BAB V
PERANAN MANUSIA DAN PENDIDIKAN
DALAM PEMBANGUNAN
Tujuan Khusus Pengajaran
Setelah membaca materi ini diharapkan anda dapat:
1.
Menjelaskan
keterkaitan antara pendidikan dan piembangunan
2.
Menjelaskan peranan
sumber daya rnanusia dalam pembangunan,
3.
Menganalisis
keterhubungan antara sumber daya manusia, pendidikan dan pembangunan,
4.
Menjelaskan konsep‑konsep
perubahan masyarakat dalam pembangunan,
5.
Mengemukakan satu
definisi perencanaan dengan kalimat sendiri,
6.
Menjelaskan
rasional prinsip‑prinsip perencanaan,
7.
Menyusun suatu
program jangka pendek dalam bidang tertentu untuk lingkup suatu Rukun Tetangga,
8.
Menjelaskan
kemampuan kemampuan yang diperlukan oleh seorang perencana,
9.
Menyebutkan
tingkat-tingkat perencanaan negara,
10. Memilih pendekatan perencanaan pendidikan yang paling
sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, dan
11. Menjelaskan pentingnya perencanaan dalam kehidupan
individu dan kelompok.
GBHN 1993
menetapkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mewujudkan suatu
masyarakat adil dan makmur spiritual dan material berdasarkan Pancasila dan UUD
1945 dalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat,
bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman
dan tentramm tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang
merdeka, bersahabat, tertib dan damai.
Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia,
Sesuai dengan amanat GBHN tersebutt di atas manusia merupakan titik sentral
pembangunan karena manusialah sasaran utama sekaligus sumgber daya pembangunan
yang membuat perencanaa, melaksanakan dan melakukajn pengawasn terhadap
jalannya serta hasil pembangunan. Mengingat begitu pentingnya manusia sebagai
sumberdaya pembangunan, untuk itu pendidikanlah yang paling berperan dalam
mempersiapkan sumber daya manusia.
Menurut Undang-undang Republik
Indonesia No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijabarkan
fungsi dan tujuan pendidikan sebagai berikut : Pasal 3 : Pendidikan Nasional
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan
martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional pasal
4 : Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhjadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rokhani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dari uraian diatas tampaklah bahwa pendidikan merupakan
asset sosial yang strategis dan realistis dalam upaya meningkatkan sumberdaya
manusia dalam pembangunan. Pelaksanaan pendidikan yang berorientasi pada
pembangunan akan menghadapi beberapa masalah antara lain : (1) sumberdaya
manusia yang bagaimanakah yang dibutuhkan dalam pembangunan ? (2)
Perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat yang telah dan akan terjadi.
Konsekuensi logis dari masalah pertama dan kedua diperlukan pelaksanaan
pendidikan yang berdayaguna dan berhasilguna. Sesuai dengan masalah tersebut
dalam uraian ini akan dibahas menurut sistematika sebagai berikut : (1)
Sumberdaya Manusia dalam pembangunan, (2) Perubahan masyarakat~(3) peranan
pendidikan dalam pembangunan, dan (4) Peranan Manusia dalam Pembangunan.
SUMBER DAYA MANUSIA
DALAM PEMBANGUNAN
Dalam era pembangunan diperlukan sumberdaya manusia yang
berkualitas secara utuh. Konsepsi manusia seutuhnya menunut Noor Syam dalarn
buku Pangantai Dasar‑dasar Kependidikin (1980), mencakup pengertian (1)
Keutuhan potensi manusia sebagai subjek yang berkembang, (2) Keutuhan wawasan
(orientasi) manusia sebagai subjet yang sadar nilai (yang menghayati dan yakin
akan cita-cita dan tujuan hidupnya). Potensi‑potensi manusia sebagai subjek
yang berkembang meliputi (1) potensi jasmaniah: phisik, badan dan pancaindera
yang sehat (normal). (2) potensi pikir (akal, rasio, inteligensi), (3) potensi
rasa (perasaan, emosi) baik perasaan etis moral maupun perasaan estetis, (4)
potensi karsa (kehendak, kemauan, keinginan, hasrat atau
kocenderungan-kecenderungan nafsu termasuk Prakarsa). (5) potensi cipta (daya
cipta kreativitas, fantasi dan imajinasi) (6) potensi karya (kemampuan
menghasillkan, klerja, amal sebagai tindak lanjut dari point I sampai dengan 5,
atau tindakan dan lakon manusia), dan (7) potensi budi nurani (kesadaran budi,
hati nurani, kata hari, conscienci, geweten atau gewessen yang bersifat super
rasional). Ketujuh potensi itu merupakan potensi dan watak bawaan
yang potensial. Aktualisasi dari ketujuh potensi tersebut menentukan kualitas
kualitas pribadi seseorang.
Konsepsi keutuhan wawasan (orientasi) manusia sebagi
subjek yang sadar nilai. Tingkah laku manusia terutama yang dewasa dan
berpendidikan dipengaruhi oleh wawsan atau orientasi terhadap nilai-nilai yang
ada dalam kehidupan dan telah diakui kebenarannya. Wawasan tersebut meliputi
(1) wawasan dunia akhirat: cara pandang manusia tentang kehidupan di dunia yang
pasti akan berakhir dengan kematian, selanjutnya akan diteruskan dalam
kehidupan akhirat. Sesuai dengan pandangan ini manusia berusaha untuk
memperoleh kehidupan yang baik di akhirat, selain kehidupan yang baik di dunia,
untuk itu manusia berusaha untuk berbuat baik dan meninggalkan dosa, (2)
wawasan indivudalitas dan sosial yang seimbang, artinya tingkah laku manusia
yang didasarkan atas keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan
masyarakat (3) wawasan jasmaniah dan rokhaniah, yaitu kesadaran pribadi akan
adanya kebutuhan jasmaniah seperti kesehatan, makanan bergizi, olahraga,
rekreasi, dan sebagainya ; dan kesadaran akan kebutuhan rokhani akan
nilai-nilai budaya, ilmu pengetahuan, kesenian dan nilai agama, dan (4) wawasan
masa lampau dan masa datang, yaitu cara pandang manusia untuk memperoleh kebahagiaan
atau kesejahteraan di masa datang dengan bercermin dari pengalamlan masa
lampau.
Sesuai dengan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manusia yang
berkualitas yaitu manusia yang mmapu untuk mengembangkan potensi-potensi yang
dimilikinya secara optimal dan seimbang sehingga potensi-potensi tersebut dapat
diakutualisasikan dalam kehidupan berupa tingkah laku dan perbuatan ; tingkah
laku dan perbuatan yang merupakan aktualisasi dari potensi-potensi tersebut
perlu didasari dengan atau berorientsi pada nilai-nilai dalam kehidupan yang
memberikan arah dan pertimbangan dalam bertingkah laku.
Emil Salim (1991) mengelompokkan kualitas manusia atas 2 bagian yaitu
kualitas fisik yang menyangkut sifat lahiriah atau badaniah seperti ukuran dan
bentuk tubuh, daya atau tenaga fisik, kesegaran pribadi, kualitas hubungan
dengan yang lain seperti hubungan dengan Tuhan, alam lingkungan, masyarakat,
dan sesama manusia, kualitas kekaryaan yang tercermin dalam produktivitas,
disiplin kerja, keswadayaan, kswakaryaan, dan wawasan masa depan. Kedua
kualitas manusia itu harus saling melengkapi secara simbang.
Dalam rangka meningkatkan kualitas
manusia sebagai sumberdaya pembangunan Emil Salim mengemukakan perlunya
penekanan terhadap beberapa segi kualitas manusia yang meliputi :
Pertama
kualitas spiritual, yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuahn. Dalam
hubungan ini perlu ditumbuhkan kesadaran mengembangkan segi-segi kehidupan
spiritual yang benar dan menghindari subjektivisme intuisi yang tidak tidak
terkontrol oleh dimensi sosial yang menjurus pada kultur. Segi-segi kehidupan
spiritual seperti iman, tagwa dan moralitas Perlu ditingkatkan. Dengan kemudian
kepada Tuhan Yang Maha Esa manusia sebagai makhluk individu yang bebas akan
mamiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam pembentukan kepribadian.
Untuk mengembangkan kepribadian manusia memerlukan cara peribadatan untuk
mencapai kualitas spiritual umum yaitu taqwa".
Penekanan kedua adalah pada kualitas kemasyarakatan dan
kualitas berbangsa. Masyarakat Indonesia bersifat majemuk, sehingga diperlukan
keterikatan lintas kelompok sebagaimana tercermin dalam kualitas bermasyarakat
dan berbangsa. Sebagai indikasi kualitas ini adalah kesetiakawanan sosial,
tanggung jawab dan disiplin sosial. kesetiakawanan sosial akan tumbuh subur
bila diimbangi dengan pertumbuhan keadilan sosial, dimana sermua diperlakukan
secara adil dan mempunyai kesempatan sama. Tanggungjawab dan disiplin sosial
tercermin pada kesadaran meletakkan kepentingan umurm di atas kepentingan
pribadi atau golongan. Komitmen ini harus tumbuh atas dasar pemahaman dan bukan
paksaan dari luar.
Penekanan ketiga adalah pada kualitas kekaryaan yang dipengaruhi
oleh 3 faktor, yaitu faktor pribadi (kecerdasan, pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman sikap kerja), faktor lingkungan dalam organisasi (situasi kerja,
kepemimpinan), dan faktor lingkungan luar organisasi (nilai‑nilai sosial,
keadaan ekonomi dan lain‑lain).
Ketiga
kualitas tersebut di atas perlu dikembangkan pada diri manusia. Dengan
pengembangan ketiga kualitas tersebut akan dihasilkan manusia yang taqwa,
memiliki kepekaan sosial dan menjadi pribadi yang mandiri. Adapun pribadi
mandiri memiliki komponen‑komponen, sebagai berikut (1) bebas, yakni tumbuhnya
tindakan atas kehendak sendiri dan bukan karena orang lain, bahkan tidak
bergantung pada orang lain, (2) progresif dan ulet seperti tampak pada usaha mengejar prestasi penuh ketekunan,
merencanakan, dan mewujudkan harapan hampannya, (3) berinisiatif yakni mampu
berfikir dan bertindak secara orisinil, kreatif dan penuh inisiatif, (4)
pengenalian dari dalam (internal locus
of control), adanya kemampuan mengatasi masalah yang dihadapi, mampu
mengendalikan tindakan serta kemampuannya mempengaruhi lingkungan atas
usahanya sendiri dan (5) kemantapan diri (seff
esteem, self confidence), mencakup aspek percaya diri dan memperoleh
kepuasan atas usahanya sendiri.
Menurut GBHN 1993‑1998, kualitas
manusia Indonesia adalah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri maju, tangguh, cerdas,
kreatif. terampil berdisiplin beretos kerja, profesional, bertanggung jawab,
dan produktif serta sehat jasmani dan rokhani. Manusia yang mempunyai jiwa
patriotik dan rasa cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan dan
kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai
para pahlawan dan berorientasi masa depan (GBHN, 1993).
Dari uraian‑uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa manusia yang memiliki berkualitas yang menjadi sumberdaya pembangunan adalah manusia tiga aspek yang
seimbang antara aspek pribadi sebagai manusia individu, aspek sosial sebagai
makhluk sosial dan aspek kebangsaan. Manusia, yang demikian itulah yang
diharapkan terwujud sebagai sumberdaya pembangunan nasional.
PERUBAHAN MASYARAKAT
Pembangunan Jangka Panjang Pertama
telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat seperti peninkatan
taraf hidup masyarakat, peningkatan kecerdasan sebagai hasil dari peningkatan
pemerataan pendidikan jalur sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah,
kerukunan hidup beragama, perubahan tingkat kelahiran, peningkatan sumberdaya
alam dan sebagainya.
Di samping perubahan-perubahan yang
merupakan hasil pembangunan tersebut perubahan juga disebabkan oleh faktor
lain, seperti yang dikemukakan oleh Soedjatmoko (1991) yaitu (1) faktor perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi (2) Faktor kependudukan, dan (3) Faktor ekologi
atau lingkungan hidup. Dengan
adanya pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih memudahkan dan
melancarkan berbagai proses kehidupan manusia. Melalui teknologi komunikasi
yang canggih dunia menjadi lebih sernpit setiap saat manusia bisa mengadakan
interaksi sesamanya dengan mudah dan cepat, dapat melakukan perjalanan dengan
cepat, memperoleh informasi tentang kejadian di berbagai tempat pada saat
ketepatan dengan kejadiannya, dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan yang
bisa dinikmati sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
seperti yang dipaparkan di atas secara tidak langsung dapat juga berpengaruh
negatif bagi kehidupan masyarakat, misalnya dengan cepatnya arus komunikasi
yang tidak terbendung memungkinkan masuknya nilai-nilai yang tidak sesuai
dengan kepribadian bangsa ; walaupun hal ini tetap kembali pada pribadi
manusianya. Namun demikian realitas menunjukkan bahwa belum semua pribadi warga
negara sesuai dengan manusia yang diharapkan dan ini merupakan hal berkembang
yang wajar karena sebagian besar warga negara sedang berkembang dalam proses
bertumbuh dan berkembang.
Perubahan
lain yang terjadi dalam masyarakat adalah perubahan tingkat kelahiran. Dengan
berhasilnya KB keadaan penduduk di Indonesia tidak merupakan kurva
normal, artinya usai kanak-kanak lebih keci dari jumlah usia remaja. Banyak
Sekolah Dasar yang mulai kehabisan siswa, sebaliknya SMP, SMA dan perguruan
tinggi makin kebanjiran siswa. Walaupun KB berhasil nyata secara kuantatif
penduduk Indonesia
makin bertambah karena bertambahnya usia subur. Bertambahnya penduduk ini
menimbulkan perubahan penyebaran penduduk tidak hanya dari desa ke kota tetapi juga antara
satu pulau ke pulau lain. Pertambahan penduduk berpengaruh terhadap pelestarian
sumberdaya laam. Berhektar-hektar tanah pertanian berubah fungsi menjadi
pemukiman. Udara segar yang semula dinikmati penduduk di dataran tingi berubah
menjadi udara panas, pohon-pohon ditebang, banyak hutang gundul akibat ulah
manusia. Pencemaran lingkungan semakin dirasakan, udara tercemar oleh asap
industri yang teus bertambah, walaupun bermunculan banyak industri untuk
kepentingan hajat hidup pembangunan masyarakat sendiri.
Arus globalisasi yang melanda dunia saat ini ikut barubah
kehidupan dunia. Emil Salim mengemukakan bahwa globalisasi adalah dunia tanpa
”tapal batas”, yakni tanpa batas-batas administrasi negara. Dunia menjadi amat transparan, satu peristiwa
terjadi di tempat lain dalam suatu negara, pengaruhnya dalam waktu singkat dapat menembus langsung ke pelosok‑pelosok
pedesaan di negara lain tanpa lagi sempat menunggu "permisi" dari
negara yang bersangkutan (Salim, 1990).
Dari hasil pembangunan, perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan penduduk, keadaan kualitas dan
kuantitas lingkungan maupun arus globalisasi membawa perubahan‑perubahan
masyarakat yang tidak bisa dibendung baik perubahan itu bersifat positif dalam
memacu perkembangan pembangunan, maupun perubahan masyarakat yang bertentangan
dengan nilai‑nilai bangsa. Perubahan‑perubahan semacam. ita akan terus
berlangsung selama ada kehidupa dunia. Dalam proses perkembangan masyarakat
sebenamya manusialah yang tetap memegang peranan menentukan. Ini sesuai dengan
pendapat August Comte vang mengatakan bahwa proses evolusi akal budi serta
pemantulannya oleh masyarakat berjalan terus dan pasti mencapai tujuanya, namun
manusia masih memainkan peranan bebas. Oleh peranannya
manusia dapat mempercepat atau memperlambat datangnya zaman baru. Di samping
itu manusia dapat mengadakan variasi‑variasi (Veeger, K.J., 1986). Dan pendapat
tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan yang melanda pembangunan yang
sedang dijalankan, faktor manusia sebagai sumberdaya pembangunan tetap
mempunyai peranan penting. dan ini memacu keharusan peningkatan kualitas
manusia.
PERANAN PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN
Di muka telah diuraikan bahwa
pendidikan mempunyai peranan dalam meningkatkan kualitas manusia sebagai
sumberdaya pembangunan dan menjadi titik sentral pembangunan. Manusia yang
berkualitas memiliki keseimbangan antara tiga aspek yang ada padanya, yaitu
aspek pribadi sebagai individu, aspek sosial dan aspek kebangsaan. Manusia
sebagai makhluk individu memiliki potensi fisik dan nirfisik; dengan potensi‑potensi
tersebut manusia mampu berkarya dan berbudi pekerti luhur. Manusia sebagai
makhluk soslaJ mempunyai kesetiakawanan sosial, tanggung jawab sosial dan
disiplin sosial. Manusia yang memiliki aspek kebangsaan mernpunyai rasa cinta
tanah air, jiwa patriotik dan berwawasan masa depan.
Berorientasi pada peningkatan
kualitas manusia Indonesia tersebut, maka peranan pendidikan dalam pembangunan
dapat dirumuskan sebagai berikut :
Dalam meningkatkan manusia sebagai
makhluk individu yang berpotensi fisik dan nirfisik, dilaksanakan dengan
pemberian pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Pembentukan nilai adalah
nilai-nilai budaya bangsa dan juga nilai-nilai keagamaan sesuai dengan agama masing-masing
dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Proses transformasi tersebut berlangsung dalam jalur pendidikan sekolah dan
jalur pendidikan luar sekolah. John Vaizei dalam bukunya Education in the Modern World (1965) mengemukakan peranan
pendidikan sebagai berikut : (1) melalui lembaga mengemukakan peranan
pendidikan tinggi dan lembaga riset memberikan gagasan-gagasan dan teknik baru,
(2) melalui sekolah dan latihan-latihan mempersiapkan tenaga kerja terampil berpengetahuan,
dan (3) penanaman sikap.
Dalam menghadapi perubahan
masyarakat yang terus menerus dan berjalan secara cepat manusia dituntut untuk
selalu belajar dan adaptasi dengan perkembangan masyarakat sesuai dengan
zamannya. Dengan perkataan lain manusia akan menjadi ”pelajar seumur hidup”.
Untuk itu sekolah berperan untuk mepersiapkan peserta didiknya menjadi pelajar
seumur hidup yang mampu belajar secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai
sumber belajar baik yang ada di sekolah maupun di luar sekolah. Menurut
Moedjiono dalam buku dasar-dasar Kependidikan (1986), mengemukakan bahwa
aktivitas belajar dalam rangka menghadapi perubahan-perubahan yang cepat di
dalam masyarakat menghendaki (1) kemampuan untuk mendapatkan informasi, (2)
keterampilan kognitif yang tinggi, (3) kemampuan menggunakan strategi dalam
memecahkan masalah, (4) kemampuan menentukan tujuan yang ingin dicapai, (5)
mengevaluasi hasil belajar sendiri, (6) adanya motivasi untuk belajar, dan (7)
adanya pemahaman diri sendiri.
Eksistensi kebangsaan nasional perlu
dipertahankan dengan berbagai cara antara lain memupuk identitas nasional pada
generasi muda, penanaman kesadaran nasional. Kesadaran nasional perlu
dibangkitkan melalui kesadaran sejarah. Kesadaran ini mencakup pengalaman
kolektif di masa lampau atau nasib bersama di masa lampau yang menggembleng
nation. Tanpa kesadaran sejarah tak ada identitas dan tanpa orang tak
kepribadian atau kepribadian nasional. Kesadarari nasional, menciptakan
inspirasi dan aspirasi nasional, keduanya penting untuk membangkitkan semangat
nasional. Nasionalisme sebagai ideologi perlu menjiwai setiap warga negara yang
wajib secara moral (moral commitment) dengan
loyalitas penuh pengabdian diri kepada kepentingan negara, (Kartidirdjo, 1993).
Prinsip
nasionalisme sebagaian tujuan pendidikan nasional adalah : (1) Unity (kesatuan‑persatuan) lewat proses
integrasi dalam sejarah berdasarkan solidaritas nasional yang melampaui
solidaritas lokal, etnis, tradisional, (2) Libcrty
(kebebasan) setiap individu dilindungi hak-hak azasinya, kebebasan
berpendapat, berkelompok, kebebasan dihayati dengan penuh tanggung jawab
sosial, (3) Equality (persamaan) hak
dan kewajiban, persamaan kesempatan, (4) Berkaitan dengan prinsip ke 2, ke 3
ada prinsip kepribadian atau individualitas. Pribadi perorangan dilindungi
hukum antara lain dalam hak milik, kontrak, pembebasan dari ikatan komunal dan
primoriaL (5) Performance (hasil
kerja) baik secara individual atau kolektif. Setiap kelompok membutuhkan rangsangan
dan inspirasi untuk memacu prestasi yang dapat dibanggakan.
Dan uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan mempunyai peranan penting dalam
pembudayaan, pernyatan dan pengamalan nilai‑nilai budaya nasional yang akan
mampu memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
PERANAN MANUSIA
DALAM PEMBANGUNAN
Manusia
sebagai subjek pembangunan berperan aktif dalam pembangunan yaitu peran
sebagai perencana, pelaksana dan sekaligus sebagai pengawas. Selanjutnya
dalam, uraian berikut ini akan dibatasi pada peran manusia dalam perencana
pendidikan dan pengawasan pembangunan pendidikan.
Perencanaan
pendidikan adalah kegiatan memandang ke depan dalam menentukan kebijaksanaan,
prioritas, biaya dan sistem pendidikan yang diarahkan kepada kenyataan ekonomi
dan politiiks, untuk mengembangkan sistem itu sendiri dan untuk kebutuhan
negara murid-murid (Beeby, 1984).
PEMBANGUNAN SEBAGAI TINDAKAN TERENCANA
Setiap orang dalam kehidupannya. Tentu mempunyai
keinginan baik keinginan jangka pendek, jangka menengah, mupun jangka panjang.
Agar keinginan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien, upaya untuk
mencapai keinginan tersebut perlu direncanakan sebaik‑baiknya.
Pada lingkup lebil luas, setiap lembaga tentu mempunyai
tujuan, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka, panjang. Agar
tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif dan efisien, upaya untuk mencapai
tujuan itu perlu direncanakan sebaik‑baiknya.
Pada lingkup
makro hidup berbangsa dan berngara di negeri ini misalnya. kita mempunyai
tujuan jangka panjang untuk: "melindungi segenap bangsa. Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia
dan memajukan kesejahretaan umun dan mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial...". Untuk mencapai tujuan tersebut kita mempunyai
rencana pembangunan jangka panjang selama 25 tahun, rencana pcmbangunan jangka
menengah selama 5 tahun, dan rencana pembangunan jangka pendek selama I tahun.
Sejak tanggal I April 1995 kita telah memasuki pembanguna jangka panjang kedua,
5 tahun pertama pembangunan jangka menengah serta pembangunan jangka pendek
tahun pertama.
Untuk memberikan
pemahaman pengantar sekitar perencanaan, berikut ini akan dibahas topik-topik
pengertian perencanaan, prinsip-prinsip perencanaan, langkah‑langkah
perencanaan, kemampuan perencana, tingkat-tingkat perencanaan pendidikan.
Pengertian
Perencanaan
Setiap kegiatan
yang dilakukan oleh seorang akan selalu memeiliki tujuan dan cara mengerjakan,
mengambil waktu tertentu, serta mengambil tempat tertentu. Dengan demikian,
perencanaan, dapat didefinisikan sebagai upaya menentukan apa yang akan
dikerjakan, bagaimana cara, mengerjakan, bilamana dikerjakan, serta di mana
dikerjakan untak mencapai tujuan tertentu.
Definisi
di atas menunjukkan bahwa suatu perencanaan
minimal mengandung unsur‑unsur tujuan, metode, waktu, dan tempat. Unsur-unsur
perencanaan ini merupakan unsur minimal dalarn perencanaan individual. Bila
perencanaan yang dilakukan adalah perencanaan kelompok, maka masih harus
ditarnbah lagi dengan unsur pembagian tugas. Jadi, untuk kepentingan kelompok,
perencanaan dapat didefinisikan sebagai upaya menentukan apa yang akan
dikerjakan, bagaimana cara mengerjakan, bilamana dikerjakan, di mana
dikerjakan, serta siapa yang mengerjakan, untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut
Atmosudirdjo (1982), setiap rencana mengandung tiga ciri khas, yakni: (1)
selalu mengenai masa mendatang (future, teokomtst),
(2) selalu mengandung kegiatan‑kegiatan tertentu dan bertujuan (action, doelstellige activiteiten) yang
akan dilakukan, dan (3) mesti ada alasan sebab, motif atau landasan baik
personal (pribadi, perorangan) organisasional maupun kedua‑duanya.
Apa yang dikemukakan oleh Prajudi
Atmosudirdjo selain memuat unsur penting dalam perencanaan, juga menekankan pentingnya
alasan yang mendasari pembuatan suatu perencanaan. Setiap perencanaan yang
dibuat harus memliliki alasan yang kuat, baik alasan praktis maupun alasan
ideal.
Prinsip‑prinsip
Perencanaan
Agar perencanaan dapat menghasilkan
rencana yang efektif dan efisien, prinsip‑prinsip berikut patut diperhatikan.
(1) Perencanaan hendaknya mempunyai dasar nilai yang jelas dan mantab. Nilai
yang menjadi dasar bisa berupa nilai budaya, nilai moral, nilai refigius,
maupun gabungan dari ketiganya. Acuan nilai yang jelas dan mantab akan
memberikan motivasi yang kuat untuk menghasilkan rencana yang sebaik‑baiknya;
(2) Perencanaan hendaknya
berangkat dari tujuan umum. Tujuan umum itu dirinci menjadi khusus, kemudian
bila masih bisa dirinci menjadi tujuan khusus, itu dirinci menjadi lebih rinci
lagi. Adanya rumusan tujuan umum dan tujuan‑tujuan khusus yang terinci akan
mcnyebabk‑an berbagai unsur dalam perencanaan memiliki relevansi yang tinggi
dengan tujuan yang akan dicapai ; (3) Perencanaan hendaknya realistis. Perencanaan
hendaknya disesuaikan dcngan Sumberdaya dan dana yang tersedia. Dalam hal
sumber daya, hendaknya dipertimbangkan kuantitas maupun kualitas manusia dan
perangkat penunjangnya. Perencanaan sebaiknya tidak mengacu pada sumber daya
dan dan yang diperkirakan akan dapat disediakan, melainkan pada sumber daya dan
dana yang nyata‑nyata ada; (4) Perencanaan hendaknya mempertimbangkan kondisi
sosio budaya masyarakat, baik yang mendukung maupun menghambat pelaksanaan
rencana nanti. Kondisi sosio budaya tersebut misalnya sistem nilai, adat
istiadat, keyakinan, serta cita‑cita. Terhadap kondisi sosio budaya ymg
mendukung pelaksanaan rencana, hendaknya telah direncanakan cara memanfaatkan
secara makisalm faktor pendukung itu. Sedangkan terhadap kondisi sosio budaya
yang menghambat, hendaknyta telah direncanakan cara untuk mengantisipasinya dan
menekannya menjadi sekecil-kecilnya dan (5) Perencanaan hendaknya fleksibel.
Meskipun berbagai hal yang terkait dengan pelaksanaan rencana telah
dipertimbangkan sebaik-baiknya, masih mungkin terjadi hal-hal di luar
perhitungan perencana ketika rancana itu dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam
membuat perencanaan, hendaknya disediakan ruang gerak bagi kemungkinan
penyimpangan dari rencana sebagai antisipasi terhadap hal-hal yang terjadi di
luar perhitungan perencana.
Langkah‑langkah
Perencanaan
Pada garis
besarnya suatu perencanaan akan melalui langkah-langkah sebagai berikut : (1)
Menetapkan tujuan yang akan dicapai. Tujuan yang ditetapkan ini merupakan
rincian dari tujuan yang lebih umum, entah tujuan individual maupun tujuan
kelompok ; (2) menetapkan standar keberhasilan. Standar keberhasilan ini
melilputi standar kualitas (3) menetapkan sistem evaluasi. Sistem evaluasi ini
mencakup evaluasi proses dan evaluasi hasil; (4) menganalisis situasi dan
kondisi yang terkait dengan tujuan yang akan dicapai. Situasi dan kondisi yang
dianalisis misalnya ekonomi, politik, sistem nilai, adat istiadat, keyakinan,
serta cita-cita. Dalam analisis ini penekanannya terutama pada pengungkapan faktor-faktor
penunjang maupun penghambat pencapai tujuan ; (5) menetapkan kegiatan-kegiatan
apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Kegiatan-kegiatan yang
ditetapkan sudah mempertimbangkan faktor-faktor penunjang maupun penghambat
pencapaian tujuan yang diperoleh dari hasil analisis terhadap situasi dan
kondisi yang terkait dengan tujuan yang akan dicapai; (6) Menetapkan urutan
hirarkhis dari kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan (7) Menetapkan
alternatif kegiatan-kegiatan lain untuk mengantisipasi kemungkinan tidak
efektif dan tidak efisiennya kegiatan-kegiatan yang ditetapkan sebaagi
kegiatan-kegiatan utama untuk mencapai tujuan; (8) Menetapkan urutan hirarkhis
dari kegiatan-kegiatan alternatif pengganti kegiatan-kegiatan utama (9)
Memerinci waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap kegiatan, dan (10)
Menetapkan personalia pelaksana setiap kegiatan.
Kemampuan
Perencana
Uraian
tentang pengertian, prinsip, dan tahap-tahap perencanan sebagaimana dikemukakan
di atas menyiratkan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang
perencana agar dapat dihasilkan rencana yang efektif dan efisien. Pada pokoknya kemampuan-kemampuan yang dituntut dari
seorang perencana meliputi : (1) Kemampuan memprediksi keadaan masa datang.
Dengan kemampuan memprediksi yang memadai, akan dihasilkan rencana yang tidak
mengalami banyak perubahan saat di laksanakan nanti (2) Kemampuan menganalisis
kondisi nyata saat perencanaa dilakukan. Kemampuan
ini sesungguhnya merupakan dasar bagi pengadaan prediksi yang tepat. Dengan
menganalisis secara tepat kondisi nyata saat perencanaan dilakukan, sebagian
dari prediksi yang tepat telah dilewati dan (3) Kemampuan melakukan
perhitungan-perhitungan matematis yang akurat. Kemampuan ini sesungguhnya
menjadi dasar bagi pengadaan analisis kondisi nyata secara akurat untuk
keperluan perencanaan, maupun diperlukan untuk melakukan
perhitungan-perhitungan matematis saat melakukan perencanaan.
Betapa pun besarnya kemampuan
seseorang dalam melakukan perencanaan, manusia tetap memiliki keterbatasan
dalam melakukan perencanaan. Apalagi bila perencanaan yang dilakukan manyangkut
suatu lembaga yang besar.l oleh karena itu , dalam perencanan diperlukan kerja
sama antara berbagai pihak dengan spesifikasi kemampuan masing-masing.
Joseph L. Massie (1979) misalnya, mengemukakan lima
kegiatan dalam perencanaan yang perlu ditangani oleh orang-orang dengan
spesifikasi kemampuan yang relevan untuk menangani kegiatan itu.
Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi: (1) menetapkan tujuan utama dan menengah (
setting primary and intermediate goals). Pada perusahaan-perusahaan bisnis, tujuan utama bisanya
ditetapkan oleh pimpinan tertinggi dan para pemegang saham. Sedangkan tujuan
yang lebih operasional dikembangkan oleh para wakil dan kepala bagian; (2)
mempelajari peluang ( search for
opportunities. kemampuan yang
dituntut dari orang yang melakukan tugas ini adalah kemampuan menganalisis
kondisi nyata. Pada perusahaan –perusahaan bisnis, tugas ini biasanya dilakukan
oleh periset pasar dan peramal ekonomi; (3) menyusun rencana. Kemampuan yang
dituntut dari perumus rencana adalah menerjemahkan hasil analisis dan hasil
prediksi menjadi strategi, kebijakan, dan program kerja. Pada perusahaan bisnis
tugas ini biasanya dilakukan oleh asisten manejer dan pengembangan program dan
(4) menentukan batas minimal dari hasil yang harus dicapai dalam pelaksanaan
rencana. Pada perusahaan bisnis tugas ini dikakukan oleh menejer operasional.
Tingkat-tingkat
Perencanaan
Suatu perencanaan bisa
merupakan perencanaan sempit bisa juga merupakan perencanaan luas. Sempit
luasnya suatu perencanaan transparan antara lain dalam kehidupan bernegara.
Tingkat-tingkat perencanaan negara di Indonesia dari luas ke yang sempit adalah
sebagai berikut: (1) perencanaan nasional. Sebagaimana telah dikemukakan pada
awal tulusan ini, perencanaan nasional di negeri ini terbagi dalam 25 tahun
rencana jangka panjang, 5 tahun rencana jangka menengah dan 1 tahun rencana
jangka pendek. Bentuk paling konkret dari perencanaan nasional adalah Garis
Besar Haluan Negara (GBH) sebagi acuan untuj pembangunan 5 tahun; (2)
perencanaan pemerintah. Perencanaan pemerin tha adalah perancanaan yang telah
dilakukan oleh pemerintah pusat dan hasilnya berupa peraturan pemerintah dan
ditetapkan oleh presiden; (3) perencanaan departemen. Perencanaan departemen
adalah perencanaan yang dilakukan oleh masing-masing departemen di pusat dan
hasilnya berupa Surat Keputusan Menteri;(4) perencanaan propinsi. Perencanaan
propinsi adalah perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah propinsi dan hasilnya
berupa Surat Keputusan Gubernur; (5) perencanaan kabupaten. Perencanaan
kabupaten adalah perencanaan yang dilakukan pemerintah kabupaten dan hasilnya
berupa Surat Keputusan Bupati; (6) Perencanaan Kecamatan. Perencanaan kecamatan
adalah perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah kecamatan dan hasilnya berupa
program kerja kecamatan dan (7) perencanaan desa / kelurahaan. Perencanaan
desa/kelurahaan adalah perencanaan yang dilakukan pemerintah desa/kelurahan dan
hasilnya berupa program kerja desa/kelurahaan
Perencanaan
Pendidikan
Mengacu pada definisi
perencanaan yannng dikemukakan di depan, perencanaan pendidikan dapat di
definisikan sebagai upaya menentukan apa yang akan dikerjakan, bagaimana cara
mengerjakan, bilamana dikerjakan, di mana dikerjakan, serta siapa yang
mengerjakan, untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sebagaimana halnya
tingkat-tingkat perencanaan negara, perencanaan pendidikan pun
bertingkat-tingkat, dari perencanaan nasional hingga perencanaan tingkat
kecamatan. Selain itu, karena pendidikan terdiri atas pendidikan sekolah dan
luar sekolah, serta pendidikan sekolah berjenis dan berjenjang, maka terdapat
perencanaan pendidikan sekolah dan luar sekolah, serta perencanaan untuk setiap
jenis dan jenjang pendidikan.
Perencanan pendidikan biasanya dilakukan berdasarkan pendekatan tertentu.
Pendekatan-pendekatan dalam perencanaan pendidikan dapat dikelompokan menjadi
dua, yauti pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Yang termasuk
pendekatan kuantitatif adalah pendekatan Analisis Tenaga Kerja (ManPower
Analisis) dan pendekatan untung rugi (Cost Benefit). Sedangkan yang termasuk
pemdekatan kualitatif adalah pendekatan Sumber Daya Manusia ( Human Resource)
dan pendekatan Sosial Budaya ( Socio Cultural). (1) pendekatan Analisis Tenaga Kerja.
Pendekatan ini berangkat dari ananlisi tenaga kerja serta projeksi kebutuhan
tenaga kerja berdasarkan hasil analisis tersebut. Dalam pendekatan ini,
keseimbangan anatara produksi lembaga pemdidikan dan perminataan lapangan kerja
diperhitungkan secara ketat. (2) Pendekatan Untung Rugi. Dalam pendekatan ini
dibuat perhitungan perbandingna anatra biaya yang dikeluarkan untuk
penyelengaraan pedidikan serta keuntungan yang akan siperoleh dari hasil
pendidikan. Pendekatan ini melihat pendidikan sebagai upaya investasi yang
harus memberikan keuntungan nyata pada saat nanti. (3) pendekatan Sumber daya
manusia. Pendekatan ini lebih menentukan pengembangan potensi manusia secara
utuh. Dalam berkembangnya potensi manusia secara utuh dan maksimal, berbagai
lowongan kerja diharapkan akan dapat dimasuki oleh keluaran pendidikan sesuai
dengan minat dan kemampuannya dan (4)
Pendekatan Sosial Budaya. Pendekatan ini bertolak dari analisis terhadap
persoalan-persoalan budaya yang sedang aktual dalam masyarakat. Budaya yang
menghambat kemajuan masyarakat seperti menganggap rendah pekerjaan diluar
pegawai negeri, menganggap rendah sekolah kejuruan, serta budaya santai
dijadikan acuan dalam perencanaan pendidikan. Diharapkan, melalui pendidikan,
budaya-budaya itu akan berkurang.
Tugas
- Kemukakan suatu definisi dari perencanaan dengan
kalimat saudara.
- Apa yang akan terjadi bila suatu lembaga tidak
mempunyai rencana yang disusun dengan baik ?
- Apakah penentuan tujuan harus selalu ditempatkan
pada urutan pertama perencanaan ? Jelaskan !
- Mengapa perencanaan harus fleksibel ?
- Apakah seorang guru juga tergolongkan perencanaan
pendidikan ?
- Analisislah kondisi sosio budaya masyarakat di Rukun
Tetangga tempat tinggal saudara, kemudian rencanakanlah suatu program
pendidikan jangka pendek untuk meningkatkan taraf hidup mereka
- Kemukakan keunggulan maupun kelemahan pendekatan
analisis tenaga kerja dalam perencanaan pendidikan.
- Kemukakan keunggulan maupun kelemahan pendekatan
sumber daya manusia dalam perencanaan pendidikan.
- Menurut pengamatan saudara, pendekatan perencanaan
pendidikan apakah yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan saat ini
? Apa saran Saudara untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan dengan pendekatan tersebut ?
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, I Wayan. (penyunting). 1986. Pengantar Dasar‑dasar Kependidikan. Malang: Fakultas Ilmu
Pendidikan IKIP MALANG.
Atmosudirdjo, Prajudi. 1982. Adminisrrasi dan Manajemen Umum. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Breeby, C.F. 1984. Perencanaan dan
Administrator Pendidikan (diterjemahkan oleh Istiwidayanti). Jakarta : Penerbit
Bhatara Karya Aksara.
Coombs. Philip, H. 19 70. What is Educational
Planning. Paris :
Unesco.
Kartidirdjo,
Sartono. 1993. Pembangunan Bangsa. Yogyakarta : Aditya Media.
Majelis
Permusyawaratan Rakyat. 1990. Peraturan
Pelaksanan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Armas Duta Jaya
Majelis
Perniusyawaratan Rakyat. 1993. Ketetapan‑ketetapan
MPR Republik Indonesia .
Surabaya :
Bina Pustaka Tama.
Massie,
Joseph. L. 1979. Essentials of Management New York . Pretice Hall. Inc. Englewood Cliffs.
Semiawan, Conny & Soedijarto (edit). 1991. Mencari Strategi Pengembangan
Pendidikan Nasional Menjelang Aad XXI. Jakarta: Gramedia Widjasarana.
Tim Down FIP
IKIP MALANG . 1980. Pengantar
Dasar‑dwar Kependidikan. Surabaya Usaha
Nasional.
Vaizey, John. 1967. Education in the Modern World NeW York . Mc. Graw Hill, Book Company.
Veeger, K.J.
1985. Realitas Sosial Jakarta : Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar