BAB IV
ALIRAN – ALIRAN DALAM PENDIDIKAN
Tujuan Pembelajaran
Sesudah mempelajari penggalan ini anda
diharapkan mampu :
1. Menjelaskan
mengapa teori empirisme, nativisme, naturalisme, dan teori konvergensi disebut
teori klasik.
2. Membedakan
pengertian pertumbuhan dan perkembangan.
3. Menjelaskan
hubungan faktor (dari dalam dan luar) terhadap perkembangan anak.
4. Menjelaskan yang
dimaksud dengan :
a. Teori empirisme
b. Teori nativisme
c. Teori
naturalisme
d. Teori
konvergensi
5. Menjelaskan
perbedaan faktor pembawaan dan faktor
lingkungan yang ada pada masing – masing :
a. Teori empirisme
b. Teori nativisme
c. Teori
naturalisme
d. Teori
konvergensi
6. Menjelaskan
batasan kemungkinan usaha pendidikan menurut :
a. Teori empirisme
b. Teori nativisme
c. Teori
naturalisme
d. Teori
konvergensi
7. Menjelaskan
pendidikan yang seharusnya dilaksanakan terhadap pelaksanaan pendidikan
sekarang.
8. Memberikan
pendapat yang benar tentang teori konvergensi terhadap pelaksanaan pendidikan
sekarang.
9. Mengemukakan
alasan mengapa pendidikan taman siswa dan pendidikan institut nasional syafei
(ins) merupakan aliran pokok yang harus kita pelajari.
10. Menjelaskan
usaha – usaha Ki Hajar Dewantara dalam menyikapi kebijakan/ politik pendidikan
yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda Di Indonesia.
11. Menjelaskan
perbedaan azas Pendidikan Taman Siswa 1922 dengan Dasar – dasar Pendidikan
Taman Siwa 1947 dilihat dari latar belakang, isi dan penggunaannya.
12. Menjelaskan
prinsip – prinsip yang harus dilaksanakan dalam menyelenggarakan pendidikan
dengan menggunakan Sistem Among.
13. Menjelaskan
keterkaitan antara Sistem Among dengan istilah – istilah : Tut wuri Handayani.
Ing Ngarsa sang Tulada, dan Ing Madya mangun Karsa.
14. Menjelaskan
beberapa bentuk organisasi pendidikan yang diselenggarakan oleh Pendidikan
Taman Siswa.
15. Menjelaskan beberapa
perlambang dan semboyan yang diperlukan dalam melaksanakan pendidikan Taman
Siswa.
16. Menjelaskan
/mengemukakan beberapa alasan mengapa Pendidikan INS termasuk dalam aliran
Pendidikan Ruang di Desa dan termasuk juga aliran Sekolah Kerja.
17. Menjelaskan isi Dasar
Pendidikan INS dan alasannya mengapa hal itu dilaksanakan.
18. Menjelaskan
aplikasi semboyan Sekolah Kerja dalam pendidikan INS dilihat dari perencanaan,
pelaksanaan dan hasil pengajaran.
Pandangan –
pandangan yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebagai dasar untuk
dijadikan pedoman bagi manusia dalam melakukan pendidikan mulai dari abad yang
lalu hingga abad sekarang ini telah dikelompokkan ke dalam aliran klasik,
aliran baru dan aliran modern. Aliran klasik dipakai untuk mengelompokkan
pandangan – pandangan para ahli sebelum abad 19, aliran modern untuk pandangqan
– pandangan pada abad 19. Aliran modern terutama dipakai untuk reaksi pandangan
– pandangan yang terjadi pada abad 19. pengelompokan – pengelompokan tersebut
bukan semata – mata hanya di dasari pada waktu kejadiannya saja, karena setiap
perkembangan waktu mencerminkan kemajuan isi pandangan – pandangannya. Tetapi
bukan berarti setiap yang lama lebih jelek dari yang baru, sebab pandangan –
pandangan yang modern banyak juga didasarkan pada pandangan – pandangan yang
lama.
Salah satu
pandangan para ahli pendidikan yang menonjol pada abad sebelum 19 adalah
tentang faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, dimana antara ahli satu
dengan ahli yang lain berbeda pandangan. Perbedaan – perbedaan pandangan
tersebut akibat dari perbedaan aliran filsafat yang dianutnya, sehingga muncul
berbaagai aliran pendidikan, yang disebut juga sebagai hukum dasar
kependidikan, dan ada juga yang menyebut sebagai teori kependidikan.
Sebelum dibahas
beberapa aliran tersebut pada uraian ini disajikan terlebih dahulu tentang
perkembangan anak, dan faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan anak yang
didasarkan pada pandangan aliran empirisme, nativisme, naturalisme dan
kovergensi.
PERKEMBANGAN ANAK DIDIK
Istilah
perkembangan kadang – kadang disamakan dengan pertumbuhan dan kadang pula
dibedakan. Pertumbuhan diartikan lebih luas dan meliputi perkembangan, tetapi
ada juga yang mengartikan perkembangan lebih luas dan meliputi pertumbuhan,
lepas dari perbedaan tersebut, kedua istilah tersebut dapat dicari
persamaannya, bahwa baik pertumbuhan dan perkembangan di dalamnya terjadi
adanya perubahan. Jika perubahan tersebut dikaitkan pada diri manusia,
dibanding dengan tumbuh – tumbuhan dan hewan, di samping terdapat persamaan –
persamaan juga terdapat perbedaan – perbedaan, sehingga dapat disimpulkan
perbedaannya bahwa istilah pertumbuhan anak dapat diartikan suatu perubahan
yang terjadi pada diri manusia yang bersifat material dan kuantitatif baik yang
terjadi pada salah satu atau beberapa atau keseluruhan dari anggota badan
manusia. Perubahan ini dapat terjadi karena atau berbentuk pembesaran,
pemanjangan, pembanyakan dan bentuk – bentuk lainnya. Sedangkan istilah
perkembangan anak dapat diartikan perubahan yang terjadi pada diri manusia yang
bersifat fungsional dan kualitatif. Perubahan mungkin terkait dengan salah
satu, sebagian atau keseluruhan dari anggota badan manusia. Sebab perubahan
pertumbuhan biasanya diikuti juga oleh perubahan perkembangan. Contohnya perubahan
tangan dari pendek menjadi semakin panjang diikuti juga perubahan berfungsinya
tangan tangan menjadi semakin berarti dan fungsional, misalnya dari dapat
memegang sesuatu dengan asal pegang saja menjadi dapat memegang dengan berbagai
teknik sesuai dengan kebutuhan. Contoh tersebut dapat dibedakan bahwa
memanjangnya tangan disebut pertumbuhan, sedangkan berfungsinya tangan tersebut
yang semakin dapat melakukan sesuatu dari asal pegang saja hingga menjadi lebih
berfungsi atau berarti disebut perkembangan.
Perkembangan di samping terkait dengan
aspek fisik manusia meliputi juga berfungsinya daya jiwa individu, seperti daya
pikir, kepekaan, rasa sosial, kreativitas dan sebagainya. Jadi perkembangan
meliputi berfungsinya aspek fisik dan jiwa secara kualitatif.
Pada
perkembangan anak, selain ada unsur perubahans sebagai unsur pokok sebagaimana
yang telah diuraikan diatas, juga mengandung unsur proses. Unsur ini sebetulnya
sudah terkandung dalam unsur perubahan, tetapi untuk memperjelas ruang lingkup
perkembangan maka hal ini perlu diungkapkan. Unsur proses dimaksudkan adalah
proses perkembangan berfungsinya salah satu, sebagian atau keseluruhan dari
aspek jasmani atau jiwa dari apa adanya hingga menjadi lebih dari apa adanya.
Untuk mengetahui adanya proses perubahan ini diperlukan keterlibatan untuk
mengikuti dan mengamati, atau membandingkan dengan menggunakan atau tanpa
menggunakan alat tertentu mulai dari apa adanya hingga menjadi lebih dari apa
adanya. Pekerjaan ini telah banyak dilakukan oleh ahli psikologi atau
pendidikan, tinggal kita memanfaatkannya, misalnya ada yang mengaitkan umur
dengan fungsi – fungsi dari fisik atau jiwa, ada yang melihat khusus pada aspek
tertentu secara lebih mendalam. Atau sebetulnya kita dapat melakukan sendiri
sesuai dengan kebutuhan kita sendiri sebagai orang tua atau leibh – lebih kita
sebagai guru.
Kedua unsur
tersebut yakni perubahan dan proses sekaligus mengandung unsur – unsur yang
ketiga yaitu sesuatu yang berkembang. Unsur ini sebetulnya juga sudah
terkandung dalam unsur perubahan. Sesuatu yang berkembang ini sangat luas,
mencakup segala sesuatu dari aspek fisik dan aspek jiwa yang berubah secara
fungsional dan kualitatif, bukan yang bersifat materialistik dan kuantitatif.
Sedangkan
bagaimana hakikat terjadinya proses perkembangan. Dalam hal ini juga ada
berbagai pendapat. Aliran asosiasai mengatakan bahwa perkembangan merupakan
proses asosiasi yag dimulai dari bagian – bagian menuju kepada dan terkait
menjadi keseluruhan (totalitas0. aliran Gestalt mengatakan bahwa perkembangan
merupakan proses diferensiasi, yaitu dari keseluruhan menuiju kebagian – bagian
yang berkembang secara sendiri – sendiri. Tetapi masih merupakan dari
keseluruhan tersebut dan terkait secara fungsional dengan bagian – bagian yang
lain. Sedangkan aliran sosiologis mengatakan bahwa perkembangan merupakan
proses sosialisasi, yaitu melalui proses imitasi, adaptasi kemudian seleksi.
Dalam proses adaptasi dan seleksi tersebut berlaku hukum efek dari diri sendiri
yang akan mendorong melakukan sesuatu lainnya yang lebih baru, mana yang harus
dianut dari aliran – aliran tersebut ?, tergantung dari keyakinan kita yang
mana yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas membelajarkan anak
didik. Bahkan dimungkinkan adanya konsep – konsep baru yang lebih efektif untuk dipakai sebagai pedoman . uraian lebih
lanjut secara lebih detail tentang perkembangan dapat diikuti pada pembahasan
secara khusus pada bagian tersendiri. Bahasan ini hanya dimaksudkan untuk mengaitkan
faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan anak didik dari aliran – aliran
atau teori – teori yang ada.
Selanjutnya,
mengapa aspek fisik dan aspek jiwa manusia sebagai mana yang telah diuraikan di
atas dapat berkembang ? apakah karena ada faktor dari dalam yang berupa potensi
– potensi yang secara otomatis bisa berkembang sendiri tanpa dipengaruhi faktor
lainnya ? Ataukah karena semata – mata ditentukan oleh faktor dari luar diri
anak ? Ataukah perkembangan itu ditentukan oleh kedua faktor tersebut ? jika
dipengaruhi oleh faktor tersebut, manakah yang lebih kuat antara faktor dari
dalam ataukah faktor dari luar ? Jawaban pertanyaan – Pertanyaan tersebut akan
diuraikan dalam bahasan aliran – aliran klasik pendidikan berikut ini :
ALIRAN – ALIRAN KLASIK DALAM PENDIDIKAN
Teori – teori pendidikan
yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebelum abad 19 meliputi
berbagai teori tentang segala usaha pendidikan. Teori yang menonjol pada abad
atau aliran klasik ini salah satunya adalah yang berhubungan dengan
perkembangan manusia/anak didik. Dalam teori ini juga terdapat banyak aliran –
aliran, tetapi yang umum dan dapat dijadikan dasar untuk mengelompokkan teori –
teori yang lainnya adalah meliputi :
ALIRAN
EMPIRISME
Aliran atau
teori ini dipelopori oleh John Locke seorang bangsa Inggris yang hidup pada
abad 18 yang dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1704.
sesuai dengan namanya aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala
pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan oeh
pengalaan (empiri) nyata melalui alat inderanya, baik secara langsung
berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri
dari apa yang didapatkan secara langsung. Jadi segala kecakapan dan
pengetahuannya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan
pengalaman di dapatkan dari lingkungan/dunia luar melalui indera, sehingga
dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak
didik. Lebih jelas dan tegas lagi bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi
perkembnagan anak. John Locke mengatakan “Tak ada sesuatu dalam jiwa, yang
sebelumnya tak ada dalam indera”. Ini berarti apa yang terjadi, apa yang
mempengaruhi, apa yang membentuk perkembangan jiwa manusia adalah lingkungan
melalui pintu gerbang inderannya yang berarati tidak ada yang terjadi dengan
tiba – tiba tanpa melalui proses penginderaan.
Teori ini
disebut juga dengan teori tabularasa, yang maksudnya bahwa anak yang baru lahir
diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi apa – apa, atau
bagaikan papan berlapis lilin 9dahulu papan berlapis lilin ini dipakai sebagai
alat komunikasi tulis – menulis). Ajaran ini menganggap bahwa ketika anak lahir
tidk mempunyai bakat, pembawaan atau potensi apa – apa, masih dalam keadaan jiwa
yang kosong, belum berisi sesuatu apapun. Karena masih dalam keadaan bersih,
kosong, tidk ada tulisan atau gambaran apa-apa baik pada kertas atau papan
berlapis lilin tersebut, sehingga mau diisi, diwarnai digambari atau dibuat apa
tergantung dan ditentukan oleh lingkungan yang menguasai. Begitu juga yang
terjadi pada perkembangan diri manusia menurut teori ini sangat tergantung dari
lingkungannya. Sama sekali tidak ada pembawaan, bakat, potensi yang dapat
berkembang sendiri, bahkan dianggap tidak ada semuanya, sehingga dapat dibawa
kemana atau dibentuk apa tergantung dari lingkungan yang menguasainya. Berarti
lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan atau membentuk perkembangan
manusia, lingkungan 100 % yang menentukan perkembangan manusia. Atau dengan
kata lain kekuasaan pengembangan anak ada pada pendidikan. Pendidikan atau
lingkunganlah berkuasa atas pembentukan anak. Karena itu aliran ini disebut
juga aliran optimisme.
Sejalan dengan
aliran ini yang tidak mengakui adanya pembawaan bakat atau potensi lainnya,
adalah aliran behaviourisme. Aliran ini mengajarkan bahwa perkembangan yang
diinginkan dari anak adalah tergantung dari pembiasaan pada diri anak anak
menurut kebiasaan – kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungannya. Persamaan
yang lain dari aliran behaviorisme ini adalah optimisnya faktor lingkungan yang
berkuasa membentuk perkembangan anak sebagaimana yang dikemukakan oleh Wsatson
(tokoh aliran behaviorime) . “Berilah
saya sejumlah anak yang baik keadaan badanya dan situasi yang saya butuhkan,
dan dari setiap anak entah yang mana, dapat saya jadikan dokter, ahli hukum,
pedagang atau jika memang dikehendaki menjadi seorang pengemis atau seorang
pencuri”. Betapa optimisnya aliran ini
semuanya tergantung dari lingkungan, atau pendidikanlah penentu segalanya.
Benarkah
perkembangan ditentukan oleh lingkungannya ? jawaban pertanyaan tersebut dapat
dijelaskan dari ilustrasi contoh berikut : (1) Seorang anak desa melanjutkan
studinya, di kota
yang sangat berbeda dengan lingkungan desanya, setelah beberapa tahun kembali
lagi ke desa karena sudah lulus studinya. Secara umum kita akui anak tersebut
akan berbeda sekali tingkah lakunya dengan tingkah laku yang dulu. Sehingga
dapat disimpulkan berberdanya ini dipengaruhi oleh lingkungan kota dan/atau lingkungan pendidikannya, (2)
Dua bayi kembar yang diasuh oleh dua keluarga yang berbeda latar belakang
secara mencolok dari segi ekonomi (miskin – kaya), karakter (keras-lembut),
atau yang lainnya. Tentu saja lingkungan Tersebut akan mempengaruhi dua anak kembar
tersebut, baik dari segi sikap, bahasa, pendirian dan sebagainya. Benarkah
lingkungan merupakan satu – satunya penentu perkembangan anak ? jawaban
pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam contoh sebuah keluarga yang mempunyai
beberapa anak dari bapak ibu yang sama, dalam keadaan serba sama, dalam
ekonomi, karakteristik, dan yang lainnya sama. Atau bahkan mempunyai/terdapat
anak kembar diantara saudara – saudara lainnya. Tetapi apakah anak – anak dalam
keadaan dan kondisi yang serba sama tersebut mempunyai budi pekerti, watak,
kepandaian, kecerdikan, atau kpribadian yang sama ? Apakah anak – anak tersebut
dapat diharapkan sesuai betul dengan keinginan orang tuanya ? Apakah bisa baik
semua ? Jika teori tabularasa ini benar seratus persen, tentu pertanyaan tersebut
akan dijawab sama atau bisa.
ALIRAN
NATIVISME
Aliran ini
dipelopori oleh seorang bangsa Jerman bernama Arthur Schopenhouse yang hidup
pada abad 19, dilahirkan tahun 1788 dan meninggal dunia tahun 1860. teori ini
merupakan kebalikan dari teori tabularasa,
yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri – sendiri.
Pembawaan yang hanya ditentukan oleh pembawaannya sendiri – sendiri.
Pembawaanlah yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan
sama sekali tidak bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Jika
pembawaan jahaat akan menjadi jahat, jika pembawaannya baik akan menjadi baik.
Walaupun bagaimana baiknya, kerasnya dan tertibnya usaha pendidikan/lingkungan.
Hasil pendidikannya akan tetap sebagaimana pembawaannya. Mungkin bisa terjadi
selama dalam bantuan pendidikan dan pengawasan bisa baik, tetapi begitu sudah
berdiri sendiri jika memang dasarnya jelek akan kembali sebagaimana dasarnya
yang jelek itu. Jadi lingkungan sama sekali tidk bisa mempengaruhi terhadap
perkembangan atau hasil pendidikan anak. Perkembangan ditentukan oleh faktor
pembawaannya, yang berarti juga ditentukan oleh anak itu sendiri. Karena
lingkungan atau pendidikan sama sekali tidk bisa mempengaruhi perkemebangan
anak, dan potensi – potensi yang dimiliki bukannya hasil pendidikan melainkan
memang potensi yang sudah ada di bawa sejak lahir, sehingga tidak ada kepercayaan nilai pendidikan dapat
mempengaruhi, maka teori ini disebut juga dengan atau aliran pesimisme.
Benarkah
perkembangan itu dipengaruhi oleh pembawaan ? Untuk membuktikan kebenaran itu
dapat diambil beberapa contoh. Misalnya kalau orang tuanya seorang penyanyi
maka anaknya akan menjadi seorang penyanyi juga. Kalau orang tuanya seorang
pelukis maka anaknya akan menjadi seorang pelukis juga. Contoh lainnya, seorang
anak yang tidak berpembawaan usahawan biarpun dibesarkan dalam lingkungan
keluarga usahawan, maka hasilnya akan minim sekali. Bahkan akan tertekan dan
merasa jika dipaksakan.
Dua contoh
diatas lebih merupakan contoh pembawaan karena aktor keturunan, karena ada
kemungkinan menjadi seorang penyanyi atau pelukis tersebut diwariskan oleh
orang tuanya melalui sel – sel kelamin. Tetapi bisa juga tidak karena keturunan
jika pembawaannya semata – mata memang karena keunikannya dengan pribadi yang
lain. Sedangkan contoh yang terakhir lebih dapat merupakan contoh pemawaan
karena bakat, sebab bukan karena diwariskan karena sela – sel kelamin, dari
sama sekali tidak ada kemiripan dengan keluarganya. Jika orang tuanya usahawan
tentunya anaknya juga mempunyai pembawaan usahawan.
Benarkah
perkembangan anak – anak semata – mata ditentukan oleh faktor pembawaan ? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut dapat digambarkan contoh Ilustrasi sebagai
berikut. Apakah keluarga seorang yang baik pasti akan mempunyai anak yang baik
? Apakah seorang dari keluarga yang kurang baik akan mendapatkan anak – anak
yang kurang baik saja ? atau dengan pertanyaan sebaliknya, apakah anak – anak
yang jelek pasti dari keluarga yang jelek saja ? Tentu saja jawabannya, tidak.
Berarti ada faktor lain di luar diri anak tersebut, bukan semata – mata karena
pembawaannya (yang bersifat keturunan). Contoh lain bahwa perkembnagan bukan
semata – mata ditentukan oleh pembawaan (yang bersifat bakat). Apakah anak yang
kembar akan menjadi pribadi yang sama?, sama – sama menjadi baik atau sama –
sama menjadi anak yang jelek ?.
ALIRAN NATURALISME
Aliran ini
dipelopori oleh Jean Jaques Rousseau seorang Prancis yang hidup pada abad 18,
dilahirkan pada tahun 1712 dan meninggal dunia pada tahun 1778. aliran ini ada
persamaannya dengan teori nativisme, bahkan kadang – kadang disamakan. Padahal
mempunyai perbedaan – perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan
bahwa sejak lahir anak sudah memiliki pembawaan sendiri – sendiri baik bakat,
minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan – pembawaan lainnya. Pembawaan
akan berkembang sesuai dengan lingkungan yang alami, bukan lingkungan yang
dibuat – buat. Pembawaan yang dibawa anak hanya pembawaan yang baik saja, tidak
sama dengan teori nativisme yang meliputi pembawaan baik dan buruk. Secara
alami pembawaan itu akan berkembang sesuai dengan alamnya sendiri – sendiri
secara baik, jika anak menjadi buruk maka lingkunganlah dalam pernyataan yang
dikemukakan Rousseau : “Semua adalah baik dari tangan Pencipta, semua menjadi
buruk di tangan manusia”.
Melihat
pernyataan Rousseau dari uraian diatas bahwa sebetulnya lingkungan juga ikut
mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Tetapi tidak berpengaruh positif,
melainkan hanya berpengaruh negatif saja, apabila lingkungan itu dibuat –
dibuat, seperti lingkungan pendidikan.
Dengan kata lain
jika pendidikan diartikan usaha sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak
seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan
anak kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap
jelek terhadap perkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan
anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat –
buat (alami), maka pendidikan yang dimaksud terakhir ini berpengaruh positif
terhadap perkembangan anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rousseau,
“Pendidikan bukanlah suatu persiapan untuk hidup, melainkan memang hidup itu
sendiri”. Pendidikan bukanlah harus mengikuti suatu prosedur tertentu,
melainkan merupakan perkembngan atau pertumbuhan individu yang alami”.
Jadi lingkungan
yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat –
buat, lingkungan yang alami, begitu juga yang berpengaruh terhadap perkembangan
anak bukanlah pendidikan yang disengaja, melainkah pendidikan yang tidak
disengaja. Pendidikan yang disengaja hanya berpengaruh negatif terhadap anak
(karena pengaruh negatif inilah sehingga teori disebut juga negativisme). Yang
menentukan yang memimpin, yang memerintah, yang mengarahkan hanyalah alamnya
sendiri sesuai dengan pembawaan baik yang dimiliki anak sejak lahir. Tugas
pendidikan adalah membiarkan anak berkembang menurut alamnya dan menjauhkan
pengaruh yang jelek, karena kodrat pembawaan anak adalah baik.
Benarkah
pembawaan mempengaruhi tehrdap perkembangan ? Benarkah yang dimiliki anak
hanyalah pembawaan baik saja? Benarkah lingkungan atau masyarakat itu buruk ?
Adakah pendidikan tanpa sengaja ? Pertanyaan pertama sudah terjawab pada pembahasan
aliran nativisme. Jawaban pertanyaan keuda sangat tergantung dari keyakinan
kita, terutama dari ajaran agama yang kita anut, karena pembawaan yang dibawa
sejak lahir sama sekali tidak bisa dibuktikan secara empirik, sebab sejak lahir
bahkan ketika masih dalam kandungan anak sudah tidak bisa dipisahkan dari
lingkungannya. Sedangkan keyakinan yang mana ada pembawaan baik dan pembawaan
buruk, memang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari – hari tanpa dikaitkan
apakah terbawa sejak lahir atau tidak.
Untuk menjawab pertanyaan ketiga, dapat dihubungkan dengan pertanyaan kedua
tetai terjadi kontradiktif. Kalau sejak dilahirkan anak telah memiliki
pemebawaan yang baik, kemudian lingkungan atau masyarakat dikatakan buruk,
padahal masyarakat adalah terdiri dari sekumpulan individu, tentunya justru
masyarakat akan berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Atau masyarakat
tetap berpengaruh jelek terhadap anak, tetapi pembawaannya anak yang dibawa
sejak lahir buruk semua. Tentunya yang terakhir tidak kita setujui. Yang dapat
kita akui adalah bahwa masyarakat atau lingkungan dapat berpengaruh baik dan
dapat berpengaruh buruk, sedangkan pertanyaan keempat dapat dijawab dengan dua
pilihan tentang pengertian pendidikan, diartikan secara luas yaitu meliputi segala
sesuatu yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Berarti pendidikan
meliputi semua pengalaman manusia, meliputi semua kejadian. Atau pendidikan
dapat diartikan hidup dan kehidupan itu sendiri. Contohnya tayangan – tayangan
film yang maksud sutradara adalah agar pesan tertentu yang baik dapat dimiliki
oleh penonton, tetapi yang ditangkap atau dicontoh oleh penonton jusru tingkah
laku – tingkah laku yang lain, bahkan yang jelek, yang sebetulnya tidak
diperhitungkan oleh sutradara, tetapi justru tingkah laku itulah yang ditangkap
dan dimiliki oleh penonton. Pendidikan yang demikianlah yang dimaksud oleh
Rosseau, pendidikan yang alami yang tanpa ada kesengajaan untuk membawa ke
maksud tertentu. Contoh di atas justru maksud sutradalah yang tidak dikehendaki
dalam pengertian pendidikan ini. Biarlah apa yang akan ditangkap oleh penonton
dan nantinya akan secara alami akan dibentuk oleh lingkungan secara alami pula.
Sedangkan
pengertian kedua, pendidikan diartikan usaha sadar dilakukan untuk membantu perkembangan
anak didik sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Bedanya dengan pengertian yang
pertama, dalam pengertian ini ada usaha secara sadar, ada kesengajaan dalam
melakukan kegiatan, ada usaha mempengaruhi dan ada usaha membawa anak kemaksud
tertentu, sekalipun nantinya keputusan tergantung dari anak didik, dan
pengertian pendidikan inilah yang kita jadikan dasar melakukan suatu
pendidikan. Justru pengertian pendidikan yang pertama dapat dikatakan
sebetulnya tidak da kegiatan pendidikan. Sekalipun kita menganut pengertian
pendidikan yang kedua, pengertian pendidikan yang pertama harus tetap kita
perhatikan sebab tetap banyak kejadian – kejadian di luar pendidikan yang kita
sengaja ini mempengaruhi terhadap ank didik atau manusia pada umumnya.
ALIRAN KONVERGENSI
Aliran ini
dipelopori oleh William Stern, seorang Jerman yang hidup pada abad 20,
dilahirkan pada tahun 1871 dan meninggal
dunia pada tahun 1938. sesuai dengan namanya teori ini berusaha memadukan dua
teori dimuka yang terlalu ekstrim dari pandangan yang berbeda, di satu sisi
hanya mengakui lingkungan (empirisme ) yang menentukan perkembangan, sama
sekali tidak mengakui adanya pembawaan, sedangkan disisi lain hanya mengakui
pembawaan saja yang mempengaruhi perkembangan anak. Keduanya mengandung kebenaran
dan keduanya mengandung ketidakbenaran. Faktor pembawaan dan faktor lingkungan
sama – sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat
dipisahkan, sebagaimana teori nativisme, teori ini juga mengakui bahwa
pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembawaan baik dan
pembawaan buruk. Pembawaan yang di bawa anak sejak lahir tidak akan bisa
berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan
pembawaan tersebut. Sebaliknya, sekalipun lingkungan yang bagaimana baiknya
tidak akan menghasilkan perkembangan yang baik jika memang pada diri anak tidak
ada pembawaan atau bakat seperti yang diharapkan akan dikembangkan. Sebagai
contoh, diketemukan seorang anak di India yang tidak bisa berbicara
sebagaimana seusia sebayanya (9 tahun) dan tidak bisa berjalan tegak
sebagaimana pada umumnya, tetapi menggunakan tangan dan kaki sebagaimana
binatang. Padahal telah kita ketahui bahwa manusia memiliki pembawaan berjalan
tegak dan mempunyai potensi berbahasa yang terus berkembang, tetapi karena anak
tadi dibesarkan oleh seekor serigala maka segala tingkah lakunya menyerupai
binatang. Contoh ini menggambarkan ada pembawaan baik, tetapi tidak di dukung
oleh lingkungan yang baik sehingga tidak bisa berkembang sesuai dengan yang
diharapkannya. Contoh yang lain, seorang anak normal seusia 5 bulan kita
harapkan sudah dapat berjalan. Dengan menggunakan berbagai teknologi modern
untuk mengupayakan agar bisa berjalan. Upaya tersebut akan sia – sia, bahkan
bisa jadi fatal akibatnya misalnya patah kaki atau berbentuk X atau 0. kemudian
anak normal usia satu tahun kita harapkan sudah bisa berbicara dengan baik
dengan bantuan berbagai alat teknologi modern sekalipun, anak tersebut tetap
tidak akan bisa berbicara dengan baik. Sebab pada pembawaannya anak baru dapat
bisa berjalan sekitar umur satu tahun dan anak bisa berbicara dengan baik
sekitar umur tiga tahun. Pada contoh terakhir ini upaya memberikan lingkungan
yang baik tetapi tidak di dukung oleh pembawaannya. Sekalipun ada potensi untuk
dikembangkan, yakni potensi bisa berjalan dan potensi bisa berbicara, tetapi
pembawaannya ini terkait juga dengan waktu, yaitu munculnya potensi tersebut
sehingga dapat berjalan atau dapat berbicara.
Berdasarkan pandangan tersebut, William
Stem menyimpulkan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dan
lingkungan, yang keduanya merupakan sebagaimana dua garis yang bertemu atau
menuju pada satu titik yang disebut konvergensi. Istilah yang digunakan oleh
Kihajar Dewantara adalah dasar sebagai pembawaan dan ajar sebagai
lingkungannya, yang keduanya memkpengaruhi terhadap perkembangan anak didik,
sama – sama tidak bisa dipisahkan. Bahkan dilukiskan bahwa anak sejak lahir
telah membawa pembawaan sendiri – sendiri bagaikan meja berlapis lilin yang tertulisi
remang – remang, tergantung dan lingkungannya untuk memperjelas tulisan –
tulisan yang baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan – tulisan yang
baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan – tulisan yang jelek tidak
akan muncul atau bahkan kalau bisa dihapuskannya. Tulisan baik dan buruk
dimaksudkan bahwa pada diri manusia ada pembawaan baik dan ada pembawaan buruk.
Dari uraian ketiga teori tersebut, teori
yang cocok dapat diterima sesuai dengan
kenyataan adalah teori konvergensi, yang tidak mengekstrimkan faktor pembawaan,
faktor lingkungan atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak,
melainkan semuanya dari faktor – faktor tersebut mempengaruhi terhadap
perkembangan anak. Akan tetapi teori ini juga tidak bisa diterima jika anak
didik sebagai subjek yang berkembang hanya dianggap menerima akibat pengaruh
dari faktor – faktor tersebut. Artinya anak dalam menerima atau dipengaruhi
faktor tersebut hanya menerima secara pasif saja bagaikan benda yang ditekan
dari arah yang berbeda sehingga dapat ditentukan arah, kecepatan, jauh –
dekatnya benda tersebut terlempar. Hal ini bertentangan dengan hakikat manusia
sebagai manusia yang aktif. Sebagai contoh orang tua yang mempunyai status
sosial ekonomi yang baik bahkan sangat memperhatikan terhadap tingkah laku
anaknya walau yang sekecil apapun, menginginkan anaknya yang telah
menyelesaikan sekolah SD dan SMP dengan baik untuk melanjutkan ke suatu sekolah
SMTA yang baik yang sesuai dengan minat anak tersebut. Setelah diterima dan
mengikuti pendidikan disekolah tersebut, tiba – tiba ditengah jalan anak
tersebut menunjukkan tingkah laku yang negatif, misalnya bolos, pulang
terlambat, bahkan kadang – kadang tidak pulang. Padahal tingkah laku terlambat
, bahkan kadang – kadang tidak pulang. Padahal tingkah laiu tersebut tidak
pernah dilakukan pada masa pendidikan sebelumnya. Kemudian orang tua anak
tersebut berusaha mencari penyebab dan penyelesaiannya. Misalnya dengan
menghubungi teman – teman terdekatnya dengan pesan – pesan tertentu, menghubungi
guru – guru termasuk petugas BP-nya, menasihati, mengajak membicarakan dengan
anak tersebut dan berbagai usaha telah ditempuhnya, bahkan usaha yang bersifat
irasionalpun telah ditempuhnya, tetapi rupanya tidak membuahkan hasil dan
gagallah sekolah anak tersebut, gagallah cita – cita orang tua agar anaknya
menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama.
Dari contoh
tersebut dilihat dari teori konvergensi yang apabila memperlakukan anak semata
– mata sebagai objek penegaruh faktor pembawaan dan lingkungan, atau dianggap
manusia yang pasif maka teori tersebut masih tetap salah. Karena dilihat dari
pembawaannya anak tersebut dari orang tua yang baik status sosial ekonominya.
Anak tersebut dapat menyelesaikan studi sebelumnya dengan baik. Sedangkan
lingkungan yang ada juga dapat dikatakan baik. Hal ini dapat dilihat dari usaha
orang tua, perhatian orang tua, pilihan sekolah yang baik, dan usaha – usaha
lainnya untuk mempengaruhi anaknya agar mempunyai masa depan yang baik. Akan
tetapi pembawaan dan lingkungan tersebut tidak bisa seratus persen menentukan
keberhasilan perkembangan anak. Hal ini berarti selain kedua faktor tersebut,
keaktifan diri : reaksi, pilihan, penentuan dari diri anak tersebut ikut
mempengaruhi terhadap perkembangan anak.
Bahkan oleh
Kihajar Dewantara dikatakan keakktifan diri inilah yang dapat dipengaruhi oleh
pendidikan agar dapat menguasai diri, jika penguasaan diri dimiliki, maka jiwa
atau pembawaan yang jelek dapat dikuasai, dikendalikan, bahkan mungkin bisa
dihilangkan. Sebab pada dasarnya ada pembawaan baik dan ada pembawaan jelek.
Dan dalam jiwa manusia terdapat bagian yang bersifat biologis, yaitu keadaan
jiwa yang berhubungan dengan perasaan yang sudah mendarah daging pada diri
manusia, dan bagian inilah yang tidak dapat diubah oleh lingkungannya.
Sedangkan bagian jiwa lainnya adalah yang bersifat intelligibel, yaitu keadaan
jiwa manusia yang berhubungan dengank pikiran. Keadaan inilah yang dapat
dipengaruhi oleh lingkungan dan keadaan, termasuk pendidikan, jika bagian ini
terus dikembangkan sehingga dapat menguasai diri, maka bagian biologis jiwa
manusia tersebut dapat dikuasai.
Dalam kaitannya
dengan keaktifan pada diri manusia jika hal tersebut sudah termasuk dalam
pembawaan, maka teori konvergensi sudah memadai.
Pertanyaan selanjutnya, manakah diantara
faktor hereditas dan faktor lingkunganl yang mempunyai pengaruh besar terhadap
perkembangan anak. Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak bisa segera
ditentukan yang mana yang lebih mempengaruhi terhadap perkembangan, seperti
pada teori nativisme atau teori empirisme. Teori konvergensi tidak membedakan
mana yang lebih menonjol, tetapi keduanya merupakan faktor yang sama – smaa
saling mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Baik faktor heriditas maupun
faktor lingkungan keduanya mempunyai ciri sendiri – sendiri, keduanya mempunyai
rentangan kuantitas dan kualitasnya. Sebagai ilustrasinya, pembawaan yang
dibawa anak bagaikan menja berlapis lilin yang sudah tercoreti, ada yang sudah
penuh dan ada yang belum penuh, ada yang tercoreti secara remang – remang dan
ada yang sudah lebih jelas. Begitu juga yang terjadi pada lingkungan, ada yang
kuat dan sampai yang kurang kuat, dan banyak sedikitnya macam lingkungan yang
mempengaruhi juga berbeda. Sehingga tidak bisa ditentukan mana yang lebih kuat
di antara keduanya. Yang penting dengan adanya keaktifan pada diri anak, anak
perlu mendapat bantuan agar dapat mengetahui dan menyadari apa yang jadi
pembawaannya. Pembawaan – pembawaan yang buruk kperu dihambat bahkan
dihilangkan perkembangannya. Juga perlu disadarkan bahwa di lingkungan sekitar
anak terdapat lingkungan yang bermacam ada yang baik dn ada yang buruk. Dengan
keaktifan pada diri, anak dapat menyadari mana yang menunjang dan mana yang
menghambat perkembangan pembawaan yang dibawanya.
ALIRAN
PENDIDIKAN ABAD XX
Beberapa aliran pendidikan yang termasuk
aliran pendidikan modern sebagai berikut :
Aliran Essensialisme
Bagi aliran ini, pendidikans
sebagai pemelihara kebudayaan, yaitu ingin kembali kepada kebudayaan lama
warisan sejarah, yang telah membuktikan kebaikan - kebaikannya bagi kehidupan manusia.
Kesalahan diri kebudayaan modern
sekarang menurut essensialisme ialah kecenderungannya, bahkan gejala – gejala
penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu.
Proses belajar menurut essensialisme
-
Melatih
daya jiwa yang potensial ada
-
Proses
belajar sebagai menyerap apa yang berasal dari luar. Yaitu dari warisan –
warisan sosial yang disusun di dalam kurikulum tradisional dan guru berfungsi
sebagai perantara.
-
Belajar
adalah proses aktif pribadi untuk mengerti dan menguasai sesuatu. Materi dan
isi yang dipelajari itu ialah apa yang
tersimpul dalam istilah kurikulum. Yaitu kurikulum yang kaya, yang berurutan
dan sistematis yang didasarkan pada target tertentu, yang tidak dikurangi
sebagai satu kesatuan pengetahuan, kecakapan-kecakapan, dan sikap yang berlaku
di dalam kebudayan yang demokratis.
Isi pendidikan
perlu ditetapkan guna efektifitas pembinaan kepribadian. Artinya perlu ada
materi pokok yamg mengarangkan pengetahuan sebagai isi yang harus dikuasai
dalam kehiduanya.
Fungsi guruh
adalah sebagai perantra antara bahan yang telah ditentukan berdasar standart
itu dengan murid sebagai penerima.
Sekolah terutama
berfungsi mendidik warga negara supaya hidup sesui prinsip-prinsip dan
lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat. Demiashkevich berpendapat
bahwa fungsi sekolah terutama sebagai pesat intelectuall training dan latihan
daya jiwa yang sudah ada sebagai hereditas.
Home menganggap
kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Yang utama ialah
essential studies yang meliputi motede ilmiah, dunia organis dan an-organis,
apresiasi seni.
Aliran
Progresivisme
Progresivesme
lahir sebagi pembaharuan dalam dunia pendidikan terutama sebagai lawan terhadap
kebijaksanaan-kebijaksanaan konvensional yang diwarisi dari abad ke sembilan
belas.
Progresif
(berkembang maju) adalah sifat alami kodrat, dan itu berarti perubahan, dan
perubahan berarti sesuatu yang baru. Progresivisme menganggap pendidikan mampu
merubah dalam arti membina kebudayan yang baru yang dapat menyelamatkan manusia
bagi hari depan yang makin komplek dan menantang.
Anak
berada didalam lingkungan yang selalu mengalami perubahan, perkembangan. Dan
anak memiliki potensi dan kemampuan intelegensi yang dapat memecahkan problema
hidupnya. Dan proses pendidikan terutama dipusatkan untuk latihan dan
penyempurnan intelgensi.
Dalam
proses belajar, harus disdari bahwa yang aktif adalah the whole child, seluruh
tingkah laku sebagai perwujudan dari seluruh aspek keribadian secara utuh.
Belajar
sesungguhnya bukan semata-mata terjadi di dalam sekolah. Belajar terjadi dalam
semua kesempatan dan tempat, jadi termasuk dalam masyarakat.
Dewey
menyatakan sekolah yang baik ialah yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh
semua jenis belajar yang membantu murid untuk berkembang. Kurikulum yang baik
ialah seperti fingsi laboratorium. Yaitu sebagai rentetan muridnya, yang dalam
beberapa aspek melkukan funsi ilmiawan.
Progesivme
menghendaki bentuk yang bervariasi dan isi kurikulum yang kaya, yaitu yang
mendorong perkembangan dan kemampuan praktis. Inilah yang di maksud kilatrick
dengan metode projek.
Aliran
Rekonstruksionisme
Tokoh
rekonstruksionisme ialah theidore brameld. Dinyatakan bahwah ada satu kebutuhan
amat mendesak untuk kejelasan dan kepastian bagi kebudayaan jaman modern, yang
sekarang mengalami ketakutan, lebimbangan dan kebingungan. Caranya berusaha
memebina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan
utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.
Rekontruksionisme
ingin merobek tata susunan lama, dan membangun tata susunan hidup kebudayaan
yang sama sekali baru, melalui lembaga dan proses pendidikan. Aliran ini
mencinta-citakan terwujudnya satu dunia baru dengan satu kebudayaan baru di
bawah satu kedaulatan dunia, dalam kontrol mayoritas umat manusia.
Pragmatisme adalah aliran yang
mengajarkan bahwah yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benat
dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan
pragmatisme adalah logika pengamatan.
Aliran
ini bersedia menirima segala sesuatu asal saja membawah akibat yang prktis.
Pengalaman-pengalaman pribadi diterimanya asal bermanfaat. Patokanya adalah “manfaat
bagi hidup praktis”.pelopor Pragmatisme adalah Williams
James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952) .
Pengetahuan adalah perbuatan.
Kadarkebenarannya akan tampak dari pengujian oleh pengalaman-pengalaman di
dalam praktik. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur
pengalaman-pengalaman dan untuk mengetahui arti yang sebenarnya adalah metode
induktif . metode ini bukan hanya berlaku untuk ilmu pengetahuan fisika,
melainkan juga bagi persoalan-persoalan social dan moral.
Menurut
Dewey kepribadian adalah sesuatu yang harus dicapai, sesuatu yang sedang dalam
pembentukan. Maksud dan tujuan sekolah untuk membangkitkan sikap hidup
demokratis dan untuk memperkembangkannya . hal ini harus dilakukan dengan
berpangkan kepada pengalaman-pengalaman anak.Harus diakui bahwa tidak semua
pengalaman berfaedah oleh karena itu sekolah harus memberikan sebagai “bahan
pengajaran” . Pengalaman-pengalaman yang
berfaedah bagi hari depan anak didik dan sekaligus dapat dialami oleh anak
didik itu pada masa kini. Anak didik harus menyelidiki, menyaring, dan mengatur
pemngalaman-perngalaman yang demikian itu.
DUA ALIRAN POKOK PENDIDIKAN DI INDONESIA
Setelah
kita pelajari berbagai aliran pendidikan secara umum baik aliran klasik, aliran
baru maupun aliram modern, yaitu merupakan pemikiran, pandangan, atau
gagasan-gagasan tentang bagaimana seharusnya melakukan pendidikan yang terjadi
sebelum abad -19 (aliran baru), mereaksi gagasan-gagasan abad 19 (aliran
modern), perlu juga dipelajari beberapa aliran pendidikan yang terjadi di masa
sendiri. Macam-macam aliran tersebut dapat diketahui dari pandangan-pandangan
dan lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh berbagai ahli pendidikan di Indonesia .
Macam dan jenis lembaga pendidikan tersebut adanya ragam latar belakang dan
kepentingan pendiriannya. Ada yang karena kepentingan ras dan suku seperti
sekolah serikat Ambon, karena
kepentingan memperjuangkan kaumsesamanya seperti sekolah Dewi Sartika dan
sekolah Kartini, karena kepentingan persatuan seperti sekolah Budi Utomo karena
kepentingan agama seperti sekolah-sekolah yang diadakan oleh lemabaga-lembaga
pendidikan yang dibawah naungan organisasi kemasyrakatan dan keagamaan (NU,
Muhammadyah, dsb) dan masih banyak lagi latar belakang dan kepentingannya
sehingga bermunculan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Walaupun
demikian kesemuanya jenis lembaga yang bermunculan tersebut bermaksud ingin
mewujudkan yang berciri khas atau sesuai dengan karakteristik sesuai dengan
budaya bangsa Indonesia
sendiri.
Dari
berbagai aliran penddidikan di Indonesia ada dua aliran pokok yang perlu kita
pelajari yaitu pendidikan Taman Siswa dan Pendidikan INS. Hal ini antara lain
karena latar belakang dan kepentingan pendiriannya untuk semua bangsa secara
umum tanpa melihat ras, suku, daerah, wilayah , keyakinan, dan keagamaan, atau
golongan tertentu saja, sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia.
Disamping itu waktu pendiriannya terutama karena mereaksi pendidikan yang
diselenggarakan oleh pemerintak colonial Belanda yang sangat tidak
menguntungkan kepentingan bangsa Indonesia , baik kesempatan yang diberikan,
diskriminasi bangsa dan golongan, maupun kepentingan hasil pendidikan misalnya
hanya untuk menyiapkan pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh Belanda. Juga oleh
karena gagasan atau pemikiran-pemikirannya dan realisasi pendidikannya telah
diakui oleh tokoh-tokoh dari aliran pendidikan dunia. Dan yang tidak kalah
pentingnya bahwa gagasan atau pemikiranya telah dilaksanakan dalam pendidikan
nasional sekarang ini seperti system among,
pelaksanaan sekolah kejuruan dan sebagainya.uraian secara mendalam akan
diuraikan pada bahasan berikut ini.
Pendidikan Taman Siswa
Riwayat Singkat Pendidikan Taman Siswa
Pendiri
pendidikan Taman S atau lebih dikenal dengan perguruan taman siswa ini adalah seorang bangsawan dari Yogyakarta
bernama RM. Suwardi Suryaningrat. Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei
1889dari ayah bernama K.P.H.
Suryaningrat .Setelah usia
39 tahun atau 40 tahun (tahun jawa), tepatnya pada tanggal 23 pebruari 1928
berganti nama menjadi Kihajar Dewantara. Pendidikan yang telah ditempuh dimulai
dari Sekolah Dasar Belanda (Europesche
Lagere School ),
kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah dokter di Stovia. Berhubung
kekurangan biaya, sekolah ini ditinggalkan, kemudian bekerja dan memasuki dunia
politik bersama sama lulusan Stovia yang lain seperti Dr.Cipto Mangun Kusuma
dan Dr. Danurdirjo Setyabudi(Dr. Douwes Dekker).
Perjuangan sebelum mendirikan Taman Siswa
Sebelum
memasuki lapangan pendidikan, bersama dengan dua teman lainnya Dr.Cipto Mangun
Kusuma dan Dr. Danurdirjo Setyabudi, Kihajar Dewantara mendirikan organisasi
politik yang bersifat revolusioner, sehingga terkenal dengan nama tiga
serangkai pendiri Indische Partij (IP).
Dalam
saat itu juga (1912) Kihajar Dewantara bersama dengan Dr. Cipto Mangunkusuma
mendrikan Komite Bumiputera yang bertujuan memprotes adanya keharusan bagi
rakyat Indonesia yang dijajah untuk merayakan kemerdekaan Nederland dari
penindasan Napoleon yang dengan paksa mengumpulkan uang sampai kepelosok -
pelosok.Dengan brosur pertama yang berjudul “Seandainya aku orang Belanda”dari
karyanya sendiri yang secara singkat isinya tidak selayaknya bangsa Indonesia
yang ditindas ikut merayakan kemerdekaan dari bangsa Belanda yang menindasnya.
Karena
dianggap bahaya, Kihajar Dewantara diinternir ke Bangka, kemudian dieksternir
ke negeri Belanda atas permintaannya sendiri.Pada massa ini dan ditempat inilah
ia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari masalah pendidikan dan pengajaran.
Setelah 4 tahun, dengan tanpa diminta putusan eksternir itu dicabut sehingga ia
dapat pulang kembali ke tanah airnya.
Sekembali
ketanah airnya ia meneruskan perjuangan politiknya, dimulai lagi dari menulis
di surat kabar
yang berjudul “ Kembali ke Pertempuran” . ia menjadi sekretaris politik , dan
menjadi redaktur tiga majalah dari partai politik (National Indesche Partij)
tersebut yaitu De Beweging, Persatuan India , dan Penggugah. Dengan aktifnya kedunia
politik hidupnya hanya untuk masuk dan keluar penjara.
Karena
semakin kejam Pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia, lebih-lebih
terhadap pergerakan rakyat Indonesia dan agar perjuangan untuk kepentingan
bangsa lebih bermanfaat maka Kihajar Dewantara meninggalkan medan politik yang
nampak, memasuki medan pendidikan dan pengajaran (1921) dimulai dari mengajar
pada Sekolah Adhidarma kepunyaan kakaknya R.M Suryopranoto di Yogyakarta.
Perjuangan setelah mendirikan Taman Siswa
Setlah
satu tahun mengajar di Adhidarma Kihajar Dewntara mendirikan sekolah yang
sesuai dengan cita-citanya sendiri (3 Juli !922) dengan nama “Natinal Onderwisj
Institut Taman Siswa ” yang kelak diubah menjadi Perguruan Kebangsaan Taman
Siswa. Sekolah ini mula - mula hanya meliputi bagian Taman Anak dan Bagian
Kursus Guru saja.
Perjuangannya
mengalami banyak rintangan , tetapi semuanya dapat diatasi berkat keberanian
dan keuletan dari sifat yang dimilikinya, yang dapat dilihat dari beberapa
peristiwa berikut ini.
Dalam
tahun 1924 ia dikenakan pajak rumah tangga, tetapi ia tidak suka membayarnya , karena
keluarganya hanya menempati dua kamar yang dikelilingi kelas kelas di tengah
perguruannya. Menurut taksirannya seharusnya tidak kena pajak, dan
barang-barang milik perguruan juga
seharusnya bebas dari pajak tersebut. Akhirnya barang-barang kepunyaan
Taman Siswa dilelang di depan umum. Tetapi kemudian pajak itu dikembalikan
setelah Kihajar Dewantara mengajukan protes. Dan atas kedermawanan pembeli,
barang - barang milik Taman Siswa yang terlelang tersebut diserahkan kembali
kepada Taman Siswa.
Rintangan
berikutnya adanya ordonansi Sekolah partikelir yang dikeluarkan pada tanggal 17 September 1932 , dimana isinya : Sekolah
Partikelir harus minta izin dahulu; guru-guru sebelum memberi pelajaran harus
memiliki izin mengjar ;dan isi pelajaran tidak boleh melanggar peraturan negeri
dan harus sesuai dengan sekolah negeri.
Kihajar
Dewantara menentangnya, karena ordonansi itu diangap melampaui batas. Segera ia
mengirim kawat protes kepada Gubernur Jendral. Sikap tersebut mendapat sambutan
dari partai-partai serta banyak harian dan diperjuangkan pula di Volkraad.
Akhirnya ordonansi itu dibatalkan (1933).
Tipu
muslihat lain dengan dikeluarkan “Larangan Mengajar”. Selama 2 tahun
(1934-1936) Guru Taman Siswa yang terkena korban lebih dari 60 orang bahkan ada
cabang Taman Siswa yang ditutup selama satu tahun.
Mulai
bulan Pebruari taun1935 Taman siswa terkena
lagi peraturan tentang tunjangan anak yang mulai tahun ini hanya diberikan
kepada pegawai negeri yang anaknya bersekolah pada sekolah negeri,sekolah
partikelir mendapatkan subsidi,sekolah-sekolah lain yang dapat hak memakai salah satu nama sekolah negeri,
misalnya HIS, Voolks Schooldan sebagainya. Oleh perjuangan Kihajar Dewantara
akhirnya mulai tahun 1938 tunjangan anak bagi semua pegawai sama tanpa melihat sekolah
yang dimasuki.
Perjuangan
lainnya adalah menentang Pajak Upah yang diberlakukan tahun 1935. Kihajar
Dewantara menentangnya karena dalam Taman Siswa tidak ada majikan dan buruh
,tetapi atas dasar kekeluargaan. Tuntutannya berhasil tahun 1940 sehingga
guru-guru Taman Siswa dibebaskan dari PajakUpah tersebut.
Pada
jaman Jepang juga dikeluarkan peraturan tentang sekolah partikelir, yang
diperbolehkan hanya sekolah kejuruan saja (kecuali sekolah guru), misalnya
urusan rumah tangga, pertanian, perindustrian, dan lain-lainya. Karena itu
Taman Dewasa diubah menjadi Taman Tani, Taman Madya dan Taman Guru dibubarkan.
Pada tahun ini ia pindah ke Jakarta
karena diangkat sebagai salah seorang pemimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat).
Pada
zaman kemerdekaan ia pernah berturut – turut Mentri Pendidikan Pengajaran dan
Kebudayaan yang pertama, Anggota dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung,
Anggota Parlemen, serta mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu
Kebudayaan dari Universitas Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1956. Dan pada
tanggal 26 april 1959
Kihajar Dewantara meninggal dalam usia 70 tahun.
GAGASAN
, DASAR DASAR TUJUAN PENDIDIKAN
Gagasan
Kihajar
Deantara berpendapat pendidikan (termasuk pengajaran) untuk tiap tiap bangsa
berarti pemeliharaan guna mengembangkan benih turunan dari bangsa itu, agar
dapat berkembang dengan sehat lahir dan batin. Untuk itu manusia individu harus
dikembangkan jiwa raganya dengan mempergunakan segala alat pendidikan yang
berdasarkan adapt istiadat rakyat.
Ia
menilai bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh colonial Belanda tidak
sesuai dengan tuntunan konsep diatas,karena tidak berdasarkan kebutuhan rakyat Indonesia .
Pendidikan yang diselenggarakan hanya cocok untuk colonial saja, tidak
disesuaikan dengan jiwa raga bangsa Indonesia .
Selanjutnya
ia menganggap pendidikan yang diselenggarakan colonial tidak dapat memupuk dan
menjamin perikehidupan bersama, membuat selalu bergantung pada penjajah, tidak
menjadikan manusia yang merdeka. Untuk mengubah keadaan ini tidak akan lenyap
jika hanya perlawanan politik saja, melainkan harus juga dipentingkan
penyebaran hidup merdeka dikalangan rakyat dengan cara pengajaran yang disertai pendidikan nasional.
Pendidikan
nasional yang dimaksud adalah suatu sistem pendidikan yang berdasarkan atas
kebudayaan kita sendiri dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Dalam pada itu
“intelktualisme” harus dijauhi dan harus menerapkan sistem mengajar yang
dinamai sistem Among yang menyokong
kodrat anak didik bukan dengan “perintah-paksaan”, tetapi dengan tuntunan
berkembanglah hidup lahir batin anak menurut kodratnya sendiri dengan subur dan
selamat . dalam sistem Among ini
dikemukakan dua dasar pokok, yaitu (1) Kemerdekaan sebagai syarat untuk
menghidupkan dan mengerakkan kekuatan lahir dan batin hingga dapat hidup
merdeka (dapat berdiri sendiri) (2)
kodrat alam, sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan
secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.
Untuk dapat
mempraktikan pendidikan nasional itu haruslah ada kemerdekaan seluas-luasnya.
Karena itu janganlah suka menerima bantuan yang dapat mengikat diri , sedangkan
untuk dapat berdiri langsung haruslah dijalankan “cara berbelanja sendiri” dengan bersendi atas “kekuatan sendiri” (prinsip non-cooperation dan prinsip self help. Selain dari pada itu
pengajaran harustersebar di kalangan rakyat yang terbanyak, janganlah hanya
dierikan kepada lapisan yang tertinggi saja. Kekuatan bangsa tidak akan
berkembang, jika kam elite saja yang merupakan kaum terpelajar (prinsip demokrasi)i
Dasar
pendidikan
Dasar atas segala azas untuk segala
usaha Taman Siswa baik mengenai pendidikan atau pengajaran, maupun yang
berhubungan dengan organisasi maupun adat istiadat dalam hidup
ke-tamansiswa-an” adalah azas 1922, dan dasar-dasar 1947. Azas ini merupakan azas
perjuangan untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda serta sekaligus untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dan sifatnya yang nasional dan demokratis.
Azas ini nanti akan tetap hidup sebagai sifat-sifat yang hakiki dari Taman
Siswa ,yang tak dapat diubah, dikurangi atau ditambah selama Taman Siswa dipakai. Azas ini diumukan
dan disahkan oleh Kongres Taman Siswa yang pertama di Yogya karta yang
bertepatan dengan berdirinya Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 tersebut
adalah (1) setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri engan
mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum. Dan tujuannya adalah
mendapatkan tertib dan damai. Perlu sekali orang dapat tumbuh menurut kodrat
(bakat) tanpa adanya paksaan berupa apapun juga, sebab tiap paksaan merupakan
perkosaanterhadap hidup kebatinan anak. Alat pendidikan pemerintah dan hukuman
dalam ketertiban ditiadakan pendidikan wajib menjaga anak didik dengan suka
cita agar anak didik berkembang sesuai dengan kodratnya. Inilah yang disebut sistem
among, yaitu sebagai pimpinan
berdiridi belakang dengan semboyan tut
wuri handayani , yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada
anak didik untuk berjalan sendiri, dan tidak harus terus menerus mencampuri,
diperintah atau dipaksa. Pamong hanya wajib menyingkirkan segala sesuatu yang
merintangi jalannya anak serta hanya bertindak aktif serta mencampuri
tingkahlaku atau perbuatan anak apabila
mereka sendiri tidak mampu menghindarkan diri dari berbagai rintangan atau
ancaman keselamatan atau gerak majunya.(2) bahwa pengajaran harus membimbing
anak menjadi manusia merdeka dalam cipta, rasa dan karsadan dalam menggunakan
tenagannya.disamping memberikan pengetahuan yang perlu dan bermanfaat guna
kemerdekaan hidup lahir dan batin dalam masyarakat , guru harus mencari para
siswa mencari dan menggunakan pengetahuan itu. Dalam azas ini masih menggunakan
pengetahuan lebih lanjutdari azas kemerdekaan di atas, yakni dengan memberi
ketegasan kemerdekaan itu hendaknya dikenakan terhadap cara siswa berpikir,
yaitu agar siswa jangan terlalu dicekcoki atai disuruh menerima buah pikiran
orang lain saja, melainkan hendaknya para siswa disuruh mencari atau menemukan
sendiri berbagai nilai, keterampilan dan pengetahuan dengan menggunakan pikiran
dan kemampuannya sendiri. Untuk menyiapkan agar anak kelak betul-betul merdeka
lahir batin , hendaknya dilakukan dengan cara memerdekakan batinnya., pikiran
dan tenagannya .(3) Bahwa pendidikan harus didasarkan atas kebudayaan bangsa
Indonesia sendiri agar kelak anak tidak terpisah dari bangsanya dengan ajaran
ini taman siswa ingin mencegah sistem
pengajaran yang bersifat intelektualistik dan pola hidup yang kebarat-baratan
yang dapat memisahkan orang terpelajar dengan rakyat jelata pada umumnya.,(4)
bahwa pengajaran harus meliputi bagian rakyat yang terbesar, sebab kekuasaan
bangsa dan negara adalah paduan kekuatan warganya. Dari azas ini jelas bahwa
pendirian Taman Siswa yaitu lebih baik mengajukan pengajaran untuk rakyat
umumdaripada mempertinggi pengajaran tetapi mengurangi tersebarnya pendidikan
dan pengajaran, dengan kata lain Taman siswa lebih mementingkan pendidikan dan
pengajaran bagi rakyat umum , (5) bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang
sepenuh-penuhnya lahir dan batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri,
dan menolak bantuan apapun dan dari siapapun yang mengikat, baik berupa ikatan
lahir maupun batin.
Dengan
azas “hidup dengan kekuatan sendiri” inilah mengapa Taman Siswa mampu
mempertahankan kepribadiannya sepanjang masa (dalam masa penjajahan maupun
dalam masa emerdekaan sekarang ini), (6) Bahwa karena tiap usaha berdasarkan
atas kekuatan sendiri , maka segala sesuatu haruslah hemat dan segala sesuatu
ditutup dengan uang dari pendapatan sendiri pula. Itulah “sistem hidup di atas
kaki sendiri” dari azasitu tersirat keharusan untuk hidup sederhana dan hemat.,
dan (7) bahwa dalam memdidik harus menyerahkan diri untuk menghamba pada sang
anak dengan tanpa meminta suatu hak dan bebas dari segala ikatan. Dengan hati
yang suci ia wajib bekerja untuk kepentingan anak.
Azas
berhamba kepada anak ini menunjukkan hasrat Taman Siswa untuk menampilkan dalam
arti yang semurni-murninya sebagai pendidik anak, pendidik yang bekerja tanpa
pamrih, ikhlas, penuh pengorbanan, demi kebahagiaan anak semata. Kualifikasi pendidik
yang seperti inilah yang pantas berhak memiliki sebutan pamongatau istilah sekarang “pahlawan tanpa tanda jasa”
Dasar-dasar 1947
Setelah
bangsa indonesia
memproklamasikannya pada tangga 17 Agustus 1945 Taman Siswa meninjau kembali
semua peraturannya untuk disesuaikan dengan situasi baru. Pemerintah tidak lagi
berjuang melawan pemerintah kolonialdan tidak perlu lagi berjuang melawan
kolonial, serta tidak perlu lagi bersikap non-cooperation.
Dengan perjuangan 1922, Taman Siswa merasa mencapai apa yang dituju. Karena
kini indonesia
telah merdeka, Taman siswa harus bekerjasama
dan membantu usaha-usaha pemerintah Republik Indonesia dalam hendak memajukan
dan mencerdaskan bangsa. Maka dibentuklah panitia “ Mangunsarkoro” untuk tujuan
tersebut dan hasilnya adalah 5 azas, yang disebut “Dasar-dasar 1947” atau Panca Dharma. Dasar-dasar 1947 ini
sama sekali tidak bertentangan dengan azas 1922dan tidak pula mengubah inti
isinya.
Adapun
Dasar-dasar 1947 tersebut adalah (1)
Azas kemerdekaan, harus diartikan disiplin pada diri sendiri atas dasar nilai
hidup yang tinggii, baik sebagai hidup individu maupun sebagai hidup
masyarakat. Maka dari itu kemerdekaan menjadi alat mengembangkan pribadi yang
kuat dan sadar dalam suatu perimbangan dan keselarasan dengan masyarakat tertib
damai di tempat keanggotaannya, (2) azas kodrat alam, bahwa pada hakekatnya
manusia itu sebagai mahluk adalah satu
dengan kodrat alam ini. Ia tidak bisa lepas dari kehendaknya. Tetapi akan
merasakan bahagia apabila dapat menyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung kemajuan yang dapat
digambarkan bertumbuhnya tip-tiap benih suatu pohon yang kemudian berkembang
menjadi besar dan akhirnya berbuah setelah menebarkn benih yang baru kemudian
mengakhiri hidupnya, dengan keyakinan darmanya akan dibawa hidup terus dengan
tumbuhny lagi benih-benih yang disebarkan., (3) Azas kebudayaan, tidak berarti
asal memelihara kebudayaan, kebangsaan, tetapi pertama-tama membawa kebudayaan
kebangsaan itu ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan
dunia, dan kepentingan hidup rakyat lahir batintiap-tiap jaman dan keadaan, (4)
Azas Kebangsaan, yang berarti tidak boleh bertentangan dengn kemanusiaan
,malahan harus menjadi fiil (perbuatan) kemanusiaan yang nyata dan oleh karena
itu tidak mengandung arti permusuhan dengan bangsa lain. Melainkan mengandung
rasa satu dengan bangsa sendiri, rasa satu dalam suka dan duka, rasa satu dalam
kehendak menuju kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa, dan (5) Azas
Kemanusiaan, menyatakan bahwa dharma tiap-tiap manusia itu adalah mewujudkan
kemanusiaan, yang berarti kemajuan manusia itu lahir dan batin yang
setinggi-tingginya, dan juga bahwa kemajuan kemanusiaan yang tinggi itu dapat
dilihat pada kesucian hati orang dan adanya rasa cinta kasih terhadap sesama
manusia dan terhadap mahluk Tuhan seluruhnya, tetapi tidak bersifat kelembekan
hati, melainkan bersifat keyakinan akan adanya hukum kemajuan yang meliputi
alam semesta. Karena dasar cinta kasih kemanusiaan itu harus tampak pula
sebagai kesimpulan untuk berjuang melawan segala sesuatu yang merintangi
kemanjuan selaras dengan kehendak alam.
Dari
azas 1922 dan dasar-dasar 1947 Taman Siswa di ats jelas tersurat dan tersirat
bagi Taman Siswa untuk harus melaksanakan sistem among dengan semboyan Tut
Wuri Handayani di dalam sistem pendidikan dan pengajaran.
Sistem
among ini juga telah mendapat
sambutan baik dari Drs. RMP.Sostrokartono (kakak RA. Kartini)seorang filsuf dan
ahli bahasa, bahkan semboyan ini ditambahnya , yaitu Ing Ngarso sung tulada (di dapan memberi contoh) dan Ing madya
Mangun Karsa menghendaki diterapkan dimana pada situasi agak ragu-ragu untuk
bergerak dan kurang bergairah dalam mengerjakan suatu. Dalam situasi demikian
pendidik perlu memacu dengan jalan mendorong atau membangkitakan keinginannya
untuk terus maju sesuai dengan kemampuan dan kondisi anak-anak masing-masing.
Tambahan
kedua semboyan tersebut di dasarkan
pada pertimbangan teknis semata, yaitu mengingat adanyaa perbedaan
individual di antara para siswa. Dengankata lain semboyan-semboyan tersebut
hakikatnya sama dengan caramemandang dan
menyikapi anak,sama-sama tidak ada unsur perintah, paksaan dan hukuman, dan
tidak pula adanya campur tangan dari pihak pendidik yang dapat mengurangi kebebasan
anak untuk berjalan sendiri dengan kekuatan sendiri.
Tujuan Pendidikan
Pada
jaman penjajahan Belanda dan tujuan Pendidikan Nasional Taman Siswa bersifat politik, yaitu
kemerdekaan bangsa Indonesia .
Sedangkan tujuan murni pendidikan yang diinginkan Taman Siswa yang termuat dalam Peraturan Besar taman
Siswa bab IV pasal 13 adalah : membangun anak didik menjadi manusia yang
merdeka lahir batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi
anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan
bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Dan tujuan tertinggi Taman Siswa
adalah terwujudnya masyrakat tertib dan damai.
MATERI
DAN METODE PENDIDIKAN
Sesuai
dengan dasar pendidikan nasional, pendidikan kebudayaan, pendidikan kebangsaan
dan pendidikan kemanusiaan, maka bahan yang dimiliki untuk dikembangkan harus
berhubungan dan berguna untuk itu. Karena itu bahan harus dapat menunjukkan
sifat kultural nasional. Tiap-tiap pelajaran yang diberikan sebagai bagian dari
peradaban bangsa. Dimana perlu juga harus memperbaiki segala syarat keadaan
untuk disesuaikan dengan jaman. Pemuda tidak boleh terkekang oleh tradisi dan
konvensi-konvensi yang menghambat pesatnya kemajuan akta.
Segala
bahan harus dapat membangkitkan perasaan cinta kepada tanah air dan bangsa.
Untuk itu diperlukan sekali nyanyian-nyanyian nasional, cerita-cerita pahlawan
bangsa, keindahan alam tanah air dengan jalan darmawisata, dan sebagainya.
Juga
tidak hanya pendidikan kecerdasan, terutama pendidikan penjagaan dan latihan
kesusilaan, serta pendidikan kebudayaan yang bersifat kebangsaan.
Pendidikan
kesenian meliputi melukis, musik, menari, menabuh gamelan, sesuai dengan
pembawaan masing-masing. Menurut Ki Hajar Dewantara kesenian bangsa dapat
diajarkan dalam kelas dan kepada umum dan perlu untuk menghaluskan
kesusilaan dan meneguhkan semangat
kebangsaan.
Bahasa
Indonesia baik sebagai bahasa persatuan maupun sebagai bahasa pengantar
diwajibkan dilaksanakan. Sedangkan bahasa daerah yang penting diajarkan sesuai
daerahnya masing-masing.
Bahasa
asing diajarkan untuk keperluan melanjutkan
pelajaran dan untuk menambah perhubungan dengan luar negeri.
Ki
Hajar Dewantara menegaskan bahwa semua bahasa asing hendaknya diajarkan di
sekolah “untuk bahasa asing” . Maksudnya, pada waktu memberikan pelajaran
bahasa Inggris diusahakan supaya jangan sampai nanti anak didik menjadi ke-Inggris-inggrisan atau kebarat-baratan
Sejarah
dan Ilmu Bumi tanah air dipentingkan, sebab disitu banyak yang dapat dipakai
untuk membangkitkan rasa kebangsaan.
Adapun sistem pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka
pendidikan nasional adalah Sistem Among.
Dasar dari sistem ini adalah dua dasar dari Dasar 1947 yaitu kodrat alam dan
kemerdekaan. Sebagai mana yang telah diuraikan pada bagian gagasan diatas, yang
dimaksud menurut dasar kodrat alam bahwa kemajuan yang sejati hanya dapat
diperoleh dengan perkembangan kodrat alam. Pendidik hanyalah sebagai Pamong
yang berdiri dibelakang (tutwuri
handayani). Pamong hanya wajib menyingkirkan segala hal yang merintangi
jalannya anak didik dalam mencapai tujuan pendidikannya.
Manurut dasar kodrat alam
keluargalah yang pertama-tama harus memberi pendidikan. Sistem Among mengutamakan sistem pendidikan
kekeluargaan. Dan menurut kodrat alam perkembangan anak didik sebelum dewasa
dapat dibagi sebagaimana berikut ini : (1) Jaman-wiraga (wi = penyempurnaan; raga
= badan) terjadi dalam windu pertama. Ini adalah masa perkembangan indera dan
bagian badan lain, (2) Jaman wicipta
(cipta = kenal, pikir) terjadi dalam
windu kedua. Ini adalah masa perkembangan daya-daya jiwa, terutama daya
mengenal, pikir dan (3) Jaman-wirama (irama = harmoni, pelarasan atau
penyesuaian). Ini adalah masa untuk
menyesuaikan diri dalam masyarakat besar, tempat anak didik mengambil bagian
sesuai dengan cita-citanya, berlangsung dalam windu ketiga.
Pada waktu anak dilahirkan memiliki
pembawaan dan bakat (kodrat) sendiri, berupa kesanggupan dan kemampuan yang
tidak sama untuk semua anak. Atas dasar pembawaan dan bakat itulah sistam Among itu dilaksanakan.
Menurut kodrat alam perkembangan jaman laki-laki dan perempuan tidak sama.
Karena itu Sistem Among memberikan
pendidikan tersebut berlainan tujuannya. Pendidikan jasmani untuk puteri
bertujuan memelihara kesehatan untuk dirinya dan keturunannya, sedangkan
pendidikan jasmani untuk laki-laki bertujuan tidak hanya untuk memelihara
kesehatan tetapi juga untuk mendapatkan kekuatan badan.
Dan yang dimaksud dengan dasar
kemerdekaan adalah anak didik diberi kesempatan untuk mengatur dirinya sendiri
sesuai dengan kodratnya. Secara bebas merdeka. Tetapi harus diingat bahwa
kebebasan yang dimaksud bukan kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang
dikaitkan pada tertib damainya hidup bersama. Kemerdekaan itu harus diberikan
kepada anak dalam mengembangkan pikir, rasa dan kemauannya agar berkembang
kearah kebebasan tetapi bukan kebuasan. Jadi yang dimaksud dengan kebebasan
disini adalah kebebasan yang mengandung menahan diri, mengatur diri,
menyesuaiakn diri dengan tata tertib / peraturan masyarakat, menahan diri bila
timbul hasrat yang kurang baik.
Untuk mewujudkan pelaksanaan sistem Among dalam pendidikan dan pengajaran,
dalam kaitannya sistem Among dalam
pendidikan dan pengajaran, dalam kaitannya dengan dasar kemerdekaan, maka
hal-hal yang dapat dipakai sebagai pedoman bagi pendidik adalah : Sistem Among tidak menghendaki adanya hukuman
dan hadiah, karena alat itu bertentanagn dengan dasar kemerdekaan yang
menghendaki adanya kebebasan dalam mempergunakan pikiran, bagin dan tenaganya.
Hukuman hanya merupakan paksaan dan tekanan yang menimbulkan perasaan harga
diri kurang. Sedangkan hadiah mendorong ketindakan pamrih dan karenanya
mengurangi kebebasan berbuat dan bersikap. Hukuman dan hadiah hanya
diperbolehkan jika dapat membawa anak kepada rasa keadilan. Sistem Among setuju dengan hukuman alam (Rosseau(,
yang akan menimbulkan penyesakan dan kehendak untuk tidak berbuat kejahatan
lagi karena akibat yang tidak menyenangkan.
Sistem Among memberi kesempatan yang sebanyak-banyaknya agar anak didik
itu aktif (berusaha sendiri ) dalam mencari pengetahuan dan spontan (tidak
meniru) dalam perbuatan. Dan juga menghendaki sekolah pasif menjadi sekkolah
kerja (Dewey dan Decroly), dan juga agar berkembang insting mencipta dalam
pribadi anak (Frobel).
Sistem Among atas dasar kemerdekaan ini menghendaki kelas terbuka dengan
maksud untuk menghilangkan rasa terkurung dan untuk menimbulkan suasana bebas.
Kelas terbuka yang dimaksud adalah kelas-kelas yang ada dalam sekolah
sedikitnya terbuka sesisi, jadi dinding kelas sebanyak-banyaknya terdiri dari 3
buah dinding.
Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa sistem dan metode yang dipakai dalam pelaksanaan pendidikan
Taman Siswa terutama dengan Sistem Amongnya
menerapkan azas-azas belajar seperti berlaku dalam sistem pendidikan yang
dikehendaki tokoh-tokoh pendidikan dunia seperti azas kemerdekaan belajar dan
bekerja sendiri (Montessori), Azas keaktifan atau sekolah kerja (Dewey,
Kerchenteiner) dan Azas kelas terbuka (R. Tagore).
JENIS DAN JENJANG PENDIDIKAN
Adapun jenjang dan jenis pendidikan
yang diselenggarakan oleh Taman Siswa adalah meliputi (1) Taman Indriya, yaitu
Taman Kanak-kanak Taman Siswa untuk anak yang berumur antara 5 – 6 tahun, (2)
Taman Anak, yaitu setingkat dengan anak SD kelas I – III sekitar 6 atau 7 – 9
atau 10 tahun. Jenjang pendidikan ini terutama untuk jaman wiraga, (3) Taman Muda, yaitu setingkat dengan kelas IV – VI SD
untuk anak sekitar umur 10 – 11 sampai dengan 12 – 13 tahun. Jenjang pendidikan
ini terutama untuk jaman wicipta, (4)
Taman Dewasa, yaitu semacam sekolah Menengah Tingkat Pertama yang lamanyta 3
tahun, (5) Tman Madya atau Taman Dewasa Raya, yaitu merupakan sekolah Menengah
Tingkat Atas, tetapi lamanya hanya 2 tahun. Pada jenjang Taman Madya ini
terdapat beberapa jurusan yang disediakan, meliputi jurusan : pendidikan,
sosial ekonomi, kesusastraan, dan jurusan ilmu pasti alam, (6) Taman Guru,
yaitu sekolah untuk menyiapkan calon guru pada Taman Indriya, Taman Muda dan
Taman Dewasa. Taman Guru ini meliputi (a) Taman Guru B I, untuk menyiapkan
calon guru Taman Anak dan Taman Muda dan Taman Dewasa, (b) Taman Guru B II,
untuk menyiapkan calon guru sebagaimana pada Taman Guru B I, tetapi bukan untuk
kelas rendah (I tahun sesudah Taman Guru B I), (c) Taman Guru B III, untuk
menyiapkan calon guru Taman Dewasa (1 tahun sesudah Taman Guru B II). Pada
Taman Guru B III ini diadakan 2 bagian : - Bagian A (Alam / pasti) bagi mereka
yang akan mengajarkan mata pelajaran Alam / Pasti. – Bagian B (budaya), bagi
mereka yang akan mengajarkan Bahasa, Sejarah dan lain-lain. Taman Guru Indriya,
melulu untuk gadis-gadis Taman Dewasa atau sekolah lanjutan lainnya (SMP/ SKP)
yang ingin menjadi guru pada bagian Taman Indriya (lama 2 tahun), (7) Taman Pra
Sarjana, yaitu pendidikan guru yang bertingkat lebih tinggi dari Taman Guru dan
merupakan persiapan calon guru untuk Taman Dewasa Raya, (8) Taman Sarjana,
yaitu setingkat dengan kursus B I dengan jurusan Alam pasti, Bahasa dan Ilmu
Sosial (disebut juga Sarjana Wiyata).
Sesuai dengan sifat dan karakteristik Pendidikan Taman Siswa (terutama
kultural-nasional) maka bentuk penyelenggara pendidikannya meliputi :
Perguruan
Yaitu tempat berguru, dimana anak
didik mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Selain dipakai sebagai tempat
belajar juga berfungsi sebagai tempat tinggal guru, tempat berkumpul, tempat
rapat, perayaan, bahkan juga dipakai untuk penginapan. Dengan berbagai fungsi
tersebut sehingga dapat menjadikan hubungan guru dan murid akrab dan ada rasa
kekeluargaan yang akrab.
Asrama
Selain guru-guru, murid-murid yang
berasal dari tempat lain berdiam di perguruan asrama. Tempat ini terutama
sebagai alat pendidikan untuk pendidikan kekeluargaan.
Pondok asrama untuk putera disebut
”Wisma Priya” dan untuk putri disebut ”Wisma Rini”. Pondok ini selalu berada
dalam pengawasan dan sifat kekeluargaan tetap terpelihara. Untuk wisma rini
diperhatikan juga soal-soal keputrian, seperti : menjahit, memasak, memelihara
kebun, olah raga dan sebagainya.
Dan tempat ini pulalah diusahakan agar sifat ke-timuran
tidak sampai rusak.
Tripusat Pendidikan
Untuk kesempurnaan penyelenggaraan
pendidikan dalam lingkungan perlu ada tiga lingkungan pergaulan. Ketiga
lingkungan tersebut adalah : keluarga, perguruan, dan pergerakan pemuda dan
lingkungan sosial.
Lingkungan keluarga merupakan
lingkungan pertama dan terpenting karena menurut kodratnya orang tualah yang
harus mendidik anak-anaknya, terdorong oleh insting, rasa cinta asli terhadap
keturunannya. Lagi pula keadaan, istiadat dan kehidupan keluarga mempengaruhi
tumbuhnya budi pekerti tiap manusia, perasaan sosial seperti tolong menolong,
tidak mementingkan diri sendiri, patuh, ketertiban, perdamaian, kebersihan,
rasa menderita atau bahagia bersama. Juga untuk pendidikan keagamaan,
lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama.
Lingkungan Perguruan, merupakan
tempat yang istimewa sebagai pusat pembimbing kecerdasan pikir, memberi
;pengetahuan dan menyiapkan anak mendapatkan mata pencaharian. Tempat ini dapat
dikatakan sebagai tempat pengajaran (Balai Wiyata). Macam pendidikan yanglain
seperti pendidikan sosial, pendidikan budi pekerti dan pendidikan keagamaan
juga mendapat perhatian, tetapi tidak sebegitu besar dibanding dengan
pendidikan pikir. Karena itu agar supaya tidak terjadi intelektualisme,
individualisme, egoisme dan materialisme, lingkungan ini tidak terpisah dari
hidup keluarga.
Lingkungan sosial atau Pergerakan
Pemuda, merupakan lingkungan pendidikan yang membimbing dan mengembangkan anak
menuju kedewasaan jiwa, budi pekerti, laku sosial, kecerdasan pikir, yang
dilakukan dalam suasana merdeka, sebab dalam perkumpulan ini mereka berusaha
bersama, berlatih, bertenaga dan menahan diri untuk mendapatkan pendidikan diri
(self-education). Orang dewasa hanya
berdiri dibelakang, memberi nasihat jika diperlukan, tidak ada paksaan, dan
disinilah letak pentingnya kepramukaan.
Ko-Instruksi
Dalam menyelenggarakan sistem
pendidikan ini tidak diadakan pemisahan antara laki-laki dan perempuan, karena
menurut kodratnya berdasarkan kebiasaan dalam keluarga hal ini tidak
dilaksanakan. Sistem ini baru diadakan pemisahan laki-laki dan
perempuan dalam menerima
Gengan
hidup), sedangkan perkara rebutan sejari tanah adalah perebutan negara
(melambangkan insting kelanggengan jasmani / penghidupan jasmani), (10) ”Dari
Natur kearah kultur” artinya dari kodrat kearah adab, yaitu azas pendidikan
yang bersifat kultural dan berdasarkan kodrat alam, (11) ”Syariat tidak dengan
Hakikat adalah Kosong”, artinya Tindakan tidak dengan hakikat pasti batal.
Maksudnya untuk mencapai keberhasilan tidak cukup memaki laku batin, tetapi
harus dengan laku lahir. Atau sebaliknya, suci lahir dan tertibnya batin harus
bersamaan, (12) Hing Ngarsa Sung Tulada,
Hing Madya Mangun Karsa, artinya
didepan berilah teladan (yang baik), di tengah ikut serta membentuk kehendak.
Pendidikan INS
Riwayat
Singkat Pendiri INS
Lembaga pendidikan yang berubah-ubah namanya dari
Indonesische Nederlandse School, kemudian Indonesia National School, dan yang
terakhir Institut Nasional Syafei, yang juga lebih terkenal dengan nama
”Perguruan Ruang Pendidikan INS” ini didirikan oleh Moch. Syafei. Ia adalah
seorang dari seorang guru Inyik Mara Sutan yang selama hidupnya menyumbangkan
tenaganya untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran. Ia dilahirkan di
Kayutaman, Sumatera Barat pada tahun 1899. ibunya bernama Andung Chalijah.
Setelah tamat
dari Sekolah Rakyat dan Sekolah Guru di Bukittinggi, ia bekerja sebagai guru
pada sekolah Kartini di Jakarta selama 6 tahun. Kemudian ia dikirim ayahnya ke
negeri Belanda untuk menyempurnakan pendidikannya. Pada tahun 1922 ia bertolak
ke sana untuk sekolah atas biaya sendiri. Agar nanti dapat menerima pelajaran
dengan baik, mendalam dan cepat, ia tidak langsung masuk ke suatu sekolah,
melailnkan mengambil pelajaran privat dari guru yang terkenal dalamilmu yang ia
butuhkan. Akhirnya ia dapat menyelesaikan pendidikannya dan dapat ijazah yang
meliptui : Ijazah Guru Eropa, Menggambar, Pekerjaan Tangan dan Musik. Dalam
kesempatan selama tiga tahun di belanda dimanfaatkan juga mengunjungi beberapa
negara lain di Eropa untuk.
Ia datang kembali di tanah air tahun 1925 dalam suasana pergerakan melawan
penjajah Belanda. Ia meneruskan perjuangannya dengan menceburkan diri dalam
lapangan pendidikan dengan memimpin suatu sekolah di Padang dari kepunyaan
perkumpulan pegawai kereta api. Setelah sekolah tersebut diserahkan sepenuhnya
kepadanya, pada tanggal 31 Oktober 1926 sekolah itu diberi nama Indonesische
atau Indonesia di depan nama Nederland atau Holland. Pemerintah penjajah
sendiri tidak pernah memberi nama Indonesia melainkan Indische atau Inlandsche,
dan inipun pada sekolah Belanda diletakkan pada urutan kedua, seperti HIS, HIK,
NIAS dan sebagainya. Jadi kata Nederland atau Holland selalu diletakkan
didepan. Pada sat itu kata Indonische atau Indonesia merupakan momok bagi
pemerintah jajahan Belanda.
Sesudah Jepang menduduki Indonesia,
ia memasuki gelanggang politik. Pada tahun 1946 ia diangkat menjadi menteri P
dan K dalam Kabinet Syahrir yang kedua. Kemudian ia menjadi anggota Dewan
Pertimbangan Agung, dan pada tahun 1950 anggota DPR Sementara RI. Pada tahun 1968 ia memperoleh gelar Honoris Causa dari
IKIP Padang karena jasanya dalam bidang pendidikan. Kemudian meninggal dunia
tanggal 5 Maret 1969.
Gagasan, Dasar dan Tujuan Pendidikan
Gagasan
Bila ia perhatikan sistem pendidikan
yang diselenggarakan secara keseluruhan oleh Moch Syafei ini dapat dimasukkan
dalam Landersziehungsheime atau Ruang Pendidikan di Desa, tetapi dalam
pelaksanaannya lebih menonjolkan sekolah kerja dari Kerschenteiner dan Dewey,
terutama dari rencana dan metode pelajarannya. Ruang pendidkan di Desa
merupakan suatu sekolah yang ingin menerapkan berbagai dasar aliran baru
pendidikan seperti : Pengajaran dengan barang sesungguhnya (J Ligthart), pendidikan individual
(Montessori). Sistem Dalton, belajar sendiri dan hubungan kelas yang lebih longgar
(Parkhurst), pengajaran projek (Dewey), Arbeitsschule (Kerschenteiner),
Pendidikan kepribadian (Scheibner), pendidikan watak (Foerster), metode pusat
perhatian, pelajaran totalitas, pelajaran di desa (Decroly).
Untuk memenuhi dasar-dasar tersebut
didirikan suatu sekolah besar dengan tuntutan sebagai berikut : (1) Memberi
pendidikan dan pengajaran kepada murid sekolah rendah sampai sekolah tinggi,
(2) Sekolah merupakan suatu sekolah keluarga besar, terdiri atas guru dan
murid, (3) Sekolah berada dalam lingkungan alam bebas atau desa, dan (4)
Kegiatan memakai pengalaman anak terutama pengalaman pekerjaan tangan dalam
arti yang luas, sebagai dasar pendidikan kecerdasan maupun pendidikan budi
pekerti.
Sekolah yang memenuhi tuntuttan
tersebut dinamai Ruang Pendidikan di desa.
Karena untuk menyelenggarakan
sekolah yang memenuhi tuntutan secara keseluruhan tersebut sulit, dalam
pelaksanaan pendidikan yang diselenggarakan oleh Moch. Syafei lebih menonjol
adanya pengaruh Kerschenteiner dan Dewey dengan aliran sekolah kerjanya. Ia
berpendapat bahwa anak-anak kita perlu belajar bekerja, sehingga mereka pandai
mempergunakan tangannya, disamping otaknya. Hendaknya anak-anak diajarkan
sesuatu pekerjaan yang sesuai dengan pembawaan dan kemauannya bagi penghidupannya
kelak. Sekaligus hal ini merupakan reaksi pendidikan yang diselenggarakan oleh
pemerintah jajahan yang hanya mempersiapkan sebagai buruh pemerintah /
perusahaan milik orang asing. Ia juga ingin membentuk pemuda-pemuda Indonesia
berani bertanggung jawab, berani berdiri sendiri, membuka perusahaan sendiri,
hidup bebas dan tidak tergantung pada orang lain.
Selain itu seperti halnya Kihajar
dewantara, Ia menentan Intelektualisme yang hanya mementingkan pembentukan akal
sehat saja. Pendidikan harus memperhatikan perkembangan secara utuh, meliputi
kesatuan jiwa dan raga, sebagai individu dan anggota masyarakat dan kesatuan
kepribadia yang lainnya yang selaras, tidak sepihak saja.
Dasar
Pendidikan
Karena pendidikan INS ini dimasukkan
dalam Ruang Pendidikan di Desa, maka dasar yang dipakai sejajar dengan Ruang
Pendidikan di Desa tersebut. Adapun dasar pendidikan INS adalah meliputi :
Berpikir secara logis dan rasional
Karena pada masa itu masih banyak
anggota masyarakat Indonesia yang menggunakan cara berpikir yang berdasarkan
takhayul, mistik dan irrasional, maka cara berpikir yang demikian harus diubah
dengan cara berpikir logis, rasional, cocok dengan akal sehat.
Kegiatan atau Keaktifan
Dengan menyadari betapa besarnya
pengaruh keaktifan anak untuk watak, pikir dan pengalaman kehidupan dalam
masyarakat, maka INS mempergunakan keaktifan dan keterlibatan kegiatan
sebanyak-banyaknya dalam pendidikan dan pengajaran agar anak bekerja secara
teratur dan intensif. Pendidikan dengan dasar ini dimaksudkan juga untuk
memperbaiki keadaan masyarakt agar tidak menyia-nyiakan sesuatu, praktis,
efisien, sesuai dengan kebutuhan apa yang dikerjakan / dipelajari.
Sesuai dengan ciri utamanya INS
dengan prinsip sekolah kerja adalah anjuran ”Cari Sendiri. Kerjakan Sendiri”
yang selalu disampaikan kepada anak didiknya.
Pendidikan Kemasyarakatan
Kegiatan pendidikan dan pengajaran
pada INS lebih banyak diarahkan kepada kegiatan kemasyarakatn seperti bekerja
bersama-sama dan berkoperasi. Sehingga pendidikan yang diselenggarakan bersifat
praktis, tidak terlepasa dari kebutuhan masyarakat.
Memperlihatkan Pembawaan Anak
Anak yang ternyata pandai dan
mempunyai bakat kesanggupan dalam suatu mata pelajaran, setelah mengikuti semua
pengajarn mendapatkan pendidikan lebih lanjut dan mendalam untuk menyempurnakan
bakat hingga ia dapat menjadi ahli dalam fak itu.
Menentang Inetelektualisme
Pendidikan yang dilaksanakan di INS
tidak sekedar hanya pandai intelektualnya, melainkan juga harus meliputi
pendidikan keindahan, pengembangan rasa tanggung jawab dan pendidikan
keagamaan.
Pendidikan
keindahan terutama dipentingkan
Pendidikan keindahan terutama dipentingkan vak ekspresi, misalnya dengan
mengadakan pertunjkan mengatur gedung dan halaman bersama dan sebagainya.
Pendidikan untuk pengembangan rasa tanggung jawab
dilakukan dengan berbagai kegiatan, mulai dari proses penndiriaanya INS sampai dengan proses perkembangaanya
semua dilakukan dengan bekerja sendiri dan berdini sendiri tedak menerima
bantuan yang mengikat hidup INS.
Sedangkan pendidikan keagamaan diberi kesempatan
berkembang luas yang bersih jauh dari kepicikan dan kekolotan.
Tujuan Pendidikan
Sesuai dengan dasar pendidikan yang dipakai, maka secara ringkas tujuan
pendidikan dan pengajaraannya adalah mendidik anak‑anak agar dapat berpikir
socara rasional, bekerja beraturan dan sungguh‑sungguh, rnembentuk manusia yang
berwatak, menanamkan rasa persatuan, membentuk manusia yang bebas dan merdeka
serta percaya diri dan berani bertanggung jawab dan membentuk sebagai pemuda yang aktif mengabdi
dan membangun masyarakat.
MATERI DAN METODE
PENDIDIKAN
Dalam lembaga pendidikan INS, materi
yang paling dipentingkan terutama materi pelajaraan ekspresi seperti menggambar
dan musik, bahkan selalu diberikan sendiri oleh Moch. Syafei.
Materi pelajaran menggambar meliputi latihan membuat klise dari kayu yang
hasiInya banyak dipakai rnenghias "Rantai Mas” majalah pelajar INS sendiri.
Materi pelaiaran musik meliputi latihan-latihan seni suara, bermain biola,
gitar, seruling. Disamping itu diberikan juga seni tari secara mendalam dan
latihan-latihan sandiwara.
Pekedaan tangan meliputi seluruh pengajaran, bahkan menjadi bentuk
pelajaran. Anak‑anak bekerja di bengkel dan diruangan kerja lainnya, di kebun
serta menghasilkan barang‑barang yang dapat dijual melayani perguruan.
Pendidikan jasmani mendapat perhatian secukupnya. Di
samping gerak badan biasa, sepak bola, berenang, bertenis ditempat yang mereka,
buat sendiri.
Pendidikan
budi pekerti diberikan dengan menanamkan rasa keagamaan yang bersih dari sifat‑sifat
kekolotan dan kepicikan serta modern dan rasional.
Bahasa Indonesia baik sebagai
pengantar maupun sebagai mata pelajaran diberikan dan dilaksanakan disernua
jenjang pendidikan. Bahasa Inggris hanya diberikan diruang Atas dan lebih
dilpentingkan dari bahasa Belanda karena untuk digunakan secara internasional.
Sedangkan bahasa Belanda sebagai pengetahuan saja dan secara pasif.
Mata pelajaran lainnya seperti ilmu
Burni, Sejarah dan berhitung dan sebagainya juga diberikan di pendidikan INS.
Adapun sistern dan metode yang
dipakai dalam penyelenggaraan pendidikan INS ini dilaksanakan sesuai dengan
sistem, yang dipakai dalam Ruang Pendidikan di Sekolah Desa, dan sekolah kerj
kerschenteiner dan Dewey. Karena sistern itu secara keseluruhan tidak mungkin
dapat dilaksanakan dan dengan disesuaikan kondisi Indonesia, maka sebagai
gambarannya dapat dilihat dari pelaksanaan penyelenggaraannya sebagai berikut.
Ketika pendidikan INS itu mulai
dipimpinnya semua atat pelajaran dan keperluan pelajaran lainnya sangat
sederhana, bahkan serba kekurangan. Murid‑murid pertama sebanyak 110 orang
tidak duduk di atas bangku, tetapi di atas tikar. Sesudah 9 bulan lamanya
secara .bergatong royong murid‑murid mendirikan sebuah bangsal yang sederharna
berkaki satu dan ditanamkan ke dalam tanah. Bahan‑bahan yang dipergunakan
diambil dari lingkungan sekitar. Meskipun semuanya serba sederbana tetapi
mengandung arti yang besar, karena semuanya dilakukan dan usaha murid sendiri
yang dilakukan secara, bemamaan.
Karena sekolahnya makin lama makin
maju sekolah dipindahkan ke sebidang tanah 3 bau luasnya, yang asalnya hutan belukar. Dengan kemaun yang kuat,
anak‑anak membongkar hutan itu. Bahan‑bahan dikumpulkan bambu ditebang, batu
diangkut dari sungai, maka segeralah mulai mendirikan (1) Lima bangsal sekolah,
tempat mereka belajar, yang masing‑masing berukuran 7 X 35 meter. Semua serba
sederhana. Tiangnya dan kayu, dinding dari bambu, atap dan daun rumbia, (2)
Sebuah pondok, yang didirikan dekat bangsal‑bangsal
itu, sebagai tempat kediaman pemimpin sekolah dan terbuat sebagai mana pada
bangsal tersebut, (3) Bangsal‑bangsal tempat belajar bertukang kayu, mengedakan
besi, kaleng, mengayam, membuat keramik dan patung dari tanah.
Semuanya itu dibedakan sendiri oleh
murid‑murid dengan bantuan dan petunjuk dari dua orang tukang.
Pada
perkembangan selanjutnya mengalami perluasan dan mernpunyai tempat‑tempat
untuk bertukang, bersandiwara, berolah raga, mempunyai kolam renang, kebun‑kebun
pertanian dan toko koperasi, yang semuanya itu bermula dari hutan
belukar yang berawa‑rawa dan berbukit-bukit yang dimulai sejak tahun 1932.
Setelah anak‑anak selesai merambah
hutan belukar dan menimbun rawa‑rawa, kemudian mengumpulkan bahan‑bahan untuk
membangun gedung sekolah yang baru. Murid giat mengumpulkan uang dengan cara
mengadakan pertunjukkan sandiwara, pameran hasil pekerjaan tangan, untuk
membeli keperluan yang tidak dapat diadakan sendiri. Juga menerima bantuan dari
beberapa dermawan.
Setelah selesainya bangunan‑bangunm
baru yang lebih kokoh dan rapi berupa gedung sekolah, rumah‑rumah guru,
pesanggrahan dan asrama yang dapat menampung 300 orang murid, ruang makan,
ruang dapur. tempat kerja, gedung kesenian, tempat bermain tennis, tempat
bemain bola, tempat berenang dan tempat taman bacaan. Kemudian pada tahun 1939
pindah lagi kesernuanya menempati sekolah yang baru di Pela-bihan, 2 km
dari Kayutaman. Ruang Pendidikan yang waktu itu mempunyai ± 600 orang anak
didik itu merupakan sebuah masyarakat kecil yang senantiasa sibuk dan
membangun.
Usaha‑usaha tersebut pada
perkembangan selanjutaya tidak selalu mengalami kemajuan. Hal ini bukan
karena faktor dari pihak INS senddir tetapi semata‑mata karena faktor dari INS.
Misalnya pada perang dunia II, dimana Belanda menduduki Indonesia, sekolah
dihentikan dan semua murid disuruh pulang, hanya tinggal 80 orang yang ikut ke
gedung bersama dengan Moch. Syafei.
Pada jaman Jepang INS boleh bekerja
kembali tetapi semuanya berjalan serba sukar, alat pelajaran serba kekurangan
dan sulit didapat, dan INS banyak dipakai sebagai tempat bekerja dan berlatih
guna kepentingan peperangan Jepang sehingga pelajaran sangat merosot. Bahkan
pada jaman kemerdekaan, ketika Belanda menduduki kembali di Indonesia tahaun
1948, demi kepentingan Indonesia merdeka, agar INS tidak jatuh ke tangan
Belanda, maka usaha selama 22 tahun dengan cucuran keringat dan dengan susah
payah, juga dengan didirikannya Ruang Pendidikan dan pengajaran yang membuat
INS semakin megah dan terkenal itu, akhirnya dibumihanguskan oleh tentara kita
sendiri. Kemudian baru tahaun 1949 Moch Syafei turun dari pengungsian dan
mendapatkan INS seakan-akan sebagai rimba kembali dan memulai lagi dari awal.
Baru tahun 1950 INS dapat dikatakan mulai bangkit kembali dengan usaha berbagai
macam akhirnya dapat dibangun kembali sekitar 20 persen dari pembangunan
seluruhnya yang telah dilaksanakan.
JENJANG DAN JENIS PENDIDIKAN
Pada jaman Belanda pendidikan INS
ini terbagi atas dua tingkatan atau ruangan, yaitu ruang atas dan ruang bawah.
(1) Ruang Bawah, setingkat sekolah rendah. Lama belajarnya berlangsung selama 7
tahun. Pelajaran terbagi atas 2 bagian : pelajaran teori meliputi 75% dan
pelajaran praktik 25% dari seluruh jam pelajaran. Pelajaran diberikan pada pagi
hari dan sore hari, (2) Ruang atas, setingkat sekolah menengah. Lama belajar 6
tahun. Pada tingkat ini pelajaran di Ruang Bawah diperdalam dan diperluas.
Pelajaran praktik meliputi 50% dari seluruh waktu belajar. Setelah
menyelesaikan pendidikan pada tingkat ini, murid diserahkan langsung kepada
masyarakat untuk memberikan darmanya.
SOAL‑SOAL LATIHAN I
jawablah semua pertanyaan berikut ini:
1. Mengapa teori
empirisme, nativisme, naturatisme dan konvergens disebut teori klasik?
2. Jelaskan
perbedaan pengertian pertumbuhan dan perkembangan?
3. Kelompokkan empat teori klasik ke
dalam dua faktor, perkembangan kemudian jelaskan hubungan kedua faktor
tersebut terhadap perkembangan anak didik?
4.
Jelaskan yang
dimaksud dengan toori empirisme?
5.
Jelaskan yang
dimaksud dengan teori nativisme ?
6.
Jelaskan yang
dimaksud dengan teori naturalisme?
7.
Jelaskan yang
dimaksud dengan teori konvergensi?
8. Jelaskan perbodaan faktor
pembawaan dan faktor lingkungan yang ada pada masing‑masing teori epirisme,
nativisme, naturatisme, konvergeasi !
9.
Jelaskan
kemungkinan usaha pendidikan dilihat dari:
a. teori
empirisme,
b. teori nativisme,
c. teon
naturalisme, dan
d. toori
konvergensi, .
10. Jelaskan tentang pendidikan yang seharusnya
dilakukan menurut teori
naturalisme (Rousseau) !
11. Kemukakan pendapat Saudara tentang teori konvergensi terhadap
kenyataan pelaksanaan pendidikan !
SOAI‑SOAL LATIHAN II
Jawablah semua soal berikut ini:
- Jelaskan mengapa Pendidikan Taman Siswa dan
Pendidikan INS merupakan aliran pokok yang utama dan bagaimana latar
belakang pendiriannya!
- Jelaskan bagaimana penilaian Kihajar Dewantara
terhadap pendidikan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pemerintah
jajahan Belanda dan usaha‑usaha yang dilakukannya terhadap kebijakan
pendidikan tersebut!
3.
Jelaskan perbedaaan
antara azas Pendidikan Taman Siswa 1922 dengan Dasar‑dasar Pendidikan Taman Siswa 1947 dilihat dari latar belakang,
isinya dan penggunaannya! .
4.
Identifikasikan
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan alasannya menurut pandangan Kihajar
Dewantara jika guru selalu menggurui anak!
5.
Apa yang dimaksud
dengan sistern Among, bagaimana konsekuensinya peran mendidik dan prinsip‑prinsip
apa saja yang harus diperhatikan dalam memperlakukan anak didik dalam PBM?
6.
Jelaskan bagaimana
hubungan Sistem Among dengan Tut wuri Handayani, Ing Pgarsa Sung Tulada, dan Ing Madya Mangun Karsa dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran!
7.
Jelaskan 4 usaha
bentuk organisasi penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran beserta, tujuan dan
alasanya dalam melaksanakan Sistern Among!
8.
Jelaskan mengapa
INS merupakan Pendidikan Ruang di Desa dan Sekolah Kerja! Sorotilah dari sudut
tujuan, sifat dan pelaksanaannya!
9.
Jelaskan bagaimana
pelaksanaan proses pengajaran INS dalarn mewujudkan dasar keaktifan,
kemasyarakatan, dan menentang intelektualisme! Kaitkan dengan salah satu
pelajaran tertentu!
- Berikan gambaran pelaksanaan pendidikan dan
pengajaran sebagai ciri‑ciri yang menonjol dalam menerapkan konsep sekolah
kerja pada pendidikan INS!
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi A. 1987.
Pendidikan dari Masa ke Masa. Bandung: Armico.
Arbi, S.Z & Syahrun, S. 1992. Dasar‑Dasar Kependidikan. Jakarta: Projek Pembinaan Tenaga
Kependidikan, Dikti, Depdikbud.
Bahar, H.A‑ 1989.
Dasar‑Dasar Kependidikan. Jakarta: Projek Lembaga, Pendidikan,Tenaga
Kependidikan, Depdikbud.
Depdikbud‑ 1984/1985.
Kemampuan Dasar Pendidikan. Buku II Modul
Wawasan Kependidikan Guru. Jakarta: Universitas Terbuka.
Dewantara, K. H 1977. Pendidikan.
Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Djumhur, I &
Danaparta, H. 1976. Sejarah Pendidikan. Bandung:
Ilmu,
Ekosusilo. M & Kasihadi R‑B. 1988. Dasar‑Dasar Pendidikan. Semarang: Effhar Publising.
Indra Kusuma, A.D. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Mudyahardjo, R. & Rasyidin,. W. & Soegiyanto, S.
1992. Dasar‑Dasar Kependidikan: Modul 1‑6. Jakarta: Projek Pembinnan Tenaga Kependidikan Pendidikan Tinggi
Depdikbud.
Purwanta, M.N. 1986. Ilmu
Pendidikan: Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Karya.
Soejono, A.G. 1980. Ilmu
Pendidikan Umum. Bandung: Ilmu.
Soejono. A.G. 1989.
A liran Baru dalam Pendidikan. Bandung:
Ilmu.
Suparlan, Y.B. 1984. Aliran‑Aliran
Baru Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.
Tim Dosen FIP IKIP MALANG. 1981. Pengantar Dasar‑Dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Toen Lioe, A.J.E. 1983. Sejarah Pendidikan di Indonesia Malang: FIP IKIP MALANG.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar