak sejajar dengan kemampuan untuk mendidik.
Guru/Pendidik di Sekolah
Guru sebagai pendidik disekolah yang
secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau
masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai
pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi
maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasrkan pada ketentuan yang
terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual,
sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan
yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yangingin disampaikan maupun
cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
Selain orang dewasa, orang uta dan guru, pemimpin
masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran pemimpin
masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan
pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagaam sebagai
pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian
manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
Proses pendidikan bisa terjadi apabila terdapat interaksi
antara komponen-komponen pendidikan. Terutama interaksi antara pendidik dan
anak didik. Interaksi pendidik dengan anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
Tindakan yang dilakukan pendidik dalam interaksi tersebut mungkin berupa tindakan berdasarkan kewibawaan, tindakan
berupa alat pendidikan, dan metode pendidikan.
Pendidikan berdasarkan kewibawaan
dpat dicontohkan dalam peristiwa pengajaran dimana seorang guru sedang
memberikan pengajaran, diantara beberapa murid membuat suatu yang
menyebabkan terganggunya jalan
pengajaran. Kemudian guru tersebut memberikan peringatan, maka belau ini telah
melaksanakan tindakan berdasarkan kewibawaan. Dengan demikian tindakan
berdasrkan kewibawaan yaitu bersumber dari orang dewasa sebagai pendidik, untuk
mencapai tujuan pendidikan (tujuan kesusilaan, sosial dan lain-lain)
(Syaifullah, 1982).
Alat pendidikan adalh suatu situasi
atau perbuatan dengan situasi atau perbuatan tersebut akan dicapai tujuan
pendidikan. Tindakan pendidik untuk menciptakan ketenangan agar tercapai tujuan
pendidikan tertentu dalam proses pengajaran, atau melakukan perbuatan untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu, umpamanya nasihat, teguran, hukuman dan
teguran agar anak mau berbakti pada orang tua.
Dalam interaksi pendidikan tidak
terlepas metode atau bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa
metode yang dilakukan dalam mendidik yaitu metode diktatorialm metode liberal
dan metode demokratis (Suwarno, 1981). Metode diktatoral bersumber dari teori
empiris yang menyatakan bahwa perkembagan manusia semata-mata ditentukan oleh
faktor diluar manusia, sehingg pendidikan bersifat maha kuasa. Sikap ini
menimbulkan sikap diktator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
Metode liberal bersumber dari
pendirian Naturalisme yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian
besar ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar atau kodrat ada
pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan
terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan anak. Biarkanlah anak
berkembang sesuai denan kodratnya secara bebas atau liberal.
Metode demokratis bersumber dari
teori konvergensi yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung
pada faktor dari dalam dan dari luar. Di dalam perkembangan anak kita tidak
boleh bersifat mengasai anak, tetapi harus bersifat membimbig perkembangan
anak. Di sini tampak bahwa pendidik dan
anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan. Ki
Hadjar Dewantoro melahirkan asas pendidikan yang sesuai dengan metode
demokratis, yaitu Tut Wuri Handayani, ing
madyo mangun karsa,ing ngarsa asung tulada artinya pendidik itu
kadang-kadang mengikuti dari belakang, kadang-kadang harus ditengah-tengah
berdampingan dengan anak dan kadang-kadang harus didepan untuk memberi contoh
atau tauladan.
Isi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan
pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta
didik isi/bahan yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Isi
pendidikan berkaitan dengan tujuan pendidikan, dan berkaitan dengan manusia
ideal yang dicita-citakan. Untuk mencapai manusia yang ideal yang berkembang
keseluruhan sosial, susila dan individu sebagai hakikat manusia perlu diisi
dengan bahan pendidikan. Macam-macam isi pendidikan tersebut terdiri dari
pendidikan agama., pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial,
pendidikan civic, pendidikan intelektual, pendidikan keterampilan dan
peindidikan jasmani.
Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan meliputi
segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa
pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada
sekolah saja. Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan
kebudayaan yang terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial
politis, lingkungan sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan
lingkungan iklim geographis. Ditinjau dari hubungan lingkungan denan manusia
dapat dikelompokkan menjadi lingkungan
yang tidak dapat diubah dan lingkungan yang dapat diubah atau
dipengaruhi, dan lingkungan yang secara
sadar dan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dari sudut tinjauan lain Langeveld linkgungan pendidikan menjadi lingkunganyang
bersifat pribadi atau pergaulan dan lingkungan yang bersifat kenedaan, segala
sesuatu yang ada di sekeliling anak.
Keseluruhan komponen-komponen
tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan
untuk mencapai tujuan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, David G. Dkk. 1981. Education
An Introduction. New York : Macmiltan
Publishing C.Inc.
Cropley, A.J. Pendidikan
Seumur Hidup Suatu Analisis Psikologis, diterjemahkan oleh Sarjan Kadir,
Surabaya : Usaha Nasional.
Dewantara, Ki Hadjar. 1977. Karya
Dewantara. Bagian pertama. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Dewantara,
Ki Hajar.1989.Undang-Undang Republik Indonesia No
2TH 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional .Jakarta : Armas Duta Jaya
Ellis,
Arthur K,dkk.1991. Introduction to the
foundation of education. Baston :Allyn and bacon
Indrakusuma,
Amier Daien.1980. Pengantar Ilmu
Pendidikan. Malang
Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Malang
Langeveld
H.J. 1955. Beknopte Theoretische
Paedagogiek, Terjemahan Tiga Serangkai. Yogyakarta
: HMI COM
Reitmon,
Sandford W.1977. Foundation or Education
for Prospective Teachers. Toronto
: Allyn and Bacom, Inc
Sayifullah,
Ali. 1982. Pendidikan Pengajaran dan
Kebudayaan. Surabaya
: Usaha Nasional
Suwarno,1981.
Pengantar Umum Pendidikan. Jakarta : Aksara Baru
Tim
Dosen FIP IKIP MALANG .
1981. Pengantar dasar-dasar Kependidikan.
Suarabaya : Usaha Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar