BAB
VII
PERKEMBANGAN
MASYARAKAT MASA DEPAN, TANTANGAN DAN ANTISIPASINYA
TUJUAN KHUSUS
PENGAJARAN
Setelah
mempelajari materi ini anda diharapkan dapat :
1. Menjelaskan masa
depan perkembangan iptek.
2. Menjelaskan
tantangan–tantangan yang dihadapi oleh masyarakat masa depan.
3. Menjelaskan
masalah – masalah pendidikan nasional masa depan.
4. Mengemukakan
antisipasi – antisipasi yang diperlukan bagi masyarakat masa depan.
W. Wager dan Gerald Feinberg, dan futuris ini yakin
bahwa manusia dengan memanfaatkan intelegensi kolektif mereka dapat mengatasi
ancaman masa depan. Kedua futuris ini memiliki pandangan yang utopis mengenai
masa depan. Berbeda dengan pandangan John Platt yang berpendapat bahwa dunia
masa depan begitu berbahaya, di sana
sini diwarnai rasa keprihatinan. Pandangan yang terakhir ini bersifat distopia
(Shane, 19730 dalam Miarso , 19840. terlepas apakah masa depan nantinya
bersifat utopia atau distopia masa depan akan diwarnai oleh berbagai
kecenderungan perubahan.
Di satu pihak kecenderungan tersebut dapat membawa
kemaslahatan umat manusia, dilai pihak kecenderungan itu berdampak negatif,
oleh karena itu, hal penting yang perlu diperhatikan adalah kemana arah
kecenderungan perubahan masa depan itu dan bagaimana mengantisipasi dampak
negatif dari kecenderungan perubahan tersebut.
KECENDERUNGAN
PERKEMBANGAN IPTEK DAN PENGARUH NYA TERHADAP MASYARAKAT MASA DEPAN.
Potensi ilmu pengetahuan dan teknologi demikian
mencoloknya. Selama abad kedua puluh, ilmu pengetahuan telah meloncat kedepan.
Faktor yang berpengaruh atas keadaan ini karena menurut dugaan 90 % ahli ilmu
pengetahuan dan penemuan – penemuan dalam sejarah umat manusia hidup pada zaman
ini. Riset dan pembaharuan dilembagakan, demikian pula modal orang yang bekerja
di bidang IPTEK, merupakan faktor pendukung lonjakan perkembangan IPTEK (Faure,
1972).
Hal
yang menarik disamping kuantitas poenemuan dan intesitasnya adalah jarak antara
penemuan prinsip – prinsip ilmiah dengan aplikasi dan penyebaraannya semakin
pendek. Sebagai contoh pada tahun 1727 ditemukan prinsip – prinsip dasar
pemotretan. Kurang lebih 112 tahun jarak antara penemuan prinsip ilmiah dengan
aplikasinya. Sementara hatere solar prinsip ilmiahnya ditemukan tahun 1953,
aplikasinya tahun 1955, sehingga hanya membutuhkan waktu 2 tahun.
Berbagai bidang IPTEK akan maju terus. Perlembagaan
elektronika akan berkembang kearah psikoelektronika dan bio elektronik. Robot –
robot akan menggantikan tenaga manusia, sehingga menju kearah pabrik tanpa
buruh. Bioteknologi, geno teknologi dan ekoteknologi akan memegang peranan
penting dalam masyarakat masa depan.
Teknologi telah mengakselerasi perubahan (Tofler,
1970 dalam sri Koendiyatinah, 1987). Banyak aspek kehidupan yang berubah karena
Perkembangan
lain, teknologi transformasi, komunikasi dan infromasi.
Dalam bidang transformasi, selama berabad – abad
manusia mengadakan pejalanan dengan jalan kaki. Sekitar 6000 tahun sebelum
Masehi angkutan yang paling cepat adalah unta dengan kecepatan 8 mil perjam,
tahun 1600 SM dengan kereta kuda meningkat 20 mil perjam, lokomotif ditemukan
tahun 1925 baru mencapai kecepatan 13 mil perjam. Sementara tahun 1938 manusia
mengudara dengan kecepatan 400 mil perjam dan tahun 1960 dengan roket,
kecepatan mencapai 4800 mil perjam. Dan kini astronot mengedari bumi dengan
kecepatan 18.000 mil perjam atau 40. 000 km perjam (Faure, 1972 ; Toffler,,
1970).
Revolusi teknologi komunikasi membaut jarak bukan
merupakan hambatan bagi manusia dalam berkomunikasi. Sejak digunakannnya burung
merpati sebagai alat komunikasi dapat menerobos hambatan, jarak, lebih – lebih
setelah ditemukan telpon tahun 1820. jarak sama sekali bukan masalah lagi.
Dengan teknologi faximile, kita tidak lagi mendengar pesan – pesan komunikasi,
tetapi dapat membaca pesan – pesan komunikasi, melalui satelit komunikasi,
teknologi komunikasi telah diperluas karena mampu mengatasi penggunaan kabel.
Akibatnya kkomunikasi antar negara semakin dipermudah, bahkan melalui satelit
komunikasi proses komunikasi dapat dilakukan secara massal. seminar
internasional dapat berlangsung tanpa kehadiran peserta dalam satu gedung,
melainkan cukup di negara masing – masing. Walaupun begitu, di Indonesia keadaanya
lain.
Pemilikan telpon di Indonesia masih sangat rendah
menurut data tahun 1989 ± 4,4/1000 penduduk. Sementara di
Jepang 555,3/1000 penduduk (Alfian, 1991).
Akhir – akhir ini produk telkom yang mutakhir mulai
dikenalkan. Telkom high-tech yang diebri nama VSAT (very small aperture
terminal) mampu mengirim dan menerima data, faks dan suara dalam sekejab
beserta gambarnya. Sistem VSAT ini mampu mengatasi hambatan komunikasi akibat
lalu lintas kkomunikasi yang padat (Jawa Post . 3 Mei 1995)
Sejalan dengan perkembangan komunikasi adalah
perkembanan teknologi informasi. Radio ditemukan tahun 1867. tiga puluh lima tahun kemudian yakni
tahun 1902 mulai dipasarkan. Sejak itu, penyampaian informasi dapat menjangkau
publik yang berlipat ganda, penemuan transistor tahun 1948, kemudian diproduksi
tahun 1951 mampu mengefisiensikan produksi radio, akibatnya radio diproduksi
dalam jumlah yang besar dengan harga dalam jangkauan masyarakat umum.
Demikian
pula teknologi komunikasi lain yang lebih akurat dalam sajian pesan, yakni
televisi. Teknologi informasi ini ditemukan tahun 1922. dan diproduksi mulai
tahun 1934. informasi yang disajikan tidak hanya berupa pesan – pesan lisan
tetapi juga pesan visual, oleh sebab itu, pengaruhnya lebih intern terhadap
perubahan perilaku masyarakat. Di Indonesia, jumlah televisi ± 39/1000
penduduk. Sementara di Jepang ± 585/1000 penduduk dan di USA ± 813/1000
penduduk (Alfian, 1991). Teknologi elektronika yang kini penggunaannya merambah
dalam berbagai bidang adalah teknologi komputer. Ketelitian dan kecermatan
melebihi manusia, ia dapat dipekerjakan di bidang kedokteran, dalam bidang
rancang bangun dan rekayasa, bahkan dapat menggantikan guru dalam membelajarkan
anak.
Di
bidang transfortasi komputer dapat menggantikan polisi untuk mengawasi lalu
lintas. Bahkan dapat menggantikan sopir untuk mengendarai mobil, pesawat
terbang. Pendek kata, teknologi komputer dapat menggantikan manusia dalam
pekerjaan rutin hingga pekerjaan yang kompleks yang sulit untuk dikerjakan
manusia.
Kemajuan teknologi kesehatan berpengaruh sekali
terhadap mutu kesehatan masyarakat. Di Indonesia, kematian bayi berangsur – angsur
menurun. Pada tahun 1990 menurun menjadi 63/1000 kelahiran lain, angka harapan
hidup meningkat dari 45,7 tahun 1967 dan tahun 1990 menjadi 61,5 (pidana
pertanggungjawaban Presiden di depan MPR. 1 Maret 1993).
TANTANGAN-TANTANGAN
MASYARAKAT MASA DEPAN
Perubahan Global
Pada tahun tahun 1989 The Organization for Economic Cooperation
and Development (OECD) menerbitkan hasil simposium yang diadakan di
Parisdalam bentuk buku yang diberi judul One
World or Several. Dalam buku tersebut menyebutkan tujuh masalah besar yang
dihadapi manusia masa depan. Ketujuh masalah itu ialah (1) reactivasidunia
secara menyeluruh, (2) globalisasi versus regionalisasi, (3) pengembangan
sumber daya menusia dan pengelolaan pemerintah, (4) development contract,(5)
perlu didorikan regiun energi internasional mengjadapi perubahan lingkungan
yang semakin destruktif, (6) migrasi internasional, (7) memikirkan kembali
nasib buruh-buruh negara agraris (Amin Rais dalam Tuhuleley,1993). Sedangkan
negara-negara miskin dihadapkan dengan 3 jenis “buldoser” yang dapat melindas
habis negara-negara agraris, yakni (1) revolusi bioteknologi, (2) berbagai
imperative ekonomi yang merugikan petani, (3) kerusakan lingkungan yang semakin
parah.
Perubahan tata
kehidupan
Akselerasi perubahan masyarakat
yang begitu cepat di masa depan, menimbulkan tata kehidupan manusia. Alvin
Toffler (1970) menyebutkan tata kehidupan manusia masa depan itu mencakup (1)
masyarakat yang serba membuang, (2) kkaum nomad baru, (3) insan modular
(Toffler, 1970 dalam Koesdiyatinah ,1987). Masyarakat yang serba membuang
menggambarkan sikap hidup masyarakat terhadap benda. Senang berganti-ganti
barang. Hal ini akibat stimulasi produk yang selalu membanjiri masyarakat
dengan desain yang up to date. Sementara
nomad baru mencerminkan mobilitas penduduk. Perpindahan pekerjaan dan lalu
lalangnya manusia akibat mutasi pekerjaan dan tempat kerja. Akibatnya seseorang
juga selalu berpindah-pindah tempat tinggal. Sedangkan insan modular
menggambarkan hubungan sesama manusia mengarah pada sebatas hubungan
fungsional.
Kependudukan
Dan Ketenagakerjaaan
Pertambahan penduduk, merupakan
tantangan bagi masyarakat masa depan. Di negara-negara industri maju,
pertambahan penduduk 1 % bahkan beberpa negara mendekati 0%, sehingga tahun
2025 jumlah penduduk dinegara ini sekitar 1,4 milyar. Sedang di negara-negara
berkembang pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 6,8 milyar. (Brundland,1987
dalam Sumantri, 1988). Sementara itu di Indonesia pada tahun 2020 jumlah
penduduk mencapai 250 juta jiwa dan tahun 2050 menjapai 350 juta jiwa. Rata-rat
pertumbuhan penduduk di Indonesia
saat ini sekitar 1,8% pertahun.
Akibat pertumbuhan penduduk ini
dapat memunculkan masalah-masalah sosial, misalnya pengangguran, lihat Tabel 1.
Persentasr tenaga terdidik Indonesia
yang tidak terserap oleh lapangan kerja, ilmu-ilmu sosial 58,02%, ilmu-ilmu
kesehatan2,39%, ilmu-ilmu pertanian 9,84%, ilmu pendidikan 15,37%, teknologi 6,99%,
ilmu pasti alam 1,6% dan lain-lain 5,79%.(Depnaker,1987 dalam ibrahim,1993).
Fenomena ini tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk yang tidak berimbang
dengan daya serap lapangan kerja.
Tabel
1 perkiraan jumlah pengangguran terbuka tahun 1990-1993.
|
Tahun
|
SMTA
Umum
|
SMTA
Kejuruan
|
Universitas
|
|
1990
1991
1992
1993
|
967.464
1.149.528
1.337.302
1.621.193
|
300.000
161.040
13.491
-100.578
|
267.433
324.664
388.253
444.309
|
Daftar pencari kerja dan
pengangguran di Indonesia
menurut Budiono dkk, (1970). Tingkat pendidikan SD 24,3% tingkat pendidikan SMP
15,2 %tingkat pendidikan SMTA 36,4% dan tingkat universitas / akademi 5,6%.
(Budiono dkk, 1992 dalam Tilaar,1993).
Keadaan pengangguran yang dituliskan
di atas perlu mendapatkan pemecahan agar dimasa depan tidak menimbulakan
masalah-masalah yang serius.
Disisi
lain, pendidikan tenaga kerja di Indonesia , dari 137 juta usia 10
tahun ke atas, 66 % miskin pendidikan. Dari 73,9 juta pekerja di Indonesia, 80%
hanya pendidika SD atau kurang, bahkan 12,1 % tidak pernah sekolah.Tahun 2000,
angkatan kerja di Indonesia skitar 100 juta orang dengan komposisi pendidikan
70% berpendidikan SD kebawah, 9,6% tamatan SMTP dan 1,6% SMTP kejuruan; 7,8%
SMTA umum dan 9,1% SMTA kejuruan dan 1,87% tamatan perguruan tinggi (Ibrahim,
1993)
Karena proporsi tingkat pendidikan
tenaga kerja di Indonesia ,
lebih besar hanya berpendidikan SD ke bawah, akibatnya pada beberapa sektor dan
posisi jabatan masih diduduki oleh tenaga profesional asing. Berdasarkan data
dari BKPM, 1989, beberapa sektor masih memperkerjakan tenaga asing yakni, (1)
pertanian, perkebunan dan peternakan 14,40%. (2) pertanbangan dan penggalian
16,08%, (3) industri pengolahan 26,08%, (4) listrik, gas dan air 2,45%. (5)
konstruksi (9,23%), (6) perdagangan, restoran, dan hotel (9,98%). (7)angkutan
dan perdagangan 2,44%, (8) lembaga keuangan (bank) 5,27%., (9) jasa masyarakat
dan perorangan 15,29%. Sedangkan kompossisi berdasarkan jabatan , (1) manajer
2.908 orang, (2) profesional 4,820 orang, (3) teknisi 6,165 orang, (4) foreman
2.993 orang ,(5) operator 1.012 orang,
berdasarkan data BKPM, 1990 (Alam, 1990)
Keadaan ini tentu merupakan
tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia saat ini dan mendatang.
Perubahan
Lingkungan hidup.
Masyarakat masa depan akan
dihadapkan pada masalah lingkungan hidup. Beberapa perubahan lingkungan di masa
depan meliputi (1) bertambahnya jumlah penduduk di bumi, (2) krisis air bersih
untuk keperluan penduduk dan industri, (3) makin luasnya tanah krisis, (4) berkurangnya luas
hutan, (5) musnahnya berbagai plasma nutfah di darat dan di air karena
ekosistem, (6) rusaknya berbagi ekosistem di laut akibat pengurasan hasil laut
pencemaran di sungai. (7) makin luasnya padang
pasir, (8) meningkatnya suhu bumi akibatefek rumah kaca. (9) makin meningkatnya
hujan asam, (10) jurang ekonomi antara negara miskin dan negara maju makin
lebar. (Kastama,1991)
Degradasi Moral
Tekanan-tekanan sosial akibat
berbagai ketimpangan sosial dapat menimbulkan
tingkah laku menyimpang dalam masyarakat.
Di Jepang kemajuan ekonomi akibat
industrialisasi , harus di bayar mahal berupa guncangan sosial budaya. Dalam
dasawarsa 80-an, tingkat pencemaran naik 50%. Kejahatan remaja usi 15 tahun
menyumabang 45% terhadap angka kejahatan di Jepang. Bunuh diri di kalangan
remaja menempati angka tertinggi di dunia. (Saefuddin, 1993)
Demikian pula di Indonesia
akibat globalisasi informasi, tata nilai dasar diterjang begitu saja oleh
budaya asing, sehingga melahirkan perilaku baru dikalangan generasi muda.
Contoh kasus demoralisasi yang sangat mengejutkan ialah dari 630.283 pelajar di
Jawa Tengah, sekitar 37.000 diantaranya pernah melakukan hubungan seks. Dari
jumlah itu 60% mengekui dirumah sendiri dan 40% sisanya di penginapan. (Jawa Pos,3 Mei 1995)
Kasus yang sangat meprihatinkan
dalam tayangan di televisi hasil sigi oleh YKAI dan balitbang penerangan RI menyebutkan
bahwa adega prososial 48% dan anti sosial 52%.(Jawa Pos, 30mei 1995). Pertanyaan yang perlu di jawab adalah nilai
moral yang bagaimanakah yang hendak dikembangkan bagi para generasi muda ?
Sains dan
Teknologi.
Meskipun abad ini merupakan abad
sains dan teknologi, akan tetapi negara-negara berkembang keadaanya jauh di
belakang negara-negara maju. Lebih dari 90% kapasitas Litbang dunia terdapat di
utara, dan itupun hanya sebagian kecil yang ditujukan kepada masalah-masalah
rakyatterbanyak di selatan. Anggaran belanja perkapita untuk negara-negara
berkembangkurang dari 1% dari negara-negar industri maju.(Rifai,1986)
Sudariyanto (1991)menyebutkan Researh and Development (R&D) di negara maju mencapai 2-3% dari
GNP, sementara di Indonesia baru mencapai 0,1% dan DIKTI baru sekitar 1% dari
anggaran tahunannya. Anggaran R&D di Jepang pada tahun 1987 2,74%dari
GNP dan korea mencapai 2,20% (Alam,1990)
Untuk memiliki teknologi,
negara-negara yang sedang berkembang, melakukan alih teknologi dari
negara-negara industri maju.korea selatan, tahun 1962 sampai dengan 1985
membeli teknologi jepang sebanyak 3527 buah dengan harga USS 1,3 milyar yang
meliputi 26,7 % industri mekanik, 19,9 % industri elektronik, 16% industri
kimia, 7,7% industri metal dan 28,75 lainnya (taufik, 1191 dalam Koswara,1991)
Dalam hal penguasaan sains dan
teknologi, negara-negara berkembang masih mendapatkan masalah. Abdus Salam
pemenang hadiah nobel dari fisika tahun 1978 yang berasal dari Pakistan
mengemukakan ada 4 faktor yang menjerat negara berkembang sehingga mereka tidak
dewasa dalam bidang sains untuk teknologi mutakhir, adalah : (1) banyak negara
berkembang tidak mempunyai komitmen terhadap sains baik terapan apalagi yang
murni, (2) tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan kemandirian, (3)
tidak mendirikan kerangka institusional
dan legal yang cukup mendukung manajemen kegiatan bidang sains
(Baiquni,1990)
Di negara-negara maju, jumlah
insinyur dan peneliti dibeberapa negara maju adalah sebagi berikut :
Jepang sekitar 4836 per satu juta
penduduk., di USA sekitar 3.233 per satu juta penduduk, Swedia 2.537 penduduk, Jerman
(barat) 3.282, dan Perancis 1888 per satu juta penduduk (Sumarto, 1990 dalam
wahjoe Tomo ,1993)
Andaikata di Indonesia setara dengan
Perancis ± 1.888 per satu juta penduduk, dengan 185 juta penduduk di Indonesia,
mak jumlah insinyur dan peneliti di Indonesia
akan berjumlah 349.280 tenaga.bagaimana realitanya jumlah peneliti di
Indonesia?
Berdasarkan sumber LIPI tahun 1992,
pejabat peneliti Department lembaga non department , asisten peneliti 1.652
tenaga; ajun peneliti 1.377 tenaga; peneliti 562, ahli peneliti 258 tenaga. Sehingga
jumlah tenaga peneliti di Indonesia
3.849 tenaga (Wahjoetomo,1993)
Jumalh
di atas khusus tenaga yang memiliki jabatan fungsional peneliti. Hal ini akan
lain jika tenaga-tenaga dosen dari perguruan tinggi dimasukkan juga sebagi
tenaga peneliti.
Berdasarkan lampiran
pertanggungjawaban Presiden di depan sidang MPR tahun 1993, jumlah tenaga
peneliti (LIPI, LAPAN, BAKOR, SURTANAL,
BATAN, BPPT) berjumlah 13.125 tenaga dan tenaga peneliti seluruhnya mencapai
81.390 tenaga (termasuk 2.222 doktor dari perguruan tinggi)
Untuk dapat mengembangkan teknoogi
modern, diperlukan persiapan pendukungnya yakni pemguasaan sains dan
Bio-molekuler, biokimia dan mikrobiologi untuk mendukung bioteknolgi dan
rekayasa genetik. Penguasaan dalam bidang
fisika zat mampat , fisika semi konduktor dan superkonduktor, fotonika,
yang menjadi dasar pengembangan teknologi material baru dan mikro elektronika (
Baiquni, 1990)
Pendidikan
Nasional
Meskipun Indonesia berhasil meningkatkan kuantitas pendidikan ,
sehingga angka parisipasi SD tahun 1993 mencapai 99,6%, SLTP 46,4% dan SLTA
33,6% dan perguruan tinggi mencapai 10,6% akan tetapi masih dihadapkan pada
berbagai tantangan.
Lulusan SD yang melanjutakan ke SLTP
baru mencapai 58,3%, sementara lulusan SLTP yang melanjutkan ke SLTA cukup
tinggi yaitu 80,5% dan lulusan SLTA yang melanjutkan ke perguruan tinggi baru
mencapai 38,9%
Tantangan yang perlu mendapat
oerhatian serius dari semua pihak yang terkait adalah memgendalikan terjadinya
putus sekolah. Angka putus sekolah di SD secara komulatif mencapai 20%, tingkat
mengulang kelas 9,5% setiap tahun. Ditingkat SLTP angka putus sekolah ditingkat
SLTA mencapai 3,5%dan di perguruan tinggi mencapai 9,1%
Untuk memcapai masyarakat industri
maju yang bertumpu pada penguasaan teknologi tinggi Indonesia masih menghadapi
tantangan Sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia yang diprioritaskan untuk
mendukung pelaksanaan teknologi adalah yang menguasai Basic Science. Di lain
pihak distribusi terbesar berasal dari dunia pendidikan dan ilmu sosial (70%),
sementara lulusan rekayasa mencapai 15,1% dan ilmu-ilmu dasar hanya 2,3%
(Koswara,1991).
Mahasiswa indonesia yang belajar di Amerika tahun
1988 dari 10000 mahasuswa (dibulatkan) distribusinya adalah (1) bidang
matematika dan komputer 12,0%, (2) manajemen 3% (3) kedokteran 161.000, (4) fisika 25, (5) engineering 23%,(6) sosial
18%. (Alam , 1990) jika dibandingkan dengan negara-negara lain dibidang sosial
Malaysia 1,1% dari 23.000 mahasiswa yang belajar di USA dan Korea Selatan 6,8 %
dari 20.000 mahasiswa. Dari data ini, mahasiswa yang memilih studi ilmu sosial
masih tinggi dibanding nnegara lain.
Distribusi mahasiswa S1 berdasarkan bidang disiplin
ilmu tahun 1985 adalah (1) Sains 11,5% (2) teknologi 13,5%, (3) kedokteran
161.000, (4) Pertanian 383.000, dan (5) ilmu-ilmu sosial 2.069.000
(Papiptek-LIPI,1987 dalam Alam 1990)
Demikian pula distribusi buku dalam perpustakaan
berdasarkan bidang disiplin ilmu tahun 1985, (1) Sains 11,5% (2) teknologi
13,5% (3) kedokteran 5,6%, (4) pertanian 7,7% dan ilmu-ilmu sosial 61,6%
(papitek-LIPI1987, dalam Alam,1990)
Mengamati dastribusi mahasiswa S1 maupun koleksi
buku di perpustakaan distribusi tervesar pada ilmu-ilmu sosial. Bidang sains
dan rekayasaperlu mendapatkan motivasi. Karena bidang tersebut menjadi
tulang punggung pengembangan
teknologi masyarakat Indonesia
tahun depan.
Tantangan dalam pendidikan di Indonesia dan
negara berkembang lainnya adalah dalam pendanaan pendidikan.
Berdasarkan perhitungan UNESCO tahun 1970-1987
anggaran pendidikan Indonesia
mencapai 2-3% dari GNP. Sementara Malysia mencapai 4-6 % dari GNP. Dinegara
maju, di USA dan Jepangmencapai 5-6% dari GNP, Belanda 8% dari GNP dan Uni
Sovyet 6-7% dari GNP. (Profil indonesia,
1983) jika saat ini GNP di Indonesia mencapai $700 amerika pertahun maka
anggaaran pendidikan di Indonesi sebesar $ 21 pertahun. Pada tahun 1983/1984
anggaran pendidikan di Indonesia
mencapai 19% dari total anggaran pembangunan.(Profil Indonesia,1983)
Data lain dari ABD, Educational and Development in Asia the pasific, anggaran pendidikan di Indonesia pada
tahun 1984 , sebesar 2,2% dari GNP . dengan GNP Indonesia pada tahun 1985 US$
470. Sementara beberapa negara tetangga, Korea Selatan 4,8%, Singapura 4,4%;
Hongkong 2,8%; Taiwan 4,2%; Malysia 4,6%; dan Filipina 1,3% (Tilaar,1991).
Sampai dengan saat ini, pendidikan di Indonesia masih
bermasalah dengan rensdahnya kualitas pendidikan. Besarnya anggaran pendidikan
pada PJPT Idistribusinya masih digunakan untuk mensukseskan wajib belajar 6
tahun. Ini berarti dioreantasikan pada masalah daya tampung. Rendahnya mutu
pendidikan di Indonesia
disebabkan oleh pendidikan yang bersifat massal.
ANTISIPASI
TERHADAP MASYARAKAT MASA DEPAN
Kesimpulan yang tepat untuk
menyatakan masyarakat masa depan adalah masyarakat yang sedang berubah. Tak ada
waktu untuk menunda perubahan itu apalagi menolaknya. Dan pula perubahan itu
tidak hanya dalam satu atau dua fase kehidupan melainkan menyeluruh, bersifat
global. Tidak satupun yang tersentuh oleh perubahan.
Mengahadapi perubahan masa depan,
perlu antisipasi secar tetat. Antisipasi dimaksudkan agar masyarakat masa depan
dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Dapat
menghindari dampak negatif dari perubahan, bahkan menciptakan perubahan secara
konstruktif bagi diri dan lingkungannya.
Meningkatkan
kualitas Sumber Daya Manusia
Menghadapi masyarakat masa depan
yang bercirikan perubahndibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Kualitas manusia yang dibutuhkan memiliki 3 ciri utama, ialah (1) manusi ayng
sadar IPTEK,(2) Kreatif, (3) solidaritas-etis (Oetomo,1990)
Pertama manusia yng sadar IPTEK
adlah well informed, tahu banyak
pengetahuan. Mapu mencerna informasi, dan mengolah informasi untuk diri dan
masyarakatnya. Mampu menganalisis informasi segal perubahan guna menentukan
sikap terhadap perubahan. Mampu belajar sepanjang hayat (life long learning) memiliki kamampuan nalar yang tinggi, kreatif,
integratif-konsesional. Mapu mendayagunakan IPTEK, bahkan daapt memukan inovasi
untuk menciptakan perubahan dan mengendalikannya.
Kedua, manusia kreatif adalah
manusia ynag tidak terbawa oleh arus perubahan. Bukan manusia yang sekedar mampu menyesuaikan perubahan. Manusia kreatif
mampu menciptakan perubahan, memiliki kemampuan yang kompetitif. Manusia
kreatif, manusia yang inteligent, memiliki minat yang tinggi, imaginer,
fleksibel, dan sensitif. Memiliki daya ingat yang tinggi dan dapat berpikir
secara evaluatif . Dilihat dari sisi minat dan motivasinya, manusia kraetif
mempunyai ciri selalu ingin tahu, gemar bermain ide, suka menghadapi tantangan.
Dan dari sisi kepribadiannya, manusi kreatif bercirikan mandiri, terbuka dan
tanggung jawab atas segala resiko tindakan yang diambilnaya,
Mandiri sebagi ciri manusia kreatif,
memiliki lima komponen utama, (1) bebas dalam arti tindakan atas kehendak
sendiri, (2)progresif dan alet dalam mencapai prestasi, (3) berinisiatif, mampu
berfikir dan bertindak secara orisisnil, (4) internal lacus of control (memiliki kemampuan mengendalikan diri),
(5) self esteem-self confidence
(memiliki harga diri dan kepercayaan diri) (Oetomo,1990)
Ketiga, manusia yang memiliki solidaritas-etis.
Kompetitif merupakan ciri globalisasi, oleh karena itu manusia masa depan perlu
memiliki solidaritas sosial. Memiliki rasa tanggung jawabkemasyarakatan dan
kebangsaan. Keunggulan kompetitif harus dilandasi oleh dan bermuara pada rasa
tanggungjawab sosial.
Tantangan terberat dalam globalisasi
tidak lain adalah mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang merupakan
identitas sebagi bangsa. Dikatakan tantangan terberat, oleh karena disisi lain manusia dituntut
untuk memiliki wawasan global. Di dalam diri manusia dituntut untuk berwawasan
internasional. Namun di pihak lain, dituntut agar tetap berpijak pada jati diri
sebagai bangsa yang mandiri. Oleh karena itu, manusia akan berada pada posisi
tarik-menarik dua kebudayaan yakni kebudayaan internasional versus kebudayaan
nasional.
Menghadapi derasnya kebudayaan asing
(Barat) sering identik dengan nilai materialistik. Fromn (1956) melihat
kehancuran tata kehidupan manusia terlalu menekankan aspek materi dan melupakan
ajaran agama adalah pangkal kehancuran umat manusia. (Jacob, dalam
Effendi,1992)
Kajian solidaritas etnis sebagai
kualitas manusia untuk mengahdapi masa depan, bertumpu pada kualitas kehidupan
masyarakat. Dahlan (1992) kualitas kehidupan bermasyarakat meliputi (1)
keserasian sosial, (2) kesetiakawanan, (3) disiplin sosial (4) kualitas
komunikasi sosial (Dahlan dalam Effendi, 1992)
Pendidikan Masa
Depan
Toffler menyebutkan masyarakat masa
depan adalah masyarakat super industrial. Untuk menciptakan hal ini perlu
ditentukan alternatif yang bermuatan asumsi tentang jenis pekerjaan, profesi
yang diperlukan antara 20-50tahun yang akn datang. Dari sini akan dirumuskan keterampilan, kognitif, dan
afektif yang dibutuhkan untuk menghadapi akselerasi perubahan. (Toffler,1970,
dalam Koesdiyatinah,1987)
Untuk mengantisipasi masa depan,
Tilaar menyebutkan ada sepuluh kecenderungan pengembanagn sistem Pendidikan
Nasional, yaitu :
(1)pemerataan pendidikan, (2) Kurikulum yang
relevan dengan pembangunan nasional, (3) proses belajar mandiri, (4) tenaga pendidikan
yang profesional, (5) pendidikan pelatihan yang tetpadu, (6) pendidikan tinggi
sebagi partner in progress. (7)
pendidikan berkelanjutan, (8) pembiayaan yang memadai, (9)partisipasi
masyarakat, (10) manajemen pendidikan yang efektif (Tilaar,1993)
Naisbit (1990) menekankan pentingnya
pendidikan nilai bagi pendidikan masa depan. Hal ini dilatarbelakangi oleh
kecenderungan masa depan yang ditandai oleh berkembangnya bioteknologi.
Kecenderungan di bidang bioteknologi ditandai oleh keberhasilan ilmuwan dalam
memecahkan masalah DNA (Deoxyribonucleaid
Acid) . Dibidang pertanian dikembangkan varietas Unggul, demikian pula
dibidang peternakan. Bagaimana menemukan varietas unggul untuk kehidupan
manusia?
Masa depan merupakan masa yang
kompleks bahkan kaum futurolog sudah tidak sanggup lagi meramalkan hari depan.
(Soedjatmoko, dalam Utomo, 1990). Kalau demikian halnya, pendidikan masa depan
harus mampu mendidik individu untuk dapat menghadapi kekompleks-an masa depan.
Tujuan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan manusia yang dapat mengikuti keadaan masa depan.
Tujuan pendidikan bukan melahirkan
indivvidu yang terpragmentasi dalam bidang-bidang spesialisasi. Melainkan dapat
mewujudkan individu yang utuh. Sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU No. 2
Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa tujuan Pendidikan
Nasional mencerdaskan kehidupan bangsa
dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan
dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri
serta rasa tanggung jawab masyarakat dan kebangsaan.
Penerapan prinsip pendidikan seumur
hidup akan berimplikasi pada perubahan kurikulum. Menurut Delker, sekolah perlu
menawarkan pendidikan inti yang efektif
yang diperlukan untuk belajar seumur hidup. Skager dan dave (1977) menyebutkan
kriteria kurikulum sekolah untuk mendukung perkembangan seumur hidup sekolah. Yaitu
: (1) kurikulum sekolah harus menganggap bahwa belajar adalah suatu proses yang
terus-menerus, (2) kurikulum sekolah harus dipandang dalam konteks, belajar di
rumah, masyarakat dan tempat belajar, (3) kurikulum sekolah mengakui interelasi
beberapa subjek studi.(4) Kurikulum sekolah harus mengakui sekolah sebagai
suatu agen dalam menajikan pendidikan dasar, (5) kurikulum sekolah perlu
menekankan otodidak, (6) kurikulum sekolah mengingat kebutuhan individu (Skager
dan dave,1977 dalam Cropley).Sementara belajar untuk menghadapi perubahan menurut
Biggs (1973) adalah (1) proses untuk memiliki dan mengalokasikan informasi, (2)
proses untuk memiliki keterampilan tingkat tinggi menggeneralisasi, (3) proses
memiliki strategi umum untuk memecahkan problema, (4) proses menetapkan tujuan
belajarnya sendiri, (5) proses mangevaluasi hasil belajarnya sendiri, (6)
motivasi yang terat dan (7) proses memiliki konsep yang tepat. (Biggs, 1977
dalam Cropley)
Menguasai
Teknologi
Era globalisasi diwarnai oleh
persaingan. Oleh karena itu dibutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai
keunggulan kompetitif . Wardiman (1993) menyebutkan untuk mengatasi persaingan,
dunia industri harus , (1) menguasai teknologi produksi, untuk mendapatkan
kualitas produk yang tinggi, (2) menguasai teknologi produk agar dapat
bersaing, (3) menguasai teknologi menajemen untuk mendapatkan harga yang
layak,(4) mempunyai tenaga kerja yang terampil dalam proses produksi atau
teknologi produk(wardiman,1993)
Somitro(1981)menyebutkan, mengingat
konstelasi masyarakat kita ,dan melihat perkembangan masa depan, ada tiga
teknologi yang harus dikebangkan,(1) teknologi maju, (2) teknologi adaptif dan
(3) teknologi protektif.Teknologi maju masa depan adalah teknologi produksi
exstratif dibidang metalurgy, teknologi imeral dan energi(nuklir).teknologi adaptif,
teknologi yang bersumber dari penelitian negara maju yang diolah sesuai dengan
kondisi masyarakat kita.teknologi protektif, teknologi perlindungan alam dan
lingkungan(sumitro, 1981).
Selain peningkatan jumlah insinyur
dalam pakar pakar dibidang ilmu murni, sujatmoko(1993) manuliskan universitas
perlu menggembangkan disiplin ilmiah yang melandasi teknologi, seperti Solid State Physics dan matematika untuk
mikro elektronika dan biologi mikro. (Soedjatmoko,1993). Lebih lanjut ia
menyebutkan, teknologi yang paling besar dampaknya atas perkembangan masyarakat
adalah bidang bio teknologi, mikro
elektronika, informatika dan teknologi bahan (technology bahan)
Untuk mengimbangi kejutan masa
depan, Toffler menawarkan strategi pemikatnya. Disebutkannya untuk
mempertahankan keseimbangan selama terjadinya revolusi superindustrial adalah
dengan menandingi penemuan baru (Toffler, 1970 dalam Koesdiyatinah,1987).
Persoalannya untuk negara-negara miskin sarana dan prasarana riset dasar sangat
tidak memadai, shingga penemuan-penemuan baru sangat langka adanya. Herman Kahn
menyebutkan kegiatan R&D di negara miskin 2,5%, sementara di negara kaya
97,5%. (Rais,1993 dalam Tuhuleley,1993)
Khususnya di Indonesia, menurut
anwar et al (1990) tantangan yang
dihadapi untuk penerapan dan pengembangan IPTEK pada PJPT II adalah (1) jumlah
terbesar penduduk usia 10 tahun ke atas dan angkatan kerja yang tidak tamat SD
sebesar 44,9%dari jumlah angkatan kerja sebanyak 74,6 juta, dan lulusan
perguruan tinggi 1,61%, itupun lulusan eksakta ±28,9% dan sisanya lulusan ilmu
sosial., (2) bagian terbesar unit usaha berskala kecil dan non formal, (3)
peningkatan pengangguran terbuka angkatan kerja lulusan SLTP dan yang lebih
tinggi, (4) pendidikan menengah dan tinggi relatidf rendah , (5) kurangnya
tenaga ristek, (6) rendahnya kesehatan relatif terhadap negara ASEAN, (7)
industri manufaktur mengarah industri berat, (8) urbanisasi meningkat, (9)
Pemasukan dana luar negara berkurang teknologi meluas dan mendalam (Anwar et al, 1990 dalam Iskandar, 1991).
Mengubah
kecenderungan
Menperhatikan dampak negatif
teknologi, untuk mengantisipasi masa depan. Yacob (1993) menjelaskan bahwa
untuk mengantisipasi masa depan , perlu menguasai skenario masa depan yakni
dengan mengubah kecenderungan masa depan. Untuk mengubah kecenderungan masa
depan yang perlu dilakukan adalah (1) pembatasan pertumbuhan industri negara
maju, atau menciptakan pertumbuhan batas dengan teknologi teratas, penemuan
baru dalam teknologi, bahkan makanan, material,
peningkatan ekoteknologi untuk mengendalikan pemanasan global dan
pencemaran lingkungan, (3) rehumanisasi IPTEK, (4) desentralisasi teknologi dan
dualisasi penghidupan, (5) penggantian paradigma dengan mengembangkan nilai to be
dan bukan hanya to have, (6)
revitalisasi dan modernisasipemahaman agama (Yacob,1993 dalam Tuhuleley, 1993)
SOAL-SOAL
LATIHAN
1.
Berilah
gambaran mengenai kecenderungan perkembangan IPTEK Pada masyarakat masa depan!
2.
Tantangan
global yang bagaimanakah yang kemungkinan dihadapi oleh masyarakat masa depan?
3.
Masyarakat
masa depan kan
dihadapkan pada masalah pertambahn penduduk, berilah gambaran pertumbuhan
penduduk Indonesiadan implikasinya terhadap kemungkinan timbulnya
masalah-masalah sosial!
4.
Bagaimanakah
kecenderungan lingkungan hidup pada masyarakat masa depan, dan jelaskan
bagaimana mengantisipasinya untuk menghindari lingkungan hidup tersebut?
5.
masalah-
masalah apa saja yang dihadapi bangsa Indonesia di bidang teknologi, dan
bagaimana memecahkannya?
6.
Jelaskan
tantangan masyarakat Indonesi masa depan dibidang pendidikan dan jelaskan antisipasinya!
7.
Kendala-kendala
apa saja yang dihadapi masyarakat Indonesia dalam pengembangan sumber
daya menusia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar