BAB IV


BAB IV

ALIRAN – ALIRAN DALAM PENDIDIKAN


Tujuan Pembelajaran

Sesudah mempelajari penggalan ini anda diharapkan mampu :
1.      Menjelaskan mengapa teori empirisme, nativisme, naturalisme, dan teori konvergensi disebut teori klasik.
2.      Membedakan pengertian pertumbuhan dan perkembangan.
3.      Menjelaskan hubungan faktor (dari dalam dan luar) terhadap perkembangan anak.
4.      Menjelaskan yang dimaksud dengan :
a.       Teori empirisme
b.      Teori nativisme
c.       Teori naturalisme
d.      Teori konvergensi
5.      Menjelaskan perbedaan  faktor pembawaan dan faktor lingkungan yang ada pada masing – masing :
a.       Teori empirisme
b.      Teori nativisme
c.       Teori naturalisme
d.      Teori konvergensi
6.      Menjelaskan batasan kemungkinan usaha pendidikan menurut :
a.       Teori empirisme
b.      Teori nativisme
c.       Teori naturalisme
d.      Teori konvergensi
7.      Menjelaskan pendidikan yang seharusnya dilaksanakan terhadap pelaksanaan pendidikan sekarang.
8.      Memberikan pendapat yang benar tentang teori konvergensi terhadap pelaksanaan pendidikan sekarang.
9.      Mengemukakan alasan mengapa pendidikan taman siswa dan pendidikan institut nasional syafei (ins) merupakan aliran pokok yang harus kita pelajari.
10.  Menjelaskan usaha – usaha Ki Hajar Dewantara dalam menyikapi kebijakan/ politik pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda Di Indonesia.
11.  Menjelaskan perbedaan azas Pendidikan Taman Siswa 1922 dengan Dasar – dasar Pendidikan Taman Siwa 1947 dilihat dari latar belakang, isi dan penggunaannya.
12.  Menjelaskan prinsip – prinsip yang harus dilaksanakan dalam menyelenggarakan pendidikan dengan menggunakan Sistem Among.
13.  Menjelaskan keterkaitan antara Sistem Among dengan istilah – istilah : Tut wuri Handayani. Ing Ngarsa sang Tulada, dan Ing Madya mangun Karsa.
14.  Menjelaskan beberapa bentuk organisasi pendidikan yang diselenggarakan oleh Pendidikan Taman Siswa.
15.  Menjelaskan beberapa perlambang dan semboyan yang diperlukan dalam melaksanakan pendidikan Taman Siswa.
16.  Menjelaskan /mengemukakan beberapa alasan mengapa Pendidikan INS termasuk dalam aliran Pendidikan Ruang di Desa dan termasuk juga aliran Sekolah Kerja.
17.  Menjelaskan isi Dasar Pendidikan INS dan alasannya mengapa hal itu dilaksanakan.
18.  Menjelaskan aplikasi semboyan Sekolah Kerja dalam pendidikan INS dilihat dari perencanaan, pelaksanaan dan hasil pengajaran.

Pandangan – pandangan yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebagai dasar untuk dijadikan pedoman bagi manusia dalam melakukan pendidikan mulai dari abad yang lalu hingga abad sekarang ini telah dikelompokkan ke dalam aliran klasik, aliran baru dan aliran modern. Aliran klasik dipakai untuk mengelompokkan pandangan – pandangan para ahli sebelum abad 19, aliran modern untuk pandangqan – pandangan pada abad 19. Aliran modern terutama dipakai untuk reaksi pandangan – pandangan yang terjadi pada abad 19. pengelompokan – pengelompokan tersebut bukan semata – mata hanya di dasari pada waktu kejadiannya saja, karena setiap perkembangan waktu mencerminkan kemajuan isi pandangan – pandangannya. Tetapi bukan berarti setiap yang lama lebih jelek dari yang baru, sebab pandangan – pandangan yang modern banyak juga didasarkan pada pandangan – pandangan yang lama.

Salah satu pandangan para ahli pendidikan yang menonjol pada abad sebelum 19 adalah tentang faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, dimana antara ahli satu dengan ahli yang lain berbeda pandangan. Perbedaan – perbedaan pandangan tersebut akibat dari perbedaan aliran filsafat yang dianutnya, sehingga muncul berbaagai aliran pendidikan, yang disebut juga sebagai hukum dasar kependidikan, dan ada juga yang menyebut sebagai teori kependidikan.

Sebelum dibahas beberapa aliran tersebut pada uraian ini disajikan terlebih dahulu tentang perkembangan anak, dan faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan anak yang didasarkan pada pandangan aliran empirisme, nativisme, naturalisme dan kovergensi.


PERKEMBANGAN ANAK DIDIK


Istilah perkembangan kadang – kadang disamakan dengan pertumbuhan dan kadang pula dibedakan. Pertumbuhan diartikan lebih luas dan meliputi perkembangan, tetapi ada juga yang mengartikan perkembangan lebih luas dan meliputi pertumbuhan, lepas dari perbedaan tersebut, kedua istilah tersebut dapat dicari persamaannya, bahwa baik pertumbuhan dan perkembangan di dalamnya terjadi adanya perubahan. Jika perubahan tersebut dikaitkan pada diri manusia, dibanding dengan tumbuh – tumbuhan dan hewan, di samping terdapat persamaan – persamaan juga terdapat perbedaan – perbedaan, sehingga dapat disimpulkan perbedaannya bahwa istilah pertumbuhan anak dapat diartikan suatu perubahan yang terjadi pada diri manusia yang bersifat material dan kuantitatif baik yang terjadi pada salah satu atau beberapa atau keseluruhan dari anggota badan manusia. Perubahan ini dapat terjadi karena atau berbentuk pembesaran, pemanjangan, pembanyakan dan bentuk – bentuk lainnya. Sedangkan istilah perkembangan anak dapat diartikan perubahan yang terjadi pada diri manusia yang bersifat fungsional dan kualitatif. Perubahan mungkin terkait dengan salah satu, sebagian atau keseluruhan dari anggota badan manusia. Sebab perubahan pertumbuhan biasanya diikuti juga oleh perubahan perkembangan. Contohnya perubahan tangan dari pendek menjadi semakin panjang diikuti juga perubahan berfungsinya tangan tangan menjadi semakin berarti dan fungsional, misalnya dari dapat memegang sesuatu dengan asal pegang saja menjadi dapat memegang dengan berbagai teknik sesuai dengan kebutuhan. Contoh tersebut dapat dibedakan bahwa memanjangnya tangan disebut pertumbuhan, sedangkan berfungsinya tangan tersebut yang semakin dapat melakukan sesuatu dari asal pegang saja hingga menjadi lebih berfungsi atau berarti  disebut perkembangan.
Perkembangan di samping terkait dengan aspek fisik manusia meliputi juga berfungsinya daya jiwa individu, seperti daya pikir, kepekaan, rasa sosial, kreativitas dan sebagainya. Jadi perkembangan meliputi berfungsinya aspek fisik dan jiwa secara kualitatif.

Pada perkembangan anak, selain ada unsur perubahans sebagai unsur pokok sebagaimana yang telah diuraikan diatas, juga mengandung unsur proses. Unsur ini sebetulnya sudah terkandung dalam unsur perubahan, tetapi untuk memperjelas ruang lingkup perkembangan maka hal ini perlu diungkapkan. Unsur proses dimaksudkan adalah proses perkembangan berfungsinya salah satu, sebagian atau keseluruhan dari aspek jasmani atau jiwa dari apa adanya hingga menjadi lebih dari apa adanya. Untuk mengetahui adanya proses perubahan ini diperlukan keterlibatan untuk mengikuti dan mengamati, atau membandingkan dengan menggunakan atau tanpa menggunakan alat tertentu mulai dari apa adanya hingga menjadi lebih dari apa adanya. Pekerjaan ini telah banyak dilakukan oleh ahli psikologi atau pendidikan, tinggal kita memanfaatkannya, misalnya ada yang mengaitkan umur dengan fungsi – fungsi dari fisik atau jiwa, ada yang melihat khusus pada aspek tertentu secara lebih mendalam. Atau sebetulnya kita dapat melakukan sendiri sesuai dengan kebutuhan kita sendiri sebagai orang tua atau leibh – lebih kita sebagai guru.

Kedua unsur tersebut yakni perubahan dan proses sekaligus mengandung unsur – unsur yang ketiga yaitu sesuatu yang berkembang. Unsur ini sebetulnya juga sudah terkandung dalam unsur perubahan. Sesuatu yang berkembang ini sangat luas, mencakup segala sesuatu dari aspek fisik dan aspek jiwa yang berubah secara fungsional dan kualitatif, bukan yang bersifat materialistik dan kuantitatif.

Sedangkan bagaimana hakikat terjadinya proses perkembangan. Dalam hal ini juga ada berbagai pendapat. Aliran asosiasai mengatakan bahwa perkembangan merupakan proses asosiasi yag dimulai dari bagian – bagian menuju kepada dan terkait menjadi keseluruhan (totalitas0. aliran Gestalt mengatakan bahwa perkembangan merupakan proses diferensiasi, yaitu dari keseluruhan menuiju kebagian – bagian yang berkembang secara sendiri – sendiri. Tetapi masih merupakan dari keseluruhan tersebut dan terkait secara fungsional dengan bagian – bagian yang lain. Sedangkan aliran sosiologis mengatakan bahwa perkembangan merupakan proses sosialisasi, yaitu melalui proses imitasi, adaptasi kemudian seleksi. Dalam proses adaptasi dan seleksi tersebut berlaku hukum efek dari diri sendiri yang akan mendorong melakukan sesuatu lainnya yang lebih baru, mana yang harus dianut dari aliran – aliran tersebut ?, tergantung dari keyakinan kita yang mana yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas membelajarkan anak didik. Bahkan dimungkinkan adanya konsep – konsep baru  yang lebih efektif  untuk dipakai sebagai pedoman . uraian lebih lanjut secara lebih detail tentang perkembangan dapat diikuti pada pembahasan secara khusus pada bagian tersendiri. Bahasan ini hanya dimaksudkan untuk mengaitkan faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan anak didik dari aliran – aliran atau teori – teori yang ada.

Selanjutnya, mengapa aspek fisik dan aspek jiwa manusia sebagai mana yang telah diuraikan di atas dapat berkembang ? apakah karena ada faktor dari dalam yang berupa potensi – potensi yang secara otomatis bisa berkembang sendiri tanpa dipengaruhi faktor lainnya ? Ataukah karena semata – mata ditentukan oleh faktor dari luar diri anak ? Ataukah perkembangan itu ditentukan oleh kedua faktor tersebut ? jika dipengaruhi oleh faktor tersebut, manakah yang lebih kuat antara faktor dari dalam ataukah faktor dari luar ? Jawaban pertanyaan – Pertanyaan tersebut akan diuraikan dalam bahasan aliran – aliran klasik pendidikan berikut ini :

 

ALIRAN – ALIRAN KLASIK DALAM PENDIDIKAN


Teori – teori pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebelum abad 19 meliputi berbagai teori tentang segala usaha pendidikan. Teori yang menonjol pada abad atau aliran klasik ini salah satunya adalah yang berhubungan dengan perkembangan manusia/anak didik. Dalam teori ini juga terdapat banyak aliran – aliran, tetapi yang umum dan dapat dijadikan dasar untuk mengelompokkan teori – teori yang lainnya adalah meliputi :

ALIRAN EMPIRISME
Aliran atau teori ini dipelopori oleh John Locke seorang bangsa Inggris yang hidup pada abad 18 yang dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1704. sesuai dengan namanya aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan oeh pengalaan (empiri) nyata melalui alat inderanya, baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung. Jadi segala kecakapan dan pengetahuannya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman di dapatkan dari lingkungan/dunia luar melalui indera, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Lebih jelas dan tegas lagi bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembnagan anak. John Locke mengatakan “Tak ada sesuatu dalam jiwa, yang sebelumnya tak ada dalam indera”. Ini berarti apa yang terjadi, apa yang mempengaruhi, apa yang membentuk perkembangan jiwa manusia adalah lingkungan melalui pintu gerbang inderannya yang berarati tidak ada yang terjadi dengan tiba – tiba tanpa melalui proses penginderaan.

Teori ini disebut juga dengan teori tabularasa, yang maksudnya bahwa anak yang baru lahir diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi apa – apa, atau bagaikan papan berlapis lilin 9dahulu papan berlapis lilin ini dipakai sebagai alat komunikasi tulis – menulis). Ajaran ini menganggap bahwa ketika anak lahir tidk mempunyai bakat, pembawaan atau potensi apa – apa, masih dalam keadaan jiwa yang kosong, belum berisi sesuatu apapun. Karena masih dalam keadaan bersih, kosong, tidk ada tulisan atau gambaran apa-apa baik pada kertas atau papan berlapis lilin tersebut, sehingga mau diisi, diwarnai digambari atau dibuat apa tergantung dan ditentukan oleh lingkungan yang menguasai. Begitu juga yang terjadi pada perkembangan diri manusia menurut teori ini sangat tergantung dari lingkungannya. Sama sekali tidak ada pembawaan, bakat, potensi yang dapat berkembang sendiri, bahkan dianggap tidak ada semuanya, sehingga dapat dibawa kemana atau dibentuk apa tergantung dari lingkungan yang menguasainya. Berarti lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan atau membentuk perkembangan manusia, lingkungan 100 % yang menentukan perkembangan manusia. Atau dengan kata lain kekuasaan pengembangan anak ada pada pendidikan. Pendidikan atau lingkunganlah berkuasa atas pembentukan anak. Karena itu aliran ini disebut juga aliran optimisme.

Sejalan dengan aliran ini yang tidak mengakui adanya pembawaan bakat atau potensi lainnya, adalah aliran behaviourisme. Aliran ini mengajarkan bahwa perkembangan yang diinginkan dari anak adalah tergantung dari pembiasaan pada diri anak anak menurut kebiasaan – kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungannya. Persamaan yang lain dari aliran behaviorisme ini adalah optimisnya faktor lingkungan yang berkuasa membentuk perkembangan anak sebagaimana yang dikemukakan oleh Wsatson (tokoh  aliran behaviorime) . “Berilah saya sejumlah anak yang baik keadaan badanya dan situasi yang saya butuhkan, dan dari setiap anak entah yang mana, dapat saya jadikan dokter, ahli hukum, pedagang atau jika memang dikehendaki menjadi seorang pengemis atau seorang pencuri”. Betapa optimisnya  aliran ini semuanya tergantung dari lingkungan, atau pendidikanlah penentu segalanya.

Benarkah perkembangan ditentukan oleh lingkungannya ? jawaban pertanyaan tersebut dapat dijelaskan dari ilustrasi contoh berikut : (1) Seorang anak desa melanjutkan studinya, di kota yang sangat berbeda dengan lingkungan desanya, setelah beberapa tahun kembali lagi ke desa karena sudah lulus studinya. Secara umum kita akui anak tersebut akan berbeda sekali tingkah lakunya dengan tingkah laku yang dulu. Sehingga dapat disimpulkan berberdanya ini dipengaruhi oleh lingkungan kota dan/atau lingkungan pendidikannya, (2) Dua bayi kembar yang diasuh oleh dua keluarga yang berbeda latar belakang secara mencolok dari segi ekonomi (miskin – kaya), karakter (keras-lembut), atau yang lainnya. Tentu saja lingkungan Tersebut akan mempengaruhi dua anak kembar tersebut, baik dari segi sikap, bahasa, pendirian dan sebagainya. Benarkah lingkungan merupakan satu – satunya penentu perkembangan anak ? jawaban pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam contoh sebuah keluarga yang mempunyai beberapa anak dari bapak ibu yang sama, dalam keadaan serba sama, dalam ekonomi, karakteristik, dan yang lainnya sama. Atau bahkan mempunyai/terdapat anak kembar diantara saudara – saudara lainnya. Tetapi apakah anak – anak dalam keadaan dan kondisi yang serba sama tersebut mempunyai budi pekerti, watak, kepandaian, kecerdikan, atau kpribadian yang sama ? Apakah anak – anak tersebut dapat diharapkan sesuai betul dengan keinginan orang tuanya ? Apakah bisa baik semua ? Jika teori tabularasa ini benar seratus persen, tentu pertanyaan tersebut akan dijawab sama atau bisa.

ALIRAN NATIVISME
Aliran ini dipelopori oleh seorang bangsa Jerman bernama Arthur Schopenhouse yang hidup pada abad 19, dilahirkan tahun 1788 dan meninggal dunia tahun 1860. teori ini merupakan kebalikan dari  teori tabularasa, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri – sendiri. Pembawaan yang hanya ditentukan oleh pembawaannya sendiri – sendiri. Pembawaanlah yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahaat akan menjadi jahat, jika pembawaannya baik akan menjadi baik. Walaupun bagaimana baiknya, kerasnya dan tertibnya usaha pendidikan/lingkungan. Hasil pendidikannya akan tetap sebagaimana pembawaannya. Mungkin bisa terjadi selama dalam bantuan pendidikan dan pengawasan bisa baik, tetapi begitu sudah berdiri sendiri jika memang dasarnya jelek akan kembali sebagaimana dasarnya yang jelek itu. Jadi lingkungan sama sekali tidk bisa mempengaruhi terhadap perkembangan atau hasil pendidikan anak. Perkembangan ditentukan oleh faktor pembawaannya, yang berarti juga ditentukan oleh anak itu sendiri. Karena lingkungan atau pendidikan sama sekali tidk bisa mempengaruhi perkemebangan anak, dan potensi – potensi yang dimiliki bukannya hasil pendidikan melainkan memang potensi yang sudah ada di bawa sejak lahir, sehingga tidak  ada kepercayaan nilai pendidikan dapat mempengaruhi, maka teori ini disebut juga dengan atau aliran pesimisme.

Benarkah perkembangan itu dipengaruhi oleh pembawaan ? Untuk membuktikan kebenaran itu dapat diambil beberapa contoh. Misalnya kalau orang tuanya seorang penyanyi maka anaknya akan menjadi seorang penyanyi juga. Kalau orang tuanya seorang pelukis maka anaknya akan menjadi seorang pelukis juga. Contoh lainnya, seorang anak yang tidak berpembawaan usahawan biarpun dibesarkan dalam lingkungan keluarga usahawan, maka hasilnya akan minim sekali. Bahkan akan tertekan dan merasa jika dipaksakan.
Dua contoh diatas lebih merupakan contoh pembawaan karena aktor keturunan, karena ada kemungkinan menjadi seorang penyanyi atau pelukis tersebut diwariskan oleh orang tuanya melalui sel – sel kelamin. Tetapi bisa juga tidak karena keturunan jika pembawaannya semata – mata memang karena keunikannya dengan pribadi yang lain. Sedangkan contoh yang terakhir lebih dapat merupakan contoh pemawaan karena bakat, sebab bukan karena diwariskan karena sela – sel kelamin, dari sama sekali tidak ada kemiripan dengan keluarganya. Jika orang tuanya usahawan tentunya anaknya juga mempunyai pembawaan usahawan.

Benarkah perkembangan anak – anak semata – mata ditentukan oleh faktor pembawaan ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat digambarkan contoh Ilustrasi sebagai berikut. Apakah keluarga seorang yang baik pasti akan mempunyai anak yang baik ? Apakah seorang dari keluarga yang kurang baik akan mendapatkan anak – anak yang kurang baik saja ? atau dengan pertanyaan sebaliknya, apakah anak – anak yang jelek pasti dari keluarga yang jelek saja ? Tentu saja jawabannya, tidak. Berarti ada faktor lain di luar diri anak tersebut, bukan semata – mata karena pembawaannya (yang bersifat keturunan). Contoh lain bahwa perkembnagan bukan semata – mata ditentukan oleh pembawaan (yang bersifat bakat). Apakah anak yang kembar akan menjadi pribadi yang sama?, sama – sama menjadi baik atau sama – sama menjadi anak yang jelek ?.

 

ALIRAN NATURALISME


Aliran ini dipelopori oleh Jean Jaques Rousseau seorang Prancis yang hidup pada abad 18, dilahirkan pada tahun 1712 dan meninggal dunia pada tahun 1778. aliran ini ada persamaannya dengan teori nativisme, bahkan kadang – kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan – perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa sejak lahir anak sudah memiliki pembawaan sendiri – sendiri baik bakat, minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan – pembawaan lainnya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan yang alami, bukan lingkungan yang dibuat – buat. Pembawaan yang dibawa anak hanya pembawaan yang baik saja, tidak sama dengan teori nativisme yang meliputi pembawaan baik dan buruk. Secara alami pembawaan itu akan berkembang sesuai dengan alamnya sendiri – sendiri secara baik, jika anak menjadi buruk maka lingkunganlah dalam pernyataan yang dikemukakan Rousseau : “Semua adalah baik dari tangan Pencipta, semua menjadi buruk di tangan manusia”.

Melihat pernyataan Rousseau dari uraian diatas bahwa sebetulnya lingkungan juga ikut mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Tetapi tidak berpengaruh positif, melainkan hanya berpengaruh negatif saja, apabila lingkungan itu dibuat – dibuat, seperti lingkungan pendidikan.

Dengan kata lain jika pendidikan diartikan usaha sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap jelek terhadap perkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat – buat (alami), maka pendidikan yang dimaksud terakhir ini berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rousseau, “Pendidikan bukanlah suatu persiapan untuk hidup, melainkan memang hidup itu sendiri”. Pendidikan bukanlah harus mengikuti suatu prosedur tertentu, melainkan merupakan perkembngan atau pertumbuhan individu yang alami”.

Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat – buat, lingkungan yang alami, begitu juga yang berpengaruh terhadap perkembangan anak bukanlah pendidikan yang disengaja, melainkah pendidikan yang tidak disengaja. Pendidikan yang disengaja hanya berpengaruh negatif terhadap anak (karena pengaruh negatif inilah sehingga teori disebut juga negativisme). Yang menentukan yang memimpin, yang memerintah, yang mengarahkan hanyalah alamnya sendiri sesuai dengan pembawaan baik yang dimiliki anak sejak lahir. Tugas pendidikan adalah membiarkan anak berkembang menurut alamnya dan menjauhkan pengaruh yang jelek, karena kodrat pembawaan anak adalah baik.

Benarkah pembawaan mempengaruhi tehrdap perkembangan ? Benarkah yang dimiliki anak hanyalah pembawaan baik saja? Benarkah lingkungan atau masyarakat itu buruk ? Adakah pendidikan tanpa sengaja ? Pertanyaan pertama sudah terjawab pada pembahasan aliran nativisme. Jawaban pertanyaan keuda sangat tergantung dari keyakinan kita, terutama dari ajaran agama yang kita anut, karena pembawaan yang dibawa sejak lahir sama sekali tidak bisa dibuktikan secara empirik, sebab sejak lahir bahkan ketika masih dalam kandungan anak sudah tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Sedangkan keyakinan yang mana ada pembawaan baik dan pembawaan buruk, memang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari – hari tanpa dikaitkan apakah terbawa  sejak lahir atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ketiga, dapat dihubungkan dengan pertanyaan kedua tetai terjadi kontradiktif. Kalau sejak dilahirkan anak telah memiliki pemebawaan yang baik, kemudian lingkungan atau masyarakat dikatakan buruk, padahal masyarakat adalah terdiri dari sekumpulan individu, tentunya justru masyarakat akan berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Atau masyarakat tetap berpengaruh jelek terhadap anak, tetapi pembawaannya anak yang dibawa sejak lahir buruk semua. Tentunya yang terakhir tidak kita setujui. Yang dapat kita akui adalah bahwa masyarakat atau lingkungan dapat berpengaruh baik dan dapat berpengaruh buruk, sedangkan pertanyaan keempat dapat dijawab dengan dua pilihan tentang pengertian pendidikan, diartikan secara luas yaitu meliputi segala sesuatu yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Berarti pendidikan meliputi semua pengalaman manusia, meliputi semua kejadian. Atau pendidikan dapat diartikan hidup dan kehidupan itu sendiri. Contohnya tayangan – tayangan film yang maksud sutradara adalah agar pesan tertentu yang baik dapat dimiliki oleh penonton, tetapi yang ditangkap atau dicontoh oleh penonton jusru tingkah laku – tingkah laku yang lain, bahkan yang jelek, yang sebetulnya tidak diperhitungkan oleh sutradara, tetapi justru tingkah laku itulah yang ditangkap dan dimiliki oleh penonton. Pendidikan yang demikianlah yang dimaksud oleh Rosseau, pendidikan yang alami yang tanpa ada kesengajaan untuk membawa ke maksud tertentu. Contoh di atas justru maksud sutradalah yang tidak dikehendaki dalam pengertian pendidikan ini. Biarlah apa yang akan ditangkap oleh penonton dan nantinya akan secara alami akan dibentuk oleh lingkungan secara alami pula.

Sedangkan pengertian kedua, pendidikan diartikan usaha sadar dilakukan untuk membantu perkembangan anak didik sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Bedanya dengan pengertian yang pertama, dalam pengertian ini ada usaha secara sadar, ada kesengajaan dalam melakukan kegiatan, ada usaha mempengaruhi dan ada usaha membawa anak kemaksud tertentu, sekalipun nantinya keputusan tergantung dari anak didik, dan pengertian pendidikan inilah yang kita jadikan dasar melakukan suatu pendidikan. Justru pengertian pendidikan yang pertama dapat dikatakan sebetulnya tidak da kegiatan pendidikan. Sekalipun kita menganut pengertian pendidikan yang kedua, pengertian pendidikan yang pertama harus tetap kita perhatikan sebab tetap banyak kejadian – kejadian di luar pendidikan yang kita sengaja ini mempengaruhi terhadap ank didik atau manusia pada umumnya.


ALIRAN KONVERGENSI


Aliran ini dipelopori oleh William Stern, seorang Jerman yang hidup pada abad 20, dilahirkan pada tahun 1871  dan meninggal dunia pada tahun 1938. sesuai dengan namanya teori ini berusaha memadukan dua teori dimuka yang terlalu ekstrim dari pandangan yang berbeda, di satu sisi hanya mengakui lingkungan (empirisme ) yang menentukan perkembangan, sama sekali tidak mengakui adanya pembawaan, sedangkan disisi lain hanya mengakui pembawaan saja yang mempengaruhi perkembangan anak. Keduanya mengandung kebenaran dan keduanya mengandung ketidakbenaran. Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama – sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan, sebagaimana teori nativisme, teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembawaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang di bawa anak sejak lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut. Sebaliknya, sekalipun lingkungan yang bagaimana baiknya tidak akan menghasilkan perkembangan yang baik jika memang pada diri anak tidak ada pembawaan atau bakat seperti yang diharapkan akan dikembangkan. Sebagai contoh, diketemukan seorang anak di India yang tidak bisa berbicara sebagaimana seusia sebayanya (9 tahun) dan tidak bisa berjalan tegak sebagaimana pada umumnya, tetapi menggunakan tangan dan kaki sebagaimana binatang. Padahal telah kita ketahui bahwa manusia memiliki pembawaan berjalan tegak dan mempunyai potensi berbahasa yang terus berkembang, tetapi karena anak tadi dibesarkan oleh seekor serigala maka segala tingkah lakunya menyerupai binatang. Contoh ini menggambarkan ada pembawaan baik, tetapi tidak di dukung oleh lingkungan yang baik sehingga tidak bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkannya. Contoh yang lain, seorang anak normal seusia 5 bulan kita harapkan sudah dapat berjalan. Dengan menggunakan berbagai teknologi modern untuk mengupayakan agar bisa berjalan. Upaya tersebut akan sia – sia, bahkan bisa jadi fatal akibatnya misalnya patah kaki atau berbentuk X atau 0. kemudian anak normal usia satu tahun kita harapkan sudah bisa berbicara dengan baik dengan bantuan berbagai alat teknologi modern sekalipun, anak tersebut tetap tidak akan bisa berbicara dengan baik. Sebab pada pembawaannya anak baru dapat bisa berjalan sekitar umur satu tahun dan anak bisa berbicara dengan baik sekitar umur tiga tahun. Pada contoh terakhir ini upaya memberikan lingkungan yang baik tetapi tidak di dukung oleh pembawaannya. Sekalipun ada potensi untuk dikembangkan, yakni potensi bisa berjalan dan potensi bisa berbicara, tetapi pembawaannya ini terkait juga dengan waktu, yaitu munculnya potensi tersebut sehingga dapat berjalan atau dapat berbicara.
Berdasarkan pandangan tersebut, William Stem menyimpulkan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dan lingkungan, yang keduanya merupakan sebagaimana dua garis yang bertemu atau menuju pada satu titik yang disebut konvergensi. Istilah yang digunakan oleh Kihajar Dewantara adalah dasar sebagai pembawaan dan ajar sebagai lingkungannya, yang keduanya memkpengaruhi terhadap perkembangan anak didik, sama – sama tidak bisa dipisahkan. Bahkan dilukiskan bahwa anak sejak lahir telah membawa pembawaan sendiri – sendiri bagaikan meja berlapis lilin yang tertulisi remang – remang, tergantung dan lingkungannya untuk memperjelas tulisan – tulisan yang baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan – tulisan yang baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan – tulisan yang jelek tidak akan muncul atau bahkan kalau bisa dihapuskannya. Tulisan baik dan buruk dimaksudkan bahwa pada diri manusia ada pembawaan baik dan ada pembawaan buruk.
Dari uraian ketiga teori tersebut, teori yang cocok  dapat diterima sesuai dengan kenyataan adalah teori konvergensi, yang tidak mengekstrimkan faktor pembawaan, faktor lingkungan atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak, melainkan semuanya dari faktor – faktor tersebut mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Akan tetapi teori ini juga tidak bisa diterima jika anak didik sebagai subjek yang berkembang hanya dianggap menerima akibat pengaruh dari faktor – faktor tersebut. Artinya anak dalam menerima atau dipengaruhi faktor tersebut hanya menerima secara pasif saja bagaikan benda yang ditekan dari arah yang berbeda sehingga dapat ditentukan arah, kecepatan, jauh – dekatnya benda tersebut terlempar. Hal ini bertentangan dengan hakikat manusia sebagai manusia yang aktif. Sebagai contoh orang tua yang mempunyai status sosial ekonomi yang baik bahkan sangat memperhatikan terhadap tingkah laku anaknya walau yang sekecil apapun, menginginkan anaknya yang telah menyelesaikan sekolah SD dan SMP dengan baik untuk melanjutkan ke suatu sekolah SMTA yang baik yang sesuai dengan minat anak tersebut. Setelah diterima dan mengikuti pendidikan disekolah tersebut, tiba – tiba ditengah jalan anak tersebut menunjukkan tingkah laku yang negatif, misalnya bolos, pulang terlambat, bahkan kadang – kadang tidak pulang. Padahal tingkah laku terlambat , bahkan kadang – kadang tidak pulang. Padahal tingkah laiu tersebut tidak pernah dilakukan pada masa pendidikan sebelumnya. Kemudian orang tua anak tersebut berusaha mencari penyebab dan penyelesaiannya. Misalnya dengan menghubungi teman – teman terdekatnya dengan pesan – pesan tertentu, menghubungi guru – guru termasuk petugas BP-nya, menasihati, mengajak membicarakan dengan anak tersebut dan berbagai usaha telah ditempuhnya, bahkan usaha yang bersifat irasionalpun telah ditempuhnya, tetapi rupanya tidak membuahkan hasil dan gagallah sekolah anak tersebut, gagallah cita – cita orang tua agar anaknya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama.

Dari contoh tersebut dilihat dari teori konvergensi yang apabila memperlakukan anak semata – mata sebagai objek penegaruh faktor pembawaan dan lingkungan, atau dianggap manusia yang pasif maka teori tersebut masih tetap salah. Karena dilihat dari pembawaannya anak tersebut dari orang tua yang baik status sosial ekonominya. Anak tersebut dapat menyelesaikan studi sebelumnya dengan baik. Sedangkan lingkungan yang ada juga dapat dikatakan baik. Hal ini dapat dilihat dari usaha orang tua, perhatian orang tua, pilihan sekolah yang baik, dan usaha – usaha lainnya untuk mempengaruhi anaknya agar mempunyai masa depan yang baik. Akan tetapi pembawaan dan lingkungan tersebut tidak bisa seratus persen menentukan keberhasilan perkembangan anak. Hal ini berarti selain kedua faktor tersebut, keaktifan diri : reaksi, pilihan, penentuan dari diri anak tersebut ikut mempengaruhi terhadap perkembangan anak.

Bahkan oleh Kihajar Dewantara dikatakan keakktifan diri inilah yang dapat dipengaruhi oleh pendidikan agar dapat menguasai diri, jika penguasaan diri dimiliki, maka jiwa atau pembawaan yang jelek dapat dikuasai, dikendalikan, bahkan mungkin bisa dihilangkan. Sebab pada dasarnya ada pembawaan baik dan ada pembawaan jelek. Dan dalam jiwa manusia terdapat bagian yang bersifat biologis, yaitu keadaan jiwa yang berhubungan dengan perasaan yang sudah mendarah daging pada diri manusia, dan bagian inilah yang tidak dapat diubah oleh lingkungannya. Sedangkan bagian jiwa lainnya adalah yang bersifat intelligibel, yaitu keadaan jiwa manusia yang berhubungan dengank pikiran. Keadaan inilah yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan keadaan, termasuk pendidikan, jika bagian ini terus dikembangkan sehingga dapat menguasai diri, maka bagian biologis jiwa manusia tersebut dapat dikuasai.

Dalam kaitannya dengan keaktifan pada diri manusia jika hal tersebut sudah termasuk dalam pembawaan, maka teori konvergensi sudah memadai.
Pertanyaan selanjutnya, manakah diantara faktor hereditas dan faktor lingkunganl yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak bisa segera ditentukan yang mana yang lebih mempengaruhi terhadap perkembangan, seperti pada teori nativisme atau teori empirisme. Teori konvergensi tidak membedakan mana yang lebih menonjol, tetapi keduanya merupakan faktor yang sama – smaa saling mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Baik faktor heriditas maupun faktor lingkungan keduanya mempunyai ciri sendiri – sendiri, keduanya mempunyai rentangan kuantitas dan kualitasnya. Sebagai ilustrasinya, pembawaan yang dibawa anak bagaikan menja berlapis lilin yang sudah tercoreti, ada yang sudah penuh dan ada yang belum penuh, ada yang tercoreti secara remang – remang dan ada yang sudah lebih jelas. Begitu juga yang terjadi pada lingkungan, ada yang kuat dan sampai yang kurang kuat, dan banyak sedikitnya macam lingkungan yang mempengaruhi juga berbeda. Sehingga tidak bisa ditentukan mana yang lebih kuat di antara keduanya. Yang penting dengan adanya keaktifan pada diri anak, anak perlu mendapat bantuan agar dapat mengetahui dan menyadari apa yang jadi pembawaannya. Pembawaan – pembawaan yang buruk kperu dihambat bahkan dihilangkan perkembangannya. Juga perlu disadarkan bahwa di lingkungan sekitar anak terdapat lingkungan yang bermacam ada yang baik dn ada yang buruk. Dengan keaktifan pada diri, anak dapat menyadari mana yang menunjang dan mana yang menghambat perkembangan pembawaan yang dibawanya.


ALIRAN PENDIDIKAN ABAD XX

Beberapa aliran pendidikan yang termasuk aliran pendidikan modern sebagai berikut :

 

Aliran Essensialisme


Bagi aliran ini, pendidikans sebagai pemelihara kebudayaan, yaitu ingin kembali kepada kebudayaan lama warisan sejarah, yang telah membuktikan kebaikan -  kebaikannya bagi kehidupan manusia.
Kesalahan diri kebudayaan modern sekarang menurut essensialisme ialah kecenderungannya, bahkan gejala – gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu.
Proses belajar menurut essensialisme
-          Melatih daya jiwa yang potensial ada
-          Proses belajar sebagai menyerap apa yang berasal dari luar. Yaitu dari warisan – warisan sosial yang disusun di dalam kurikulum tradisional dan guru berfungsi sebagai perantara.
-          Belajar adalah proses aktif pribadi untuk mengerti dan menguasai sesuatu. Materi dan isi yang dipelajari itu ialah  apa yang tersimpul dalam istilah kurikulum. Yaitu kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang didasarkan pada target tertentu, yang tidak dikurangi sebagai satu kesatuan pengetahuan, kecakapan-kecakapan, dan sikap yang berlaku di dalam kebudayan yang demokratis.

Isi pendidikan perlu ditetapkan guna efektifitas pembinaan kepribadian. Artinya perlu ada materi pokok yamg mengarangkan pengetahuan sebagai isi yang harus dikuasai dalam kehiduanya.
Fungsi guruh adalah sebagai perantra antara bahan yang telah ditentukan berdasar standart itu dengan murid sebagai penerima.
Sekolah terutama berfungsi mendidik warga negara supaya hidup sesui prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat. Demiashkevich berpendapat bahwa fungsi sekolah terutama sebagai pesat intelectuall training dan latihan daya jiwa yang sudah ada sebagai hereditas.
Home menganggap kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Yang utama ialah essential studies yang meliputi motede ilmiah, dunia organis dan an-organis, apresiasi seni.


Aliran Progresivisme

            Progresivesme lahir sebagi pembaharuan dalam dunia pendidikan terutama sebagai lawan terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan konvensional yang diwarisi dari abad ke sembilan belas.
            Progresif (berkembang maju) adalah sifat alami kodrat, dan itu berarti perubahan, dan perubahan berarti sesuatu yang baru. Progresivisme menganggap pendidikan mampu merubah dalam arti membina kebudayan yang baru yang dapat menyelamatkan manusia bagi hari depan yang makin komplek dan menantang.
            Anak berada didalam lingkungan yang selalu mengalami perubahan, perkembangan. Dan anak memiliki potensi dan kemampuan intelegensi yang dapat memecahkan problema hidupnya. Dan proses pendidikan terutama dipusatkan untuk latihan dan penyempurnan intelgensi.
            Dalam proses belajar, harus disdari bahwa yang aktif adalah the whole child, seluruh tingkah laku sebagai perwujudan dari seluruh aspek keribadian secara utuh.
            Belajar sesungguhnya bukan semata-mata terjadi di dalam sekolah. Belajar terjadi dalam semua kesempatan dan tempat, jadi termasuk dalam masyarakat.
            Dewey menyatakan sekolah yang baik ialah yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh semua jenis belajar yang membantu murid untuk berkembang. Kurikulum yang baik ialah seperti fingsi laboratorium. Yaitu sebagai rentetan muridnya, yang dalam beberapa aspek melkukan funsi ilmiawan.
            Progesivme menghendaki bentuk yang bervariasi dan isi kurikulum yang kaya, yaitu yang mendorong perkembangan dan kemampuan praktis. Inilah yang di maksud kilatrick dengan metode projek.


Aliran Rekonstruksionisme

            Tokoh rekonstruksionisme ialah theidore brameld. Dinyatakan bahwah ada satu kebutuhan amat mendesak untuk kejelasan dan kepastian bagi kebudayaan jaman modern, yang sekarang mengalami ketakutan, lebimbangan dan kebingungan. Caranya berusaha memebina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia.
           
Rekontruksionisme ingin merobek tata susunan lama, dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru, melalui lembaga dan proses pendidikan. Aliran ini mencinta-citakan terwujudnya satu dunia baru dengan satu kebudayaan baru di bawah satu kedaulatan dunia, dalam kontrol mayoritas umat manusia.

Pragmatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwah yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benat dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan.
            Aliran ini bersedia menirima segala sesuatu asal saja membawah akibat yang prktis. Pengalaman-pengalaman pribadi diterimanya asal bermanfaat. Patokanya adalah “manfaat bagi hidup praktis”.pelopor       Pragmatisme adalah Williams James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952) .
Pengetahuan adalah perbuatan. Kadarkebenarannya akan tampak dari pengujian oleh pengalaman-pengalaman di dalam praktik. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman-pengalaman dan untuk mengetahui arti yang sebenarnya adalah metode induktif . metode ini bukan hanya berlaku untuk ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan social dan moral.
            Menurut Dewey kepribadian adalah sesuatu yang harus dicapai, sesuatu yang sedang dalam pembentukan. Maksud dan tujuan sekolah untuk membangkitkan sikap hidup demokratis dan untuk memperkembangkannya . hal ini harus dilakukan dengan berpangkan kepada pengalaman-pengalaman anak.Harus diakui bahwa tidak semua pengalaman berfaedah oleh karena itu sekolah harus memberikan sebagai “bahan pengajaran” . Pengalaman-pengalaman  yang berfaedah bagi hari depan anak didik dan sekaligus dapat dialami oleh anak didik itu pada masa kini. Anak didik harus menyelidiki, menyaring, dan mengatur pemngalaman-perngalaman yang demikian itu.
           
DUA ALIRAN POKOK PENDIDIKAN DI INDONESIA
            Setelah kita pelajari berbagai aliran pendidikan secara umum baik aliran klasik, aliran baru maupun aliram modern, yaitu merupakan pemikiran, pandangan, atau gagasan-gagasan tentang bagaimana seharusnya melakukan pendidikan yang terjadi sebelum abad -19 (aliran baru), mereaksi gagasan-gagasan abad 19 (aliran modern), perlu juga dipelajari beberapa aliran pendidikan yang terjadi di masa sendiri. Macam-macam aliran tersebut dapat diketahui dari pandangan-pandangan dan lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh berbagai ahli pendidikan di Indonesia. Macam dan jenis lembaga pendidikan tersebut adanya ragam latar belakang dan kepentingan pendiriannya. Ada yang karena kepentingan ras dan suku seperti sekolah serikat Ambon,  karena kepentingan memperjuangkan kaumsesamanya seperti sekolah Dewi Sartika dan sekolah Kartini, karena kepentingan persatuan seperti sekolah Budi Utomo karena kepentingan agama seperti sekolah-sekolah yang diadakan oleh lemabaga-lembaga pendidikan yang dibawah naungan organisasi kemasyrakatan dan keagamaan (NU, Muhammadyah, dsb) dan masih banyak lagi latar belakang dan kepentingannya sehingga bermunculan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Walaupun demikian kesemuanya jenis lembaga yang bermunculan tersebut bermaksud ingin mewujudkan yang berciri khas atau sesuai dengan karakteristik sesuai dengan budaya bangsa Indonesia sendiri.
            Dari berbagai aliran penddidikan di Indonesia ada dua aliran pokok yang perlu kita pelajari yaitu pendidikan Taman Siswa dan Pendidikan INS. Hal ini antara lain karena latar belakang dan kepentingan pendiriannya untuk semua bangsa secara umum tanpa melihat ras, suku, daerah, wilayah , keyakinan, dan keagamaan, atau golongan tertentu saja, sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia. Disamping itu waktu pendiriannya terutama karena mereaksi pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintak colonial Belanda yang sangat tidak menguntungkan kepentingan bangsa Indonesia , baik kesempatan yang diberikan, diskriminasi bangsa dan golongan, maupun kepentingan hasil pendidikan misalnya hanya untuk menyiapkan pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh Belanda. Juga oleh karena gagasan atau pemikiran-pemikirannya dan realisasi pendidikannya telah diakui oleh tokoh-tokoh dari aliran pendidikan dunia. Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa gagasan atau pemikiranya telah dilaksanakan dalam pendidikan nasional sekarang ini seperti system among, pelaksanaan sekolah kejuruan dan sebagainya.uraian secara mendalam akan diuraikan pada bahasan berikut ini.

Pendidikan Taman Siswa
Riwayat Singkat Pendidikan Taman Siswa
            Pendiri pendidikan Taman S atau lebih dikenal dengan perguruan taman siswa  ini adalah seorang bangsawan dari Yogyakarta bernama RM. Suwardi Suryaningrat. Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889dari ayah bernama  K.P.H. Suryaningrat .Setelah usia 39 tahun atau 40 tahun (tahun jawa), tepatnya pada tanggal 23 pebruari 1928 berganti nama menjadi Kihajar Dewantara. Pendidikan yang telah ditempuh dimulai dari Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School), kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah dokter di Stovia. Berhubung kekurangan biaya, sekolah ini ditinggalkan, kemudian bekerja dan memasuki dunia politik bersama sama lulusan Stovia yang lain seperti Dr.Cipto Mangun Kusuma dan Dr. Danurdirjo Setyabudi(Dr. Douwes Dekker). 

Perjuangan sebelum mendirikan Taman Siswa
            Sebelum memasuki lapangan pendidikan, bersama dengan dua teman lainnya Dr.Cipto Mangun Kusuma dan Dr. Danurdirjo Setyabudi, Kihajar Dewantara mendirikan organisasi politik yang bersifat revolusioner, sehingga terkenal dengan nama tiga serangkai pendiri Indische Partij (IP).  
            Dalam saat itu juga (1912) Kihajar Dewantara bersama dengan Dr. Cipto Mangunkusuma mendrikan Komite Bumiputera yang bertujuan memprotes adanya keharusan bagi rakyat Indonesia yang dijajah untuk merayakan kemerdekaan Nederland dari penindasan Napoleon yang dengan paksa mengumpulkan uang sampai kepelosok - pelosok.Dengan brosur pertama yang berjudul “Seandainya aku orang Belanda”dari karyanya sendiri yang secara singkat isinya tidak selayaknya bangsa Indonesia yang ditindas ikut merayakan kemerdekaan dari bangsa Belanda yang menindasnya.
            Karena dianggap bahaya, Kihajar Dewantara diinternir ke Bangka, kemudian dieksternir ke negeri Belanda atas permintaannya sendiri.Pada massa ini dan ditempat inilah ia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari masalah pendidikan dan pengajaran. Setelah 4 tahun, dengan tanpa diminta putusan eksternir itu dicabut sehingga ia dapat pulang kembali ke tanah airnya.
            Sekembali ketanah airnya ia meneruskan perjuangan politiknya, dimulai lagi dari menulis di surat kabar yang berjudul “ Kembali ke Pertempuran” . ia menjadi sekretaris politik , dan menjadi redaktur tiga majalah dari partai politik (National Indesche Partij) tersebut yaitu De Beweging, Persatuan India , dan Penggugah. Dengan aktifnya kedunia politik hidupnya hanya untuk masuk dan keluar penjara.
            Karena semakin kejam Pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia, lebih-lebih terhadap pergerakan rakyat Indonesia dan agar perjuangan untuk kepentingan bangsa lebih bermanfaat maka Kihajar Dewantara meninggalkan medan politik yang nampak, memasuki medan pendidikan dan pengajaran (1921) dimulai dari mengajar pada Sekolah Adhidarma kepunyaan kakaknya R.M Suryopranoto di Yogyakarta.

Perjuangan setelah mendirikan Taman Siswa
            Setlah satu tahun mengajar di Adhidarma Kihajar Dewntara mendirikan sekolah yang sesuai dengan cita-citanya sendiri (3 Juli !922) dengan nama “Natinal Onderwisj Institut Taman Siswa ” yang kelak diubah menjadi Perguruan Kebangsaan Taman Siswa. Sekolah ini mula - mula hanya meliputi bagian Taman Anak dan Bagian Kursus Guru saja.
            Perjuangannya mengalami banyak rintangan , tetapi semuanya dapat diatasi berkat keberanian dan keuletan dari sifat yang dimilikinya, yang dapat dilihat dari beberapa peristiwa berikut ini.
            Dalam tahun 1924 ia dikenakan pajak rumah tangga, tetapi ia tidak suka membayarnya , karena keluarganya hanya menempati dua kamar yang dikelilingi kelas kelas di tengah perguruannya. Menurut taksirannya seharusnya tidak kena pajak, dan barang-barang milik perguruan juga  seharusnya bebas dari pajak tersebut. Akhirnya barang-barang kepunyaan Taman Siswa dilelang di depan umum. Tetapi kemudian pajak itu dikembalikan setelah Kihajar Dewantara mengajukan protes. Dan atas kedermawanan pembeli, barang - barang milik Taman Siswa yang terlelang tersebut diserahkan kembali kepada Taman Siswa.
            Rintangan berikutnya adanya ordonansi Sekolah partikelir yang dikeluarkan pada tanggal 17 September  1932, dimana isinya : Sekolah Partikelir harus minta izin dahulu; guru-guru sebelum memberi pelajaran harus memiliki izin mengjar ;dan isi pelajaran tidak boleh melanggar peraturan negeri dan harus sesuai dengan sekolah negeri.
            Kihajar Dewantara menentangnya, karena ordonansi itu diangap melampaui batas. Segera ia mengirim kawat protes kepada Gubernur Jendral. Sikap tersebut mendapat sambutan dari partai-partai serta banyak harian dan diperjuangkan pula di Volkraad. Akhirnya ordonansi itu dibatalkan (1933).
            Tipu muslihat lain dengan dikeluarkan “Larangan Mengajar”. Selama 2 tahun (1934-1936) Guru Taman Siswa yang terkena korban lebih dari 60 orang bahkan ada cabang Taman Siswa yang ditutup selama satu tahun.
            Mulai bulan Pebruari taun1935 Taman siswa terkena lagi peraturan tentang tunjangan anak yang mulai tahun ini hanya diberikan kepada pegawai negeri yang anaknya bersekolah pada sekolah negeri,sekolah partikelir mendapatkan subsidi,sekolah-sekolah lain yang dapat  hak memakai salah satu nama sekolah negeri, misalnya HIS, Voolks Schooldan sebagainya. Oleh perjuangan Kihajar Dewantara akhirnya mulai tahun 1938 tunjangan anak bagi semua pegawai sama tanpa melihat sekolah yang dimasuki.
            Perjuangan lainnya adalah menentang Pajak Upah yang diberlakukan tahun 1935. Kihajar Dewantara menentangnya karena dalam Taman Siswa tidak ada majikan dan buruh ,tetapi atas dasar kekeluargaan. Tuntutannya berhasil tahun 1940 sehingga guru-guru Taman Siswa dibebaskan dari PajakUpah tersebut.
            Pada jaman Jepang juga dikeluarkan peraturan tentang sekolah partikelir, yang diperbolehkan hanya sekolah kejuruan saja (kecuali sekolah guru), misalnya urusan rumah tangga, pertanian, perindustrian, dan lain-lainya. Karena itu Taman Dewasa diubah menjadi Taman Tani, Taman Madya dan Taman Guru dibubarkan. Pada tahun ini ia pindah ke Jakarta karena diangkat sebagai salah seorang pemimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat).
            Pada zaman kemerdekaan ia pernah berturut – turut Mentri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama, Anggota dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung, Anggota Parlemen, serta mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Kebudayaan dari Universitas Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1956. Dan pada tanggal 26 april 1959 Kihajar Dewantara meninggal dalam usia 70 tahun.

GAGASAN , DASAR DASAR TUJUAN PENDIDIKAN
Gagasan
            Kihajar Deantara berpendapat pendidikan (termasuk pengajaran) untuk tiap tiap bangsa berarti pemeliharaan guna mengembangkan benih turunan dari bangsa itu, agar dapat berkembang dengan sehat lahir dan batin. Untuk itu manusia individu harus dikembangkan jiwa raganya dengan mempergunakan segala alat pendidikan yang berdasarkan adapt istiadat rakyat.
            Ia menilai bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh colonial Belanda tidak sesuai dengan tuntunan konsep diatas,karena tidak berdasarkan kebutuhan rakyat Indonesia. Pendidikan yang diselenggarakan hanya cocok untuk colonial saja, tidak disesuaikan dengan jiwa raga bangsa Indonesia.
            Selanjutnya ia menganggap pendidikan yang diselenggarakan colonial tidak dapat memupuk dan menjamin perikehidupan bersama, membuat selalu bergantung pada penjajah, tidak menjadikan manusia yang merdeka. Untuk mengubah keadaan ini tidak akan lenyap jika hanya perlawanan politik saja, melainkan harus juga dipentingkan penyebaran hidup merdeka dikalangan rakyat dengan cara pengajaran  yang disertai pendidikan nasional.
Pendidikan nasional yang dimaksud adalah suatu sistem pendidikan yang berdasarkan atas kebudayaan kita sendiri dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Dalam pada itu “intelktualisme” harus dijauhi dan harus menerapkan sistem mengajar yang dinamai sistem Among yang menyokong kodrat anak didik bukan dengan “perintah-paksaan”, tetapi dengan tuntunan berkembanglah hidup lahir batin anak menurut kodratnya sendiri dengan subur dan selamat . dalam sistem Among ini dikemukakan dua dasar pokok, yaitu (1) Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan mengerakkan kekuatan lahir dan batin hingga dapat hidup merdeka  (dapat berdiri sendiri) (2) kodrat alam, sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.
Untuk dapat mempraktikan pendidikan nasional itu haruslah ada kemerdekaan seluas-luasnya. Karena itu janganlah suka menerima bantuan yang dapat mengikat diri , sedangkan untuk dapat berdiri langsung haruslah dijalankan “cara berbelanja sendiri”  dengan bersendi atas “kekuatan sendiri” (prinsip non-cooperation dan prinsip self help. Selain dari pada itu pengajaran harustersebar di kalangan rakyat yang terbanyak, janganlah hanya dierikan kepada lapisan yang tertinggi saja. Kekuatan bangsa tidak akan berkembang, jika kam elite saja yang merupakan kaum terpelajar (prinsip demokrasi)i

Dasar pendidikan
Dasar atas segala azas untuk segala usaha Taman Siswa baik mengenai pendidikan atau pengajaran, maupun yang berhubungan dengan organisasi maupun adat istiadat dalam hidup ke-tamansiswa-an” adalah azas 1922, dan dasar-dasar 1947. Azas ini merupakan azas perjuangan untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda serta sekaligus untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan sifatnya yang nasional dan demokratis. Azas ini nanti akan tetap hidup sebagai sifat-sifat yang hakiki dari Taman Siswa ,yang tak dapat diubah, dikurangi atau ditambah  selama Taman Siswa dipakai. Azas ini diumukan dan disahkan oleh Kongres Taman Siswa yang pertama di Yogya karta yang bertepatan dengan berdirinya Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 tersebut adalah (1) setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri engan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum. Dan tujuannya adalah mendapatkan tertib dan damai. Perlu sekali orang dapat tumbuh menurut kodrat (bakat) tanpa adanya paksaan berupa apapun juga, sebab tiap paksaan merupakan perkosaanterhadap hidup kebatinan anak. Alat pendidikan pemerintah dan hukuman dalam ketertiban ditiadakan pendidikan wajib menjaga anak didik dengan suka cita agar anak didik berkembang sesuai dengan kodratnya. Inilah yang disebut sistem among, yaitu sebagai pimpinan berdiridi belakang dengan semboyan tut wuri handayani , yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri, dan tidak harus terus menerus mencampuri, diperintah atau dipaksa. Pamong hanya wajib menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi jalannya anak serta hanya bertindak aktif serta mencampuri tingkahlaku atau perbuatan anak  apabila mereka sendiri tidak mampu menghindarkan diri dari berbagai rintangan atau ancaman keselamatan atau gerak majunya.(2) bahwa pengajaran harus membimbing anak menjadi manusia merdeka dalam cipta, rasa dan karsadan dalam menggunakan tenagannya.disamping memberikan pengetahuan yang perlu dan bermanfaat guna kemerdekaan hidup lahir dan batin dalam masyarakat , guru harus mencari para siswa mencari dan menggunakan pengetahuan itu. Dalam azas ini masih menggunakan pengetahuan lebih lanjutdari azas kemerdekaan di atas, yakni dengan memberi ketegasan kemerdekaan itu hendaknya dikenakan terhadap cara siswa berpikir, yaitu agar siswa jangan terlalu dicekcoki atai disuruh menerima buah pikiran orang lain saja, melainkan hendaknya para siswa disuruh mencari atau menemukan sendiri berbagai nilai, keterampilan dan pengetahuan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya sendiri. Untuk menyiapkan agar anak kelak betul-betul merdeka lahir batin , hendaknya dilakukan dengan cara memerdekakan batinnya., pikiran dan tenagannya .(3) Bahwa pendidikan harus didasarkan atas kebudayaan bangsa Indonesia sendiri agar kelak anak tidak terpisah dari bangsanya dengan ajaran ini taman siswa ingin  mencegah sistem pengajaran yang bersifat intelektualistik dan pola hidup yang kebarat-baratan yang dapat memisahkan orang terpelajar dengan rakyat jelata pada umumnya.,(4) bahwa pengajaran harus meliputi bagian rakyat yang terbesar, sebab kekuasaan bangsa dan negara adalah paduan kekuatan warganya. Dari azas ini jelas bahwa pendirian Taman Siswa yaitu lebih baik mengajukan pengajaran untuk rakyat umumdaripada mempertinggi pengajaran tetapi mengurangi tersebarnya pendidikan dan pengajaran, dengan kata lain Taman siswa lebih mementingkan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum , (5) bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir dan batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apapun dan dari siapapun yang mengikat, baik berupa ikatan lahir maupun batin.
            Dengan azas “hidup dengan kekuatan sendiri” inilah mengapa Taman Siswa mampu mempertahankan kepribadiannya sepanjang masa (dalam masa penjajahan maupun dalam masa emerdekaan sekarang ini), (6) Bahwa karena tiap usaha berdasarkan atas kekuatan sendiri , maka segala sesuatu haruslah hemat dan segala sesuatu ditutup dengan uang dari pendapatan sendiri pula. Itulah “sistem hidup di atas kaki sendiri” dari azasitu tersirat keharusan untuk hidup sederhana dan hemat., dan (7) bahwa dalam memdidik harus menyerahkan diri untuk menghamba pada sang anak dengan tanpa meminta suatu hak dan bebas dari segala ikatan. Dengan hati yang suci ia wajib bekerja untuk kepentingan anak.
            Azas berhamba kepada anak ini menunjukkan hasrat Taman Siswa untuk menampilkan dalam arti yang semurni-murninya sebagai pendidik anak, pendidik yang bekerja tanpa pamrih, ikhlas, penuh pengorbanan, demi kebahagiaan anak semata. Kualifikasi pendidik yang seperti inilah yang pantas berhak memiliki sebutan pamongatau istilah sekarang “pahlawan tanpa tanda jasa”

Dasar-dasar 1947
            Setelah bangsa indonesia memproklamasikannya pada tangga 17 Agustus 1945 Taman Siswa meninjau kembali semua peraturannya untuk disesuaikan dengan situasi baru. Pemerintah tidak lagi berjuang melawan pemerintah kolonialdan tidak perlu lagi berjuang melawan kolonial, serta tidak perlu lagi bersikap non-cooperation. Dengan perjuangan 1922, Taman Siswa merasa mencapai apa yang dituju. Karena kini indonesia telah merdeka, Taman siswa harus bekerjasama dan membantu usaha-usaha pemerintah Republik Indonesia dalam hendak memajukan dan mencerdaskan bangsa. Maka dibentuklah panitia “ Mangunsarkoro” untuk tujuan tersebut dan hasilnya adalah 5 azas, yang disebut “Dasar-dasar 1947”      atau Panca Dharma. Dasar-dasar 1947 ini sama sekali tidak bertentangan dengan azas 1922dan tidak pula mengubah inti isinya.
            Adapun Dasar-dasar 1947 tersebut adalah  (1) Azas kemerdekaan, harus diartikan disiplin pada diri sendiri atas dasar nilai hidup yang tinggii, baik sebagai hidup individu maupun sebagai hidup masyarakat. Maka dari itu kemerdekaan menjadi alat mengembangkan pribadi yang kuat dan sadar dalam suatu perimbangan dan keselarasan dengan masyarakat tertib damai di tempat keanggotaannya, (2) azas kodrat alam, bahwa pada hakekatnya manusia itu sebagai mahluk adalah  satu dengan kodrat alam ini. Ia tidak bisa lepas dari kehendaknya. Tetapi akan merasakan bahagia apabila dapat menyatukan diri dengan kodrat alam  yang mengandung kemajuan yang dapat digambarkan bertumbuhnya tip-tiap benih suatu pohon yang kemudian berkembang menjadi besar dan akhirnya berbuah setelah menebarkn benih yang baru kemudian mengakhiri hidupnya, dengan keyakinan darmanya akan dibawa hidup terus dengan tumbuhny lagi benih-benih yang disebarkan., (3) Azas kebudayaan, tidak berarti asal memelihara kebudayaan, kebangsaan, tetapi pertama-tama membawa kebudayaan kebangsaan itu ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan dunia, dan kepentingan hidup rakyat lahir batintiap-tiap jaman dan keadaan, (4) Azas Kebangsaan, yang berarti tidak boleh bertentangan dengn kemanusiaan ,malahan harus menjadi fiil (perbuatan) kemanusiaan yang nyata dan oleh karena itu tidak mengandung arti permusuhan dengan bangsa lain. Melainkan mengandung rasa satu dengan bangsa sendiri, rasa satu dalam suka dan duka, rasa satu dalam kehendak menuju kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa, dan (5) Azas Kemanusiaan, menyatakan bahwa dharma tiap-tiap manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan, yang berarti kemajuan manusia itu lahir dan batin yang setinggi-tingginya, dan juga bahwa kemajuan kemanusiaan yang tinggi itu dapat dilihat pada kesucian hati orang dan adanya rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap mahluk Tuhan seluruhnya, tetapi tidak bersifat kelembekan hati, melainkan bersifat keyakinan akan adanya hukum kemajuan yang meliputi alam semesta. Karena dasar cinta kasih kemanusiaan itu harus tampak pula sebagai kesimpulan untuk berjuang melawan segala sesuatu yang merintangi kemanjuan selaras dengan kehendak alam.
            Dari azas 1922 dan dasar-dasar 1947 Taman Siswa di ats jelas tersurat dan tersirat bagi Taman Siswa untuk harus melaksanakan sistem among dengan semboyan Tut Wuri Handayani di dalam sistem pendidikan dan pengajaran.
            Sistem among ini juga telah mendapat sambutan baik dari Drs. RMP.Sostrokartono (kakak RA. Kartini)seorang filsuf dan ahli bahasa, bahkan semboyan ini ditambahnya , yaitu Ing Ngarso sung tulada (di dapan memberi contoh) dan Ing madya Mangun Karsa menghendaki diterapkan dimana pada situasi agak ragu-ragu untuk bergerak dan kurang bergairah dalam mengerjakan suatu. Dalam situasi demikian pendidik perlu memacu dengan jalan mendorong atau membangkitakan keinginannya untuk terus maju sesuai dengan kemampuan dan kondisi anak-anak masing-masing.
            Tambahan kedua semboyan tersebut di dasarkan   pada pertimbangan teknis semata, yaitu mengingat adanyaa perbedaan individual di antara para siswa. Dengankata lain semboyan-semboyan tersebut hakikatnya sama dengan  caramemandang dan menyikapi anak,sama-sama tidak ada unsur perintah, paksaan dan hukuman, dan tidak pula adanya campur tangan dari pihak pendidik yang dapat mengurangi kebebasan anak untuk berjalan sendiri dengan kekuatan sendiri.

Tujuan Pendidikan
            Pada jaman penjajahan Belanda dan tujuan Pendidikan Nasional  Taman Siswa bersifat politik, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia. Sedangkan tujuan murni pendidikan yang diinginkan Taman Siswa  yang termuat dalam Peraturan Besar taman Siswa bab IV pasal 13 adalah : membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Dan tujuan tertinggi Taman Siswa adalah terwujudnya masyrakat tertib dan damai.

MATERI DAN METODE PENDIDIKAN
            Sesuai dengan dasar pendidikan nasional, pendidikan kebudayaan, pendidikan kebangsaan dan pendidikan kemanusiaan, maka bahan yang dimiliki untuk dikembangkan harus berhubungan dan berguna untuk itu. Karena itu bahan harus dapat menunjukkan sifat kultural nasional. Tiap-tiap pelajaran yang diberikan sebagai bagian dari peradaban bangsa. Dimana perlu juga harus memperbaiki segala syarat keadaan untuk disesuaikan dengan jaman. Pemuda tidak boleh terkekang oleh tradisi dan konvensi-konvensi yang menghambat pesatnya kemajuan akta.
            Segala bahan harus dapat membangkitkan perasaan cinta kepada tanah air dan bangsa. Untuk itu diperlukan sekali nyanyian-nyanyian nasional, cerita-cerita pahlawan bangsa, keindahan alam tanah air dengan jalan darmawisata, dan sebagainya.
            Juga tidak hanya pendidikan kecerdasan, terutama pendidikan penjagaan dan latihan kesusilaan, serta pendidikan kebudayaan yang bersifat kebangsaan.
            Pendidikan kesenian meliputi melukis, musik, menari, menabuh gamelan, sesuai dengan pembawaan masing-masing. Menurut Ki Hajar Dewantara kesenian bangsa dapat diajarkan dalam kelas dan kepada umum dan perlu untuk menghaluskan kesusilaan  dan meneguhkan semangat kebangsaan.
            Bahasa Indonesia baik sebagai bahasa persatuan maupun sebagai bahasa pengantar diwajibkan dilaksanakan. Sedangkan bahasa daerah yang penting diajarkan sesuai daerahnya masing-masing.
            Bahasa asing diajarkan untuk keperluan melanjutkan  pelajaran dan untuk menambah perhubungan dengan luar negeri.
            Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa semua bahasa asing hendaknya diajarkan di sekolah “untuk bahasa asing” . Maksudnya, pada waktu memberikan pelajaran bahasa Inggris diusahakan supaya jangan sampai nanti anak didik menjadi  ke-Inggris-inggrisan atau kebarat-baratan
            Sejarah dan Ilmu Bumi tanah air dipentingkan, sebab disitu banyak yang dapat dipakai untuk membangkitkan rasa kebangsaan.
            Adapun sistem pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka pendidikan nasional adalah Sistem Among. Dasar dari sistem ini adalah dua dasar dari Dasar 1947 yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Sebagai mana yang telah diuraikan pada bagian gagasan diatas, yang dimaksud menurut dasar kodrat alam bahwa kemajuan yang sejati hanya dapat diperoleh dengan perkembangan kodrat alam. Pendidik hanyalah sebagai Pamong yang berdiri dibelakang (tutwuri handayani). Pamong hanya wajib menyingkirkan segala hal yang merintangi jalannya anak didik dalam mencapai tujuan pendidikannya.
            Manurut dasar kodrat alam keluargalah yang pertama-tama harus memberi pendidikan. Sistem Among mengutamakan sistem pendidikan kekeluargaan. Dan menurut kodrat alam perkembangan anak didik sebelum dewasa dapat dibagi sebagaimana berikut ini : (1) Jaman-wiraga (wi = penyempurnaan; raga = badan) terjadi dalam windu pertama. Ini adalah masa perkembangan indera dan bagian badan lain, (2) Jaman wicipta (cipta = kenal, pikir) terjadi dalam windu kedua. Ini adalah masa perkembangan daya-daya jiwa, terutama daya mengenal, pikir dan (3) Jaman-wirama (irama = harmoni, pelarasan atau penyesuaian). Ini adalah  masa untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat besar, tempat anak didik mengambil bagian sesuai dengan cita-citanya, berlangsung dalam windu ketiga.
            Pada waktu anak dilahirkan memiliki pembawaan dan bakat (kodrat) sendiri, berupa kesanggupan dan kemampuan yang tidak sama untuk semua anak. Atas dasar pembawaan dan bakat itulah sistam Among itu dilaksanakan.
            Menurut kodrat alam perkembangan jaman laki-laki dan perempuan tidak sama. Karena itu Sistem Among memberikan pendidikan tersebut berlainan tujuannya. Pendidikan jasmani untuk puteri bertujuan memelihara kesehatan untuk dirinya dan keturunannya, sedangkan pendidikan jasmani untuk laki-laki bertujuan tidak hanya untuk memelihara kesehatan tetapi juga untuk mendapatkan kekuatan badan.
            Dan yang dimaksud dengan dasar kemerdekaan adalah anak didik diberi kesempatan untuk mengatur dirinya sendiri sesuai dengan kodratnya. Secara bebas merdeka. Tetapi harus diingat bahwa kebebasan yang dimaksud bukan kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang dikaitkan pada tertib damainya hidup bersama. Kemerdekaan itu harus diberikan kepada anak dalam mengembangkan pikir, rasa dan kemauannya agar berkembang kearah kebebasan tetapi bukan kebuasan. Jadi yang dimaksud dengan kebebasan disini adalah kebebasan yang mengandung menahan diri, mengatur diri, menyesuaiakn diri dengan tata tertib / peraturan masyarakat, menahan diri bila timbul hasrat yang kurang baik.
            Untuk mewujudkan pelaksanaan sistem Among dalam pendidikan dan pengajaran, dalam kaitannya sistem Among dalam pendidikan dan pengajaran, dalam kaitannya dengan dasar kemerdekaan, maka hal-hal yang dapat dipakai sebagai pedoman bagi pendidik adalah : Sistem Among tidak menghendaki adanya hukuman dan hadiah, karena alat itu bertentanagn dengan dasar kemerdekaan yang menghendaki adanya kebebasan dalam mempergunakan pikiran, bagin dan tenaganya. Hukuman hanya merupakan paksaan dan tekanan yang menimbulkan perasaan harga diri kurang. Sedangkan hadiah mendorong ketindakan pamrih dan karenanya mengurangi kebebasan berbuat dan bersikap. Hukuman dan hadiah hanya diperbolehkan jika dapat membawa anak kepada rasa keadilan. Sistem Among setuju dengan hukuman alam (Rosseau(, yang akan menimbulkan penyesakan dan kehendak untuk tidak berbuat kejahatan lagi karena akibat yang tidak menyenangkan.
            Sistem Among memberi kesempatan yang sebanyak-banyaknya agar anak didik itu aktif (berusaha sendiri ) dalam mencari pengetahuan dan spontan (tidak meniru) dalam perbuatan. Dan juga menghendaki sekolah pasif menjadi sekkolah kerja (Dewey dan Decroly), dan juga agar berkembang insting mencipta dalam pribadi anak (Frobel).
            Sistem Among atas dasar kemerdekaan ini menghendaki kelas terbuka dengan maksud untuk menghilangkan rasa terkurung dan untuk menimbulkan suasana bebas. Kelas terbuka yang dimaksud adalah kelas-kelas yang ada dalam sekolah sedikitnya terbuka sesisi, jadi dinding kelas sebanyak-banyaknya terdiri dari 3 buah dinding.
            Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem dan metode yang dipakai dalam pelaksanaan pendidikan Taman Siswa terutama dengan Sistem Amongnya menerapkan azas-azas belajar seperti berlaku dalam sistem pendidikan yang dikehendaki tokoh-tokoh pendidikan dunia seperti azas kemerdekaan belajar dan bekerja sendiri (Montessori), Azas keaktifan atau sekolah kerja (Dewey, Kerchenteiner) dan Azas kelas terbuka (R. Tagore).


JENIS DAN JENJANG PENDIDIKAN
            Adapun jenjang dan jenis pendidikan yang diselenggarakan oleh Taman Siswa adalah meliputi (1) Taman Indriya, yaitu Taman Kanak-kanak Taman Siswa untuk anak yang berumur antara 5 – 6 tahun, (2) Taman Anak, yaitu setingkat dengan anak SD kelas I – III sekitar 6 atau 7 – 9 atau 10 tahun. Jenjang pendidikan ini terutama untuk jaman wiraga, (3) Taman Muda, yaitu setingkat dengan kelas IV – VI SD untuk anak sekitar umur 10 – 11 sampai dengan 12 – 13 tahun. Jenjang pendidikan ini terutama untuk jaman wicipta, (4) Taman Dewasa, yaitu semacam sekolah Menengah Tingkat Pertama yang lamanyta 3 tahun, (5) Tman Madya atau Taman Dewasa Raya, yaitu merupakan sekolah Menengah Tingkat Atas, tetapi lamanya hanya 2 tahun. Pada jenjang Taman Madya ini terdapat beberapa jurusan yang disediakan, meliputi jurusan : pendidikan, sosial ekonomi, kesusastraan, dan jurusan ilmu pasti alam, (6) Taman Guru, yaitu sekolah untuk menyiapkan calon guru pada Taman Indriya, Taman Muda dan Taman Dewasa. Taman Guru ini meliputi (a) Taman Guru B I, untuk menyiapkan calon guru Taman Anak dan Taman Muda dan Taman Dewasa, (b) Taman Guru B II, untuk menyiapkan calon guru sebagaimana pada Taman Guru B I, tetapi bukan untuk kelas rendah (I tahun sesudah Taman Guru B I), (c) Taman Guru B III, untuk menyiapkan calon guru Taman Dewasa (1 tahun sesudah Taman Guru B II). Pada Taman Guru B III ini diadakan 2 bagian : - Bagian A (Alam / pasti) bagi mereka yang akan mengajarkan mata pelajaran Alam / Pasti. – Bagian B (budaya), bagi mereka yang akan mengajarkan Bahasa, Sejarah dan lain-lain. Taman Guru Indriya, melulu untuk gadis-gadis Taman Dewasa atau sekolah lanjutan lainnya (SMP/ SKP) yang ingin menjadi guru pada bagian Taman Indriya (lama 2 tahun), (7) Taman Pra Sarjana, yaitu pendidikan guru yang bertingkat lebih tinggi dari Taman Guru dan merupakan persiapan calon guru untuk Taman Dewasa Raya, (8) Taman Sarjana, yaitu setingkat dengan kursus B I dengan jurusan Alam pasti, Bahasa dan Ilmu Sosial (disebut juga Sarjana Wiyata).
            Sesuai dengan sifat dan karakteristik Pendidikan Taman Siswa (terutama kultural-nasional) maka bentuk penyelenggara pendidikannya meliputi :

Perguruan
            Yaitu tempat berguru, dimana anak didik mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Selain dipakai sebagai tempat belajar juga berfungsi sebagai tempat tinggal guru, tempat berkumpul, tempat rapat, perayaan, bahkan juga dipakai untuk penginapan. Dengan berbagai fungsi tersebut sehingga dapat menjadikan hubungan guru dan murid akrab dan ada rasa kekeluargaan yang akrab.

Asrama
            Selain guru-guru, murid-murid yang berasal dari tempat lain berdiam di perguruan asrama. Tempat ini terutama sebagai alat pendidikan untuk pendidikan kekeluargaan.
            Pondok asrama untuk putera disebut ”Wisma Priya” dan untuk putri disebut ”Wisma Rini”. Pondok ini selalu berada dalam pengawasan dan sifat kekeluargaan tetap terpelihara. Untuk wisma rini diperhatikan juga soal-soal keputrian, seperti : menjahit, memasak, memelihara kebun, olah raga dan sebagainya.
            Dan tempat ini pulalah diusahakan agar sifat ke-timuran tidak sampai rusak.

Tripusat Pendidikan
            Untuk kesempurnaan penyelenggaraan pendidikan dalam lingkungan perlu ada tiga lingkungan pergaulan. Ketiga lingkungan tersebut adalah : keluarga, perguruan, dan pergerakan pemuda dan lingkungan sosial.
            Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan terpenting karena menurut kodratnya orang tualah yang harus mendidik anak-anaknya, terdorong oleh insting, rasa cinta asli terhadap keturunannya. Lagi pula keadaan, istiadat dan kehidupan keluarga mempengaruhi tumbuhnya budi pekerti tiap manusia, perasaan sosial seperti tolong menolong, tidak mementingkan diri sendiri, patuh, ketertiban, perdamaian, kebersihan, rasa menderita atau bahagia bersama. Juga untuk pendidikan keagamaan, lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama.
            Lingkungan Perguruan, merupakan tempat yang istimewa sebagai pusat pembimbing kecerdasan pikir, memberi ;pengetahuan dan menyiapkan anak mendapatkan mata pencaharian. Tempat ini dapat dikatakan sebagai tempat pengajaran (Balai Wiyata). Macam pendidikan yanglain seperti pendidikan sosial, pendidikan budi pekerti dan pendidikan keagamaan juga mendapat perhatian, tetapi tidak sebegitu besar dibanding dengan pendidikan pikir. Karena itu agar supaya tidak terjadi intelektualisme, individualisme, egoisme dan materialisme, lingkungan ini tidak terpisah dari hidup keluarga.
            Lingkungan sosial atau Pergerakan Pemuda, merupakan lingkungan pendidikan yang membimbing dan mengembangkan anak menuju kedewasaan jiwa, budi pekerti, laku sosial, kecerdasan pikir, yang dilakukan dalam suasana merdeka, sebab dalam perkumpulan ini mereka berusaha bersama, berlatih, bertenaga dan menahan diri untuk mendapatkan pendidikan diri (self-education). Orang dewasa hanya berdiri dibelakang, memberi nasihat jika diperlukan, tidak ada paksaan, dan disinilah letak pentingnya kepramukaan.

Ko-Instruksi
            Dalam menyelenggarakan sistem pendidikan ini tidak diadakan pemisahan antara laki-laki dan perempuan, karena menurut kodratnya berdasarkan kebiasaan dalam keluarga hal ini tidak dilaksanakan. Sistem ini baru diadakan pemisahan laki-laki dan perempuan dalam menerima
Gengan hidup), sedangkan perkara rebutan sejari tanah adalah perebutan negara (melambangkan insting kelanggengan jasmani / penghidupan jasmani), (10) ”Dari Natur kearah kultur” artinya dari kodrat kearah adab, yaitu azas pendidikan yang bersifat kultural dan berdasarkan kodrat alam, (11) ”Syariat tidak dengan Hakikat adalah Kosong”, artinya Tindakan tidak dengan hakikat pasti batal. Maksudnya untuk mencapai keberhasilan tidak cukup memaki laku batin, tetapi harus dengan laku lahir. Atau sebaliknya, suci lahir dan tertibnya batin harus bersamaan, (12) Hing Ngarsa Sung Tulada, Hing Madya Mangun Karsa, artinya didepan berilah teladan (yang baik), di tengah ikut serta membentuk kehendak.

Pendidikan INS
Riwayat Singkat Pendiri INS
            Lembaga pendidikan yang berubah-ubah namanya dari Indonesische Nederlandse School, kemudian Indonesia National School, dan yang terakhir Institut Nasional Syafei, yang juga lebih terkenal dengan nama ”Perguruan Ruang Pendidikan INS” ini didirikan oleh Moch. Syafei. Ia adalah seorang dari seorang guru Inyik Mara Sutan yang selama hidupnya menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran. Ia dilahirkan di Kayutaman, Sumatera Barat pada tahun 1899. ibunya bernama Andung Chalijah.
            Setelah tamat dari Sekolah Rakyat dan Sekolah Guru di Bukittinggi, ia bekerja sebagai guru pada sekolah Kartini di Jakarta selama 6 tahun. Kemudian ia dikirim ayahnya ke negeri Belanda untuk menyempurnakan pendidikannya. Pada tahun 1922 ia bertolak ke sana untuk sekolah atas biaya sendiri. Agar nanti dapat menerima pelajaran dengan baik, mendalam dan cepat, ia tidak langsung masuk ke suatu sekolah, melailnkan mengambil pelajaran privat dari guru yang terkenal dalamilmu yang ia butuhkan. Akhirnya ia dapat menyelesaikan pendidikannya dan dapat ijazah yang meliptui : Ijazah Guru Eropa, Menggambar, Pekerjaan Tangan dan Musik. Dalam kesempatan selama tiga tahun di belanda dimanfaatkan juga mengunjungi beberapa negara lain di Eropa untuk.
Ia datang kembali di tanah air tahun 1925 dalam suasana pergerakan melawan penjajah Belanda. Ia meneruskan perjuangannya dengan menceburkan diri dalam lapangan pendidikan dengan memimpin suatu sekolah di Padang dari kepunyaan perkumpulan pegawai kereta api. Setelah sekolah tersebut diserahkan sepenuhnya kepadanya, pada tanggal 31 Oktober 1926 sekolah itu diberi nama Indonesische atau Indonesia di depan nama Nederland atau Holland. Pemerintah penjajah sendiri tidak pernah memberi nama Indonesia melainkan Indische atau Inlandsche, dan inipun pada sekolah Belanda diletakkan pada urutan kedua, seperti HIS, HIK, NIAS dan sebagainya. Jadi kata Nederland atau Holland selalu diletakkan didepan. Pada sat itu kata Indonische atau Indonesia merupakan momok bagi pemerintah jajahan Belanda.
            Sesudah Jepang menduduki Indonesia, ia memasuki gelanggang politik. Pada tahun 1946 ia diangkat menjadi menteri P dan K dalam Kabinet Syahrir yang kedua. Kemudian ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan pada tahun 1950 anggota DPR Sementara RI. Pada tahun 1968 ia memperoleh gelar Honoris Causa dari IKIP Padang karena jasanya dalam bidang pendidikan. Kemudian meninggal dunia tanggal 5 Maret 1969.

Gagasan, Dasar dan Tujuan Pendidikan
Gagasan
            Bila ia perhatikan sistem pendidikan yang diselenggarakan secara keseluruhan oleh Moch Syafei ini dapat dimasukkan dalam Landersziehungsheime atau Ruang Pendidikan di Desa, tetapi dalam pelaksanaannya lebih menonjolkan sekolah kerja dari Kerschenteiner dan Dewey, terutama dari rencana dan metode pelajarannya. Ruang pendidkan di Desa merupakan suatu sekolah yang ingin menerapkan berbagai dasar aliran baru pendidikan seperti : Pengajaran dengan barang sesungguhnya (J Ligthart), pendidikan individual (Montessori). Sistem Dalton, belajar sendiri dan hubungan kelas yang lebih longgar (Parkhurst), pengajaran projek (Dewey), Arbeitsschule (Kerschenteiner), Pendidikan kepribadian (Scheibner), pendidikan watak (Foerster), metode pusat perhatian, pelajaran totalitas, pelajaran di desa (Decroly).
            Untuk memenuhi dasar-dasar tersebut didirikan suatu sekolah besar dengan tuntutan sebagai berikut : (1) Memberi pendidikan dan pengajaran kepada murid sekolah rendah sampai sekolah tinggi, (2) Sekolah merupakan suatu sekolah keluarga besar, terdiri atas guru dan murid, (3) Sekolah berada dalam lingkungan alam bebas atau desa, dan (4) Kegiatan memakai pengalaman anak terutama pengalaman pekerjaan tangan dalam arti yang luas, sebagai dasar pendidikan kecerdasan maupun pendidikan budi pekerti.
            Sekolah yang memenuhi tuntuttan tersebut dinamai Ruang Pendidikan di desa.
            Karena untuk menyelenggarakan sekolah yang memenuhi tuntutan secara keseluruhan tersebut sulit, dalam pelaksanaan pendidikan yang diselenggarakan oleh Moch. Syafei lebih menonjol adanya pengaruh Kerschenteiner dan Dewey dengan aliran sekolah kerjanya. Ia berpendapat bahwa anak-anak kita perlu belajar bekerja, sehingga mereka pandai mempergunakan tangannya, disamping otaknya. Hendaknya anak-anak diajarkan sesuatu pekerjaan yang sesuai dengan pembawaan dan kemauannya bagi penghidupannya kelak. Sekaligus hal ini merupakan reaksi pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah jajahan yang hanya mempersiapkan sebagai buruh pemerintah / perusahaan milik orang asing. Ia juga ingin membentuk pemuda-pemuda Indonesia berani bertanggung jawab, berani berdiri sendiri, membuka perusahaan sendiri, hidup bebas dan tidak tergantung pada orang lain.
            Selain itu seperti halnya Kihajar dewantara, Ia menentan Intelektualisme yang hanya mementingkan pembentukan akal sehat saja. Pendidikan harus memperhatikan perkembangan secara utuh, meliputi kesatuan jiwa dan raga, sebagai individu dan anggota masyarakat dan kesatuan kepribadia yang lainnya yang selaras, tidak sepihak saja.

Dasar Pendidikan
            Karena pendidikan INS ini dimasukkan dalam Ruang Pendidikan di Desa, maka dasar yang dipakai sejajar dengan Ruang Pendidikan di Desa tersebut. Adapun dasar pendidikan INS adalah meliputi :

Berpikir secara logis dan rasional
            Karena pada masa itu masih banyak anggota masyarakat Indonesia yang menggunakan cara berpikir yang berdasarkan takhayul, mistik dan irrasional, maka cara berpikir yang demikian harus diubah dengan cara berpikir logis, rasional, cocok dengan akal sehat.

Kegiatan atau Keaktifan
            Dengan menyadari betapa besarnya pengaruh keaktifan anak untuk watak, pikir dan pengalaman kehidupan dalam masyarakat, maka INS mempergunakan keaktifan dan keterlibatan kegiatan sebanyak-banyaknya dalam pendidikan dan pengajaran agar anak bekerja secara teratur dan intensif. Pendidikan dengan dasar ini dimaksudkan juga untuk memperbaiki keadaan masyarakt agar tidak menyia-nyiakan sesuatu, praktis, efisien, sesuai dengan kebutuhan apa yang dikerjakan / dipelajari.
            Sesuai dengan ciri utamanya INS dengan prinsip sekolah kerja adalah anjuran ”Cari Sendiri. Kerjakan Sendiri” yang selalu disampaikan kepada anak didiknya.

Pendidikan Kemasyarakatan
            Kegiatan pendidikan dan pengajaran pada INS lebih banyak diarahkan kepada kegiatan kemasyarakatn seperti bekerja bersama-sama dan berkoperasi. Sehingga pendidikan yang diselenggarakan bersifat praktis, tidak terlepasa dari kebutuhan masyarakat.

Memperlihatkan Pembawaan Anak
            Anak yang ternyata pandai dan mempunyai bakat kesanggupan dalam suatu mata pelajaran, setelah mengikuti semua pengajarn mendapatkan pendidikan lebih lanjut dan mendalam untuk menyempurnakan bakat hingga ia dapat menjadi ahli dalam fak itu.

Menentang Inetelektualisme
            Pendidikan yang dilaksanakan di INS tidak sekedar hanya pandai intelektualnya, melainkan juga harus meliputi pendidikan keindahan, pengembangan rasa tanggung jawab dan pendidikan keagamaan.
   Pendidikan keindahan terutama dipentingkan  Pendidikan keindahan terutama dipentingkan vak ekspresi, misalnya dengan mengadakan pertunjkan mengatur gedung dan halaman bersama dan sebagainya.
Pendidikan untuk pengembangan rasa tanggung jawab dilakukan dengan berbagai kegiatan, mulai dari proses penndiriaanya INS sampai dengan proses perkembangaanya semua dilakukan dengan bekerja sendiri dan berdini sendiri tedak menerima bantuan yang mengikat hidup INS.
Sedangkan pendidikan keagamaan diberi kesempatan berkembang luas yang bersih jauh dari kepicikan dan kekolotan.

Tujuan Pendidikan
Sesuai dengan dasar pendidikan yang dipakai, maka secara ringkas tujuan pendidikan dan pengajaraannya adalah mendidik anak‑anak agar dapat berpikir socara rasional, bekerja beraturan dan sungguh‑sungguh, rnembentuk manusia yang berwatak, menanamkan rasa persatuan, mem­bentuk manusia yang bebas dan merdeka serta percaya diri dan berani bertanggung jawab dan  membentuk sebagai pemuda yang aktif mengabdi dan membangun masyarakat.

MATERI DAN METODE PENDIDIKAN
Dalam lembaga pendidikan INS, materi yang paling dipentingkan terutama materi pelajaraan ekspresi seperti menggambar dan musik, bahkan selalu diberikan sendiri oleh Moch. Syafei.
Materi pelajaran menggambar meliputi latihan membuat klise dari kayu yang hasiInya banyak dipakai rnenghias "Rantai Masmajalah pelajar INS sendiri.
Materi pelaiaran musik meliputi latihan-latihan seni suara, bermain biola, gitar, seruling. Disamping itu diberikan juga seni tari secara mendalam dan latihan-latihan sandiwara.
Pekedaan tangan meliputi seluruh pengajaran, bahkan menjadi bentuk pelajaran. Anak‑anak bekerja di bengkel dan diruangan kerja lainnya, di kebun serta menghasilkan barang‑barang yang dapat dijual melayani perguruan.
            Pendidikan jasmani mendapat perhatian secukupnya. Di samping gerak badan biasa, sepak bola, berenang, bertenis ditempat yang mereka, buat sendiri.
Pendidikan budi pekerti diberikan dengan menanamkan rasa ke­agamaan yang bersih dari sifat‑sifat kekolotan dan kepicikan serta modern dan rasional.
            Bahasa Indonesia baik sebagai pengantar maupun sebagai mata pelajaran diberikan dan dilaksanakan disernua jenjang pendidikan. Bahasa Inggris hanya diberikan diruang Atas dan lebih dilpentingkan dari bahasa Belanda karena untuk digunakan secara internasional. Sedangkan bahasa Belanda sebagai pengetahuan saja dan secara pasif.
            Mata pelajaran lainnya seperti ilmu Burni, Sejarah dan berhitung dan sebagainya juga diberikan di pendidikan INS.
            Adapun sistern dan metode yang dipakai dalam penyelenggaraan pendidikan INS ini dilaksanakan sesuai dengan sistem, yang dipakai dalam Ruang Pendidikan di Sekolah Desa, dan sekolah kerj kerschen­teiner dan Dewey. Karena sistern itu secara keseluruhan tidak mungkin dapat dilaksanakan dan dengan disesuaikan kondisi Indonesia, maka sebagai gambarannya dapat dilihat dari pelaksanaan penyelenggara­annya sebagai berikut.
            Ketika pendidikan INS itu mulai dipimpinnya semua atat pelajaran dan keperluan pelajaran lainnya sangat sederhana, bahkan serba ke­kurangan. Murid‑murid pertama sebanyak 110 orang tidak duduk di atas bangku, tetapi di atas tikar. Sesudah 9 bulan lamanya secara .bergatong royong murid‑murid mendirikan sebuah bangsal yang seder­harna berkaki satu dan ditanamkan ke dalam tanah. Bahan‑bahan yang dipergunakan diambil dari lingkungan sekitar. Meskipun semuanya serba sederbana tetapi mengandung arti yang besar, karena semuanya dilakukan dan usaha murid sendiri yang dilakukan secara, bemamaan.
            Karena sekolahnya makin lama makin maju sekolah dipindahkan ke sebidang tanah 3 bau luasnya, yang asalnya hutan belukar. Dengan kemaun yang kuat, anak‑anak membongkar hutan itu. Bahan‑bahan dikumpulkan bambu ditebang, batu diangkut dari sungai, maka segeralah mulai mendirikan (1) Lima bangsal sekolah, tempat mereka belajar, yang masing‑masing berukuran 7 X 35 meter. Semua serba sederhana. Tiangnya dan kayu, dinding dari bambu, atap dan daun rumbia, (2) Sebuah pondok, yang didirikan dekat bangsal‑bangsal itu, sebagai tempat kediaman pemimpin sekolah dan terbuat sebagai mana pada bangsal tersebut, (3) Bangsal‑bangsal tempat belajar bertukang kayu, mengedakan besi, kaleng, mengayam, membuat keramik dan patung dari tanah.
            Semuanya itu dibedakan sendiri oleh murid‑murid dengan bantuan dan petunjuk dari dua orang tukang.
Pada perkembangan selanjutnya mengalami perluasan dan mern­punyai tempat‑tempat untuk bertukang, bersandiwara, berolah raga, mempunyai kolam renang, kebun‑kebun pertanian dan toko koperasi, yang semuanya itu bermula dari hutan belukar yang berawa‑rawa dan berbukit-bukit yang dimulai sejak tahun 1932.
            Setelah anak‑anak selesai merambah hutan belukar dan menimbun rawa‑rawa, kemudian mengumpulkan bahan‑bahan untuk membangun gedung sekolah yang baru. Murid giat mengumpulkan uang dengan cara mengadakan pertunjukkan sandiwara, pameran hasil pekerjaan tangan, untuk membeli keperluan yang tidak dapat diadakan sendiri. Juga menerima bantuan dari beberapa dermawan.
            Setelah selesainya bangunan‑bangunm baru yang lebih kokoh dan rapi berupa gedung sekolah, rumah‑rumah guru, pesanggrahan dan asrama yang dapat menampung 300 orang murid, ruang makan, ruang dapur. tempat kerja, gedung kesenian, tempat bermain tennis, tempat bemain bola, tempat berenang dan tempat taman bacaan. Kemudian pada tahun 1939 pindah lagi kesernuanya menempati sekolah yang baru di Pela-bihan, 2 km dari Kayutaman. Ruang Pendidikan yang waktu itu mempunyai ± 600 orang anak didik itu merupakan sebuah masyarakat kecil yang senantiasa sibuk dan membangun.
            Usaha‑usaha tersebut pada perkembangan selanjutaya tidak selalu mengalami kemajuan. Hal ini bukan karena faktor dari pihak INS senddir tetapi semata‑mata karena faktor dari INS. Misalnya pada perang dunia II, dimana Belanda menduduki Indonesia, sekolah dihentikan dan semua murid disuruh pulang, hanya tinggal 80 orang yang ikut ke gedung bersama dengan Moch. Syafei.
            Pada jaman Jepang INS boleh bekerja kembali tetapi semuanya berjalan serba sukar, alat pelajaran serba kekurangan dan sulit didapat, dan INS banyak dipakai sebagai tempat bekerja dan berlatih guna kepentingan peperangan Jepang sehingga pelajaran sangat merosot. Bahkan pada jaman kemerdekaan, ketika Belanda menduduki kembali di Indonesia tahaun 1948, demi kepentingan Indonesia merdeka, agar INS tidak jatuh ke tangan Belanda, maka usaha selama 22 tahun dengan cucuran keringat dan dengan susah payah, juga dengan didirikannya Ruang Pendidikan dan pengajaran yang membuat INS semakin megah dan terkenal itu, akhirnya dibumihanguskan oleh tentara kita sendiri. Kemudian baru tahaun 1949 Moch Syafei turun dari pengungsian dan mendapatkan INS seakan-akan sebagai rimba kembali dan memulai lagi dari awal. Baru tahun 1950 INS dapat dikatakan mulai bangkit kembali dengan usaha berbagai macam akhirnya dapat dibangun kembali sekitar 20 persen dari pembangunan seluruhnya yang telah dilaksanakan.

JENJANG DAN JENIS PENDIDIKAN
            Pada jaman Belanda pendidikan INS ini terbagi atas dua tingkatan atau ruangan, yaitu ruang atas dan ruang bawah. (1) Ruang Bawah, setingkat sekolah rendah. Lama belajarnya berlangsung selama 7 tahun. Pelajaran terbagi atas 2 bagian : pelajaran teori meliputi 75% dan pelajaran praktik 25% dari seluruh jam pelajaran. Pelajaran diberikan pada pagi hari dan sore hari, (2) Ruang atas, setingkat sekolah menengah. Lama belajar 6 tahun. Pada tingkat ini pelajaran di Ruang Bawah diperdalam dan diperluas. Pelajaran praktik meliputi 50% dari seluruh waktu belajar. Setelah menyelesaikan pendidikan pada tingkat ini, murid diserahkan langsung kepada masyarakat untuk memberikan darmanya.

SOAL‑SOAL LATIHAN I
jawablah semua pertanyaan berikut ini:
1.   Mengapa teori empirisme, nativisme, naturatisme dan konvergens disebut teori klasik?
2.   Jelaskan perbedaan pengertian pertumbuhan dan perkembangan?
3.   Kelompokkan empat teori klasik ke dalam dua faktor, perkem­bangan kemudian jelaskan hubungan kedua faktor tersebut terhadap perkembangan anak didik?
4.      Jelaskan yang dimaksud dengan toori empirisme?
5.      Jelaskan yang dimaksud dengan teori nativisme ?
6.      Jelaskan yang dimaksud dengan teori naturalisme?
7.      Jelaskan yang dimaksud dengan teori konvergensi?
8.   Jelaskan perbodaan faktor pembawaan dan faktor lingkungan yang ada pada masing‑masing teori epirisme, nativisme, naturatisme, konvergeasi !
9.      Jelaskan kemungkinan usaha pendidikan dilihat dari:
    a. teori empirisme,
    b. teori nativisme,
    c. teon naturalisme, dan
    d. toori konvergensi, .
10.  Jelaskan tentang pendidikan yang seharusnya dilakukan menurut teori   
      naturalisme (Rousseau) !
11.  Kemukakan pendapat Saudara tentang teori konvergensi terhadap kenyataan pelaksanaan pendidikan !

SOAI‑SOAL LATIHAN II
Jawablah semua soal berikut ini:
  1. Jelaskan mengapa Pendidikan Taman Siswa dan Pendidikan INS merupakan aliran pokok yang utama dan bagaimana latar belakang pendiriannya!
  2. Jelaskan bagaimana penilaian Kihajar Dewantara terhadap pendidikan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pemerintah jajahan Belanda dan usaha‑usaha yang dilakukannya terhadap kebijakan pendidikan tersebut!
3.      Jelaskan perbedaaan antara azas Pendidikan Taman Siswa 1922 dengan Dasar‑dasar Pendidikan Taman Siswa 1947 dilihat dari latar belakang, isinya dan penggunaannya! .
4.      Identifikasikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan alasannya menurut pandangan Kihajar Dewantara jika guru selalu menggurui anak!
5.      Apa yang dimaksud dengan sistern Among, bagaimana konsekuen­sinya peran mendidik dan prinsip‑prinsip apa saja yang harus di­perhatikan dalam memperlakukan anak didik dalam PBM?
6.      Jelaskan bagaimana hubungan Sistem Among dengan Tut wuri Handayani, Ing Pgarsa Sung Tulada, dan Ing Madya Mangun Karsa dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran!
7.      Jelaskan 4 usaha bentuk organisasi penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran beserta, tujuan dan alasanya dalam melaksanakan Sistern Among!
8.      Jelaskan mengapa INS merupakan Pendidikan Ruang di Desa dan Sekolah Kerja! Sorotilah dari sudut tujuan, sifat dan pelaksa­naannya!
9.      Jelaskan bagaimana pelaksanaan proses pengajaran INS dalarn mewujudkan dasar keaktifan, kemasyarakatan, dan menentang intelektualisme! Kaitkan dengan salah satu pelajaran tertentu!
  1. Berikan gambaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran sebagai ciri‑ciri yang menonjol dalam menerapkan konsep sekolah kerja pada pendidikan INS!

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi A. 1987. Pendidikan dari Masa ke Masa. Bandung: Armico.
Arbi, S.Z & Syahrun, S. 1992. Dasar‑Dasar Kependidikan. Jakarta: Projek Pembinaan Tenaga Kependidikan, Dikti, Depdikbud.
Bahar, H.A‑ 1989. Dasar‑Dasar Kependidikan. Jakarta: Projek Lembaga, Pendidikan,Tenaga Kependidikan, Depdikbud.
Depdikbud‑ 1984/1985. Kemampuan Dasar Pendidikan. Buku II Modul  Wawasan Kependidikan Guru. Jakarta: Universitas Terbuka.
Dewantara, K. H 1977. Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Djumhur, I & Danaparta, H. 1976. Sejarah Pendidikan. Bandung: Ilmu,
Ekosusilo. M & Kasihadi R‑B. 1988. Dasar‑Dasar Pendidikan. Semarang: Effhar Publising.
Indra Kusuma, A.D. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Mudyahardjo, R. & Rasyidin,. W. & Soegiyanto, S. 1992. Dasar‑Dasar Kependidikan: Modul 1‑6. Jakarta: Projek Pembinnan Tenaga Kependidikan Pendidikan Tinggi Depdikbud.
Purwanta, M.N. 1986. Ilmu Pendidikan: Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Karya.
Soejono, A.G. 1980. Ilmu Pendidikan Umum. Bandung: Ilmu.
Soejono. A.G. 1989.  A liran Baru dalam Pendidikan. Bandung: Ilmu.
Suparlan, Y.B. 1984. Aliran‑Aliran Baru Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.
Tim Dosen FIP IKIP MALANG. 1981. Pengantar Dasar‑Dasar Kepen­didikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Toen Lioe, A.J.E. 1983. Sejarah Pendidikan di Indonesia Malang: FIP IKIP MALANG.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar